Beranda / Berita / Aceh / Pendiri RUMAN Aceh Berbagi Pengalaman dengan Pegiat Literasi Aceh Tengah

Pendiri RUMAN Aceh Berbagi Pengalaman dengan Pegiat Literasi Aceh Tengah

Rabu, 06 Juli 2022 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ahmad Arif Pendiri dan Pembina TBM RUMAN Aceh, Ahmad Arif, berbagi pengalaman dengan pegiat literasi di Kabupaten Aceh Tengah, Selasa (5/7/2022). [Foto: dok. RUMAN]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pendiri dan Pembina taman bacaan masyarakat (TBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (RUMAN) Aceh, Ahmad Arif, berbagi pengalaman dengan puluhan pegiat literasi dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah pada Selasa (5/7/2022) pagi hingga sore. 

Para pegiat literasi tersebut berhimpun dalam kegiatan “Pelatihan Pemberdayaan Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Aceh Tengah” yang diadakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh di Aula SMAN 8 Takengon sejak Senin hingga Rabu, (4-6/7/2022).

“Kita tidak memberikan materi teoritis dalam perspektif manajemen, melainkan pengalaman (based on true story) selama menjalankan khidmah sederhana bernama RUMAN Aceh sejak 8 April 2013 lalu. Kita tuturkan konsep, prinsip dan cara berinteraksi yang telah dilakukan”, ujar Arif dalam keterangannya yang diterima Dialeksis.com, Rabu (6/7/2022).

RUMAN Aceh, tutur Arif, hadir untuk membantu tugas pemerintah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, bukan untuk menyaingi, apalagi memusuhi. Hanya saja, ketika bertabrakan dengan prinsip utama RUMAN Aceh, pihaknya memilih jalan lain. 

“Prinsip utama kita ada 3. Yaitu, murni sosial dan kebajikan, berdiri di atas dan untuk semua golongan atau independen serta hana fee. Bila kita bekerja untuk langit, bumi pasti akan membersamai. Tapi tidak bila sebaliknya”, imbuh penerima anugerah Insan Peduli Pendidikan KEMENDIKBUD 2019 ini tersenyum.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Karyono SPd MHum, yang menghadiri kegiatan hari kedua itu hingga akhir, mengapresiasi model RUMAN Aceh dalam berkhidmah dan cara menyampaikannya kepada para peserta. 

“Berhasil memacu dan mendorong, serta bisa melihat kemampuan dan keberadaan pegiat literasi yang ada di bagian tengah Aceh. Perihal tantangan atau problem yang dihadapi, tentu berbeda daerah satu dengan daerah lain”, ungkapnya.

Karyono mengatakan bahwa pemerintah tidak akan mampu bekerja sendirian dalam menuntaskan program literasi. Kemajuan Literasi memerlukan keseriusan semua pemangku kepentingan, terutama masyarakat.

“Kita mendorong para pegiat literasi agar tetap memiliki semangat kesukarelawanan dan melalui pelatihan ini dapat memperkuat komitmen sekaligus kemampuan mereka dalam keberlangsungan gerakan literasi di bagian tengah Aceh”, katanya. 

Di akhir kegiatan, tiga orang peserta terbaik rencana aksinya mendapat hadiah spesial berupa buku yang diangkat dari thesis studi magister Dr Baun Thoib Soaloon SGR MAg. Dua orang menerima dari Pendiri RUMAN Aceh dan seorang lainnya dari Kepala Balai Bahasa Aceh. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda