Beranda / Berita / Aceh / Perempuan Aceh Adalah Srikandi Kuat

Perempuan Aceh Adalah Srikandi Kuat

Selasa, 14 Desember 2021 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Ir. Mawardi, saat menyampaikan sambutan pada acara Peringatan Puncak Hari Ibu ke-93 tahun 2021 di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa, (14/12/2021). [Foto: IST] 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Memperingati Hari Ibu ke 93 Tahun 2021, Gubernur Aceh yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Aceh, Mawardi, mengatakan, perempuan Indonesia khususnya Aceh, merupakan srikandi-srikandi kuat yang mampu bangkit melampaui berbagai tantangan di tengah terpaan kondisi apapun.

Hal itu disampaikan Mawardi dalam sambutannya pada peringatan Hari Ibu ke 93 Tahun 2021, yang mengusung tema "Perempuan Berdaya Indonesia Maju" di Ajong Mon Mata, Selasa (14/12/2021).

“Melalui peringatan Hari Ibu ke-93 ini Saya berharap kita dapat merayakan dan memaknai berbagai kemajuan yang berhasil diraih oleh perempuan, sekaligus mengingat bahwa perjuangan masih panjang dan harus tetap dilanjutkan,” kata Mawardi.

Ia menyebutkan, dengan jumlah perempuan yang mengisi hampir setengah dari populasi Indonesia, sepatutnya kaum perempuan akan menjadi kekuatan bagi kemajuan bangsa. Maka itu, semua pihak, baik perempuan maupun laki-laki, harus mendorong pelibatan peran serta perempuan dalam segala bentuk dan sektor pembangunan.

Jika menilik kepada sejarah, kata Mawardi, perjuangan para perempuan bukanlah hal yang mudah. Sebab para perempuan-perempuan Indonesia khususnya Aceh dengan gagah berani menembus batas-batas sosial, bersuara untuk ikut memperjuangkan hak-hak kaumnya bersama-sama dengan kaum laki-laki untuk meraih kemerdekaan.

Sehingga pada akhirnya, konstitusi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 telah mencantumkan, untuk menjamin kesetaraan bagi seluruh rakyat Indonesia, dan hal itu termasuk kaum perempuan.

“Hingga saat ini, banyak kemajuan yang dirasakan oleh perempuan walaupun kesetaraan ideal yang dicita-citakan belum sepenuhnya tercapai,” ujar Mawardi.

Ia mengatakan, faktor budaya patriarki yang telah mengakar selama berabad-abad dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, mengakibatkan, perempuan masih harus menghadapi berbagai permasalahan yang mengancam kualitas hidupnya.

Maka itu pemberdayaan perempuan saat ini masih harus menghadapi beragam tantangan, rintangan dan hambatan. Namun ada satu hal yang tidak berubah, yaitu perempuan Indonesia tetaplah sosok-sosok tangguh, kuat dan berani dalam menjadi penopang hidup kaumnya dan menjadi sebaik-baiknya ibu bangsa.

Maka itu, peringatan Hari Ibu ke-93 ini diharapkan menjadi momen penting untuk mendorong gerakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan demi mewujudkan 5 isu prioritas perempuan yaitu: peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan, peningkatan peran keluarga dalam pendidikan anak, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penurunan pekerja anak, serta pencegahan perkawinan anak.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati, mengatakan penting untuk memperkuat kembali peran perempuan Aceh di ruang publik, sehingga mampu memotivasi dan membuktikan pada dunia bahwa kinerja kaum perempuan di Aceh, tidak kalah dengan laki-laki.

“Kita semua harus memaknai Hari ibu ini dengan semangat berkarya untuk siap tampil di depan, dalam berbagai aktivitas pembangunan di daerah kita. Melalui peringatan Hari Ibu ini, kami mengajak perempuan Aceh untuk bangkit bersama-sama, dan terlibat dalam berbagai gerak pembangunan di daerah ini.” kata Dyah.

Ia mengingatkan, para kaum perempuan tidak boleh pesimis dan berpikir bahwa kaum ibu hanya bertanggungjawab untuk urusan-urusan rumah tangga. Kaum Ibu justru harus lebih banyak terlibat dalam pendidikan dan ketahanan ekonomi keluarga serta berkarya dalam berbagai bidang pembangunan lainnya. Dengan demikian, semangat egalitarian yang dulu pernah diterapkan di Aceh, dapat kembali bergema di era modern ini.

“Hampir 50 tahun sistem kesultanan di Aceh, pernah dipimpin oleh Sultanah, termasuk 34 tahun di masa kepemimpinan Ratu Shafiatuddin. Kerajaan Aceh juga memiliki banyak tokoh perempuan sebagai panglima perang. Jadi, kalau berkaca kepada sejarah masa lalu, perempuan Aceh pada dasarnya adalah perempuan pejuang,” ungkap Dyah.

Namun, ia menyayangkan, di era modern, peran tersebut mengalami degradasi.

Karena itu, kita perlu diperkuat kembali peran perempuan Aceh di ruang publik agar bangkit bersama-sama dan terlibat dalam berbagai gerak pembangunan di daerah.

“Kita harus menyadarkan semua perempuan di Aceh, bahwa masalah gender tidak pernah membatasi ruang gerak kita untuk berkiprah di lingkungan masyarakat. Harapan saya, perempuan Aceh bisa terus menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan pejuang, yang berdaya dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Bangsa dan Negara,” katanya.

Turut hadir menghadiri peringatan tersebut Kepala Bank Indonesia Wilayah Aceh, Direktur Bank Aceh, Pengurus Tim Penggerak PKK Aceh dan Ketua Tim Penggerak PKK Kab/Kota se-Aceh, Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh, Ketua Bhayangkari, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, Ketua Pia Ardhya Garini, Ketua Adhyaksa Dharma Karini Aceh, serta perwakilan berbagai organisasi perempuan yang ada di Aceh.

Pada puncak Peringati Hari Ibu ke 93 Tahun 2021, di isi dengan rangkaian acara mulai dari penyerahan bantuan secara simbolis untuk 2 kelompok usaha bersama (KUBE) oleh Ketua PKK Aceh dengan total bantuan 968.619.000 rupiah dari Muzakki Baitul Mal Aceh.

Kemudian, penyerahan bantuan secara simbolis pada 2 orang mustahik PEKA pada senif Fakir dengan jumlah penerima 27 orang Mustahik, masing-masing sebesar 2 juta rupiah perorang, penyerahan bantuan 1 unit kursi roda, serta penyerahan penghargaan bagi 2 orang Guru PAUD Inspiratif 2.

Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi hari ibu oleh Kemalawati. Kemudian dilanjutkan dengan menampilkan berbagai busana muslimah hasil rancangan 4 designer lokal, yakni, Neilisman Amin (The Beauty Of Sarung), Khairul Fajri Yahya (Ija Krong), Syukriah Rusyidi (Quarzazate), Lisdayanti (Bajeemaa Syar’i), dan busana karya kolaborasi designer binaan Bank Indonesia.

Acara itu menerapkan protokol kesehatan ketat, yakni memakai masker dan menjaga jarak. 

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
Komentar Anda