Beranda / Berita / Aceh / Peradaban Aceh, Dr Sehat: Paling Penting Adalah Ilmu Pengetahuan dan Kearifannya

Peradaban Aceh, Dr Sehat: Paling Penting Adalah Ilmu Pengetahuan dan Kearifannya

Minggu, 07 Agustus 2022 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : fatur

Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.Ag. [Foto: For Dialeksis]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Peradaban Aceh sampai saat ini menjadi sebuah histortik tersendiri bagi dunia. Dari sejarah, adat dan budaya, literasi, dan masih banyak lagi.

Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.Ag menjelaskan, pertama perlu telusuri dulu Apa yang dimaksud dengan peradaban Aceh. “Pada dasarnya peradaban adalah sebuah kemajuan atau hasil Cipta Karya Karsa manusia yang terwujud di dalam di dalam sesuatu baik berbentuk benda, ilmu pengetahuan, karya sastra, artefak, bangunan, dan lain sebagainya,” ucapnya kepada Dialeksis.com, Sabtu (6/8/2022).

Dirinya mengatakan, ketika berbicara tentang peradaban Aceh itu artinya Kita sedang berbicara tentang beragam kemajuan yang telah diperoleh oleh masyarakat Aceh yang itu menjadi sebuah identitas bagi mereka.

“Tentu saja sepanjang sejarah Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 1000 tahun ada banyak peradaban yang muncul sebagai hasil karya, kontemplasi, cinta, filsafat hidup masyarakat Aceh di masa lalu yang terwujud di dalam beragam bentuk karya. Beberapa di antaranya masih terlihat di dalam sistem kehidupan sosial masyarakat terutama di pedesaan,” ujarnya. 

Baginya, peradaban Aceh yang sesungguhnya dan yang paling penting adalah peradaban ilmu pengetahuan dan kearifannya. “Di atas dari peradaban berbentuk fisik peradaban pengetahuan seringkali berbentuk abstrak yang tidak terlihat secara langsung namun berwujud dalam karya tulis,” sebutnya.

Lanjutnya, Ia menjelaskan, pada masa lalu peradaban Aceh terkait dengan pengetahuan dapat dilihat dari karya-karya ulama besar yang karya tersebut masih dipakai hingga saat ini.

“Manuskrip karya ulama Aceh terdahulu terdapat di berbagai perpustakaan di dunia saat ini. Itu menunjukkan betapa pada masa lalu ada sebuah peradaban literasi pengetahuan yang sangat tinggi di Aceh,” ujarnya. 

Oleh sebab itu, Ia mengatakan, pemeliharaan terhadap peradaban sesungguhnya bukan tanggung jawab satu pihak saja namun tanggung jawab bersama masyarakat.

“Kita tidak bisa mengatakan pemerintah telah mengabaikan tanggung jawab memelihara peradaban atau sebaliknya masyarakat tidak memelihara peradaban. Ketika kedua belah pihak tidak memiliki semangat dalam pemeliharaannya, maka peradaban itu akan punah dan diganti dengan sebuah peradaban baru,” ungkapnya. 

Ia menyebutkan, pemerintah mungkin dapat berperan dalam menjaga bentuk fisik dari sebuah peradaban. Banyak peninggalan yang ada di Aceh saat ini harusnya dijaga dan dilestarikan.

Bahkan peninggalan tersebut bisa dikomodifikasi untuk mendapatkan penghasilan bagi daerah. Hal ini telah banyak dilakukan oleh negara-negara yang lain di mana mereka menjadikan peninggalan masa lalu sebagai sumber penghasilan pariwisata.

“Dan saat ini komodifikasi peninggalan masa lalu telah menjadi sebuah sumber pendapatan daerah non pajak yang sangat diminati,” ujarnya lagi. 

Di sisi lain masyarakat juga perlu semangat membangun peradaban yang sesuai untuk masanya.

“Harusnya kita tercermin kepada sebuah konteks peradaban masa lalu yang telah dibangun oleh ulama-ulama dan cerdik pandai yang menghasilkan berbagai karya yang bertahan lama di dalam masyarakat. Konstruksi sosial masyarakat yang ada saat ini pun sedikit banyak dipengaruhi oleh konstruksi yang dibangun oleh nenek moyang kita di masa lalu. Inilah yang harus dijaga dan disesuaikan dengan konteks perkembangan saat ini,” katanya.

Menurutnya, pengabaian terhadap penjagaan dan pelestarian peninggalan peradaban Aceh masa lalu seringkali disebabkan oleh budaya instan dan keinginan untuk dapat menghasilkan pendapatan ekonomi secara cepat.

“Hal ini juga disebabkan karena rendahnya kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh aparatur Pemerintah dalam melakukan komunikasi terhadap peninggalan peradaban. Mereka tidak mencoba berbagai kemungkinan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari peninggalan masa lalu sekaligus melestarikan warisan nenek moyang tersebut untuk tujuan penelitian, pendidikan, sejarah dan juga preatise,” sebutnya. 

Di sisi lain tundanya juga ketertarikan anak muda dalam mengenal dan apalagi melestarikan peradaban masa lalu. Mereka lebih sering tertarik dengan sebuah bangunan baru budaya populer yang menyebar melalui media sosial.

Di sisi lain juga mereka tidak dapat menjadikan budaya sendiri untuk dikomodifikasi menjadi budaya populer yang dapat berkembang melalui media sosial ke seluruh belahan dunia. 

“Padahal apa yang mereka konsumsi sebagai budaya Pop itu juga sebuah konstruksi peradaban dari masyarakat lain di dunia,” katanya. 

“Kita tidak mungkin terus berada pada sebuah model peradaban tanpa bergerak dan berubah. Dunia berubah dengan sangat cepat dan di sana kita membutuhkan penyesuaian yang sangat cepat pula,” ujarnya.

“Peradaban masa lalu bisa jadi tidak cocok untuk zaman sekarang namun nilai-nilai yang dikandungnya tetap dapat diterapkan pada peradaban baru sepanjang zaman. Inilah yang harusnya dijaga dan dilestarikan. Harus ada kebijakan proaktif dari pemerintah dan ketertarikan yang kuat dari masyarakat untuk melestarikan hal-hal yang baik pada masa lalu dan membangun hal-hal yang baik untuk konteks masa sekarang,” ungkapnya.

“Inilah yang dapat dilakukan oleh generasi muda saat ini. Mereka harus mampu menghasilkan sebuah perwujudan baru peradaban Aceh masa lalu dalam wajah yang kekinian. Media sosial memungkinkan anak muda menyiarkan nilai-nilai peradaban Aceh ke dalam masyarakat internasional,” tambahnya.

Bahkan di satu sisi yang lain, katanya, mereka dapat menjadikan peradaban Aceh sebagai ciri yang melekat pada hidup mereka sehingga teridentifikasi sebagai masyarakat Aceh.

Bahkan saya sangat meyakini bahwa kemampuan melakukan komunikasi atas sebuah peradaban dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi masyarakatnya.

“Sebab masyarakat kita saat ini di seluruh dunia memiliki kecenderungan untuk menggali sesuatu yang khas, sesuatu yang spesifik atau sesuatu yang sangat lokal sehingga itu menjadi unik. Peluang-peluang seperti ini dapat dijadikan oleh anak muda sebagai sebuah terobosan baru yang di satu sisi dapat menghasilkan manfaat ekonomi tapi di sisi yang lain Mereka telah menjaga peradaban mereka sendiri,” pungkasnya. [ftr]

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda