DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, kebutuhan darah di berbagai rumah sakit diperkirakan meningkat seiring bertambahnya jumlah pasien dengan penyakit kronis, kondisi darurat, serta kebutuhan operasi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ketua PMI Kota Banda Aceh, Ahmad Haeqal Asri, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan gerakan donor darah yang akan digelar di masjid-masjid dan sejumlah warung kopi selama bulan Ramadan.
Menurutnya, langkah ini dilakukan karena frekuensi donor darah biasanya menurun selama Ramadan, sementara kebutuhan pasien tetap tinggi bahkan cenderung meningkat.
Karena itu, PMI sejak jauh hari telah memacu kegiatan donor darah sebelum memasuki bulan puasa guna menjaga kestabilan persediaan.
“Alhamdulillah, stok darah saat ini masih dalam kondisi aman berkat percepatan kegiatan donor yang kami lakukan sebelum Ramadan. Namun, kami memprediksi kemungkinan terjadi penurunan selama bulan puasa, sehingga kegiatan lapangan tetap kami siapkan agar stok tetap terjaga,” ujarnya saat dimintai tanggapan oleh media dialeksis.com, Selasa (17/2/2026).
Haeqal menjelaskan, kegiatan donor darah selama Ramadan akan dimulai sekitar hari ke-7 atau ke-8 dengan menyasar masjid-masjid yang menjadi pusat aktivitas ibadah masyarakat dan ada bagi-bagi takjil juga.
Program tersebut kemudian akan diperluas menjelang akhir Ramadan ke sejumlah warung kopi yang ramai dikunjungi warga pada malam hari, sehingga memudahkan masyarakat yang ingin mendonorkan darah tanpa harus datang langsung ke Unit Donor Darah.
“Kita juga memaksimalkan kegiatan donor darah di dalam gedung dengan menambah kapasitas tempat tidur donor dibanding hari biasa agar pemenuhan kebutuhan darah bisa lebih optimal dan respons terhadap kondisi darurat akan semakin cepat," ujarnya.
Kebutuhan darah di Aceh dinilai tetap tinggi, terutama untuk pasien talasemia, anemia, gagal ginjal, korban kecelakaan, hingga pasien yang menjalani operasi besar.
Komponen sel darah merah menjadi yang paling banyak dibutuhkan karena berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh dan sangat diperlukan pada kondisi kehilangan darah akibat pendarahan maupun gangguan produksi sel darah merah.
Selain itu, kondisi pascabencana banjir di sejumlah daerah juga turut meningkatkan kebutuhan transfusi darah, karena korban bencana rentan mengalami gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis intensif.
Haeqal menegaskan bahwa keberlanjutan stok darah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat sebagai pendonor sukarela.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai kebiasaan rutin, bukan hanya menjelang Ramadan, tetapi sepanjang tahun.
“Donor darah adalah bentuk kepedulian sosial yang nyata. Kami berharap masyarakat tetap berpartisipasi aktif sehingga kebutuhan darah pasien dapat terpenuhi tanpa kendala, terutama selama Ramadan ketika jumlah pendonor biasanya berkurang,” tutupnya. [nh]