Beranda / Berita / Aceh / Pengamat Politik Nilai Taqwallah Suka Campuri Tugas Teknis Kepala Dinas

Pengamat Politik Nilai Taqwallah Suka Campuri Tugas Teknis Kepala Dinas

Kamis, 14 Januari 2021 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Akhyar
Pengamat Politik Aceh sekaligus Direktur The Aceh Institute, Dr Fajran Zain. [IST]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pengamat politik Aceh sekaligus Direktur The Aceh Institute, Dr Fajran Zain menilai sikap Sekretariat Daerah (Sekda) Provinsi Aceh, H Taqwallah terlalu over dosis atau off-side dalam bekerja.

Hal itu ia sampaikan karena Sekda Aceh dinilai suka mencampuri tugas-tugas teknis kepala dinas.

"Ambil kasus misalnya pada bulan Desember kemarin. pada waktu itu, beliau kan mengadakan rapat dengan kepala-kepala sekolah dan guru-guru. Yang sebenarnya itu bukan tugas beliau. Berikanlah kewenangan itu kepada kepala dinas, nanti beliau tinggal bilang saja, tolong kepala dinas buat rapat, nah begitulah kira-kira," kata Fajran saat dihubungi Dialeksis.com, Kamis (14/1/2021).

Fajran bercerita, ketika ia bersilaturahmi bersama alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh di Pendopo Wakil Gubernur (Wagub) tempo lalu, ia pernah mendengar pernyataan langsung dari Nova Iriansyah yang mengeluh kewalahan menghadapi sekda.

"Beliau sendiri menyampaikan bahwa beliau juga kadang-kadang kewalahan menghadapi Sekda yang cenderung off-side," kata Fajran.

Sementara itu, Fajran tidak menyoalkan permasalahan stamina ekstra yang dimiliki Sekda Aceh, Taqwallah. Karena Fajran juga bersepakat bahwa Gubernur Aceh juga membutuhkan orang-orang seperti Taqwallah. 

Akan tetapi, lanjut Fajran, sikap Sekda Aceh yang terlalu pro-aktif di segala bidang membuat kepala-kepala dinas teknis banyak yang menjerit.

Ia mencontohkan sikap Sekda Aceh, Taqwallah ketika meminta kepala sekolah melakukan update data-data guru. Sementara data tersebut sudah ada di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

"Ini kan ngasih tugas untuk kepala-kepala sekolah, akses saja langsung, kenapa kemudian harus dikasih kerja dua kali," tuturnya.

Fajran menjelaskan, tugas besar dan tupoksi utama seorang Sekda adalah melakukan pembinaan aparatur sipil. Dalam hal ini, Fajran menegaskan, ia tidak ada maksud mengatakan Sekda Aceh tidak melakukan pembinaan aparatur sipil tetapi mestinya lebih dimaksimalkan lagi.

"Kalau beliau (Taqwallah) ingin melakukan intensifikasi kerja, ingin tambah loading kerja. Load-nya kesana, ke pembinaan aparatur bukan kepada kerja-kerja teknis, karena Sekda tidak melakukan kerja-kerja teknis," jelasnya.

Pengamat politik itu kemudian menawarkan solusi, akan lebih baik bagi Sekda Aceh mendelegasi dan memberi kepercayaan kepada dinas-dinas teknis. Taqwallah diharapkan mampu membangun konsep pendelegasian yang lebih mapan dan lebih baik.

"Delegasikan semua tugas-tugas teknis kepada aparatur teknis. Pukesmas delegasikan kepada dinkes. Guru atau kepala sekolah delegasikan kepada disdik, kayak gitu aja," ujarnya.

"Dengan dia mendelegasikan, dia menanamkan dan membangun rasa percaya diri bagi kepala-kepala dinas itu untuk membangun konfiden dinas mereka," tambahnya.

Fajran berharap Gubernur Aceh ikut mengevaluasi Sekda Aceh terkait dengan kegiatan-kegiatan Sekda Aceh selama ini.

"Saya bukan mengatakan bahwa harus diganti atau apalah, itu hak penuh pada gubernur. Tapi kemudian melihat rekam jejak pak Sekda ini, kayaknya gubernur perlu melakukan evaluasi juga. Apalagi sekarang lagi musim bersih-bersih," pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda