Senin, 25 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pascainsiden Kebakaran, Fakultas Pertanian USK Fokus Pemulihan Gedung dan Fasilitas

Pascainsiden Kebakaran, Fakultas Pertanian USK Fokus Pemulihan Gedung dan Fasilitas

Senin, 25 Mei 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Suasana Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala usai kebakaran. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pascainsiden kebakaran yang melanda lingkungan Fakultas Pertanian di Universitas Syiah Kuala, suasana duka dan keprihatinan masih terasa di kalangan civitas akademika.

Sejumlah fasilitas penting dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk laboratorium dan sarana penunjang akademik yang selama ini menjadi bagian penting dalam proses pendidikan dan penelitian.

Di tengah situasi tersebut, Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Ir. Sugianto, menegaskan bahwa pihak fakultas saat ini memilih fokus pada pemulihan fasilitas serta menjaga suasana kampus tetap kondusif.

Ia juga mengingatkan pentingnya menahan diri dari berbagai pernyataan yang berpotensi memperkeruh keadaan.

“Alhamdulillah, pimpinan universitas sudah melihat langsung situasi yang terjadi. Kami juga sudah sepakat bahwa semua informasi dan penjelasan resmi disampaikan melalui satu pintu,” ujar Sugianto kepada media dialeksis.com, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, koordinasi antara pimpinan fakultas dan rektorat terus dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan gedung dan fasilitas yang rusak akibat kebakaran. Ia menyebut pihak universitas telah menunjukkan komitmen untuk membantu pemulihan, termasuk terhadap mahasiswa atau sivitas yang mengalami kerugian pribadi akibat insiden tersebut.

Sugianto mengungkapkan, bantuan juga mulai diarahkan kepada korban terdampak, termasuk mahasiswa yang kehilangan kendaraan akibat kebakaran.

“Tadi juga ada bantuan dari Rumah Amal untuk yang terdampak. Misalnya ada sepeda motor yang terbakar, itu akan dibantu. Nanti Pak Rektor yang akan menyerahkan langsung,” katanya.

Namun di balik upaya pemulihan itu, Dekan Fakultas Pertanian turut menyoroti munculnya sejumlah pernyataan yang dinilainya tidak mencerminkan semangat menahan diri sebagaimana telah disepakati bersama antar unsur kampus.

Ia mengaku prihatin karena dalam beberapa pemberitaan dan pernyataan yang berkembang, Fakultas Pertanian justru terkesan disudutkan, padahal pihaknya juga merupakan korban dalam peristiwa tersebut.

“Saya mengaminkan dan setuju seribu persen ketika ada kesepakatan semua pihak untuk menahan diri. Tetapi saya melihat ada pihak kelembagaan yang tidak komitmen terhadap kesepakatan itu,” ujarnya.

“Seolah-olah pertanian selaku korban malah dijadikan seperti tersangka. Itu yang saya sayangkan,” lanjutnya.

Sugianto bahkan mengaku sempat menyampaikan protes terhadap munculnya sejumlah pernyataan di media yang dinilai keluar tanpa koordinasi resmi kampus.

Ia menegaskan bahwa sebelumnya telah ada kesepakatan bahwa penyampaian informasi terkait insiden kebakaran dilakukan secara terpusat melalui humas universitas.

“Kenapa kita sudah sepakat bahwa semua pernyataan melalui Humas USK, tetapi masih ada statement lain yang keluar? Ini kan jadi tidak fair,” katanya.

Meski demikian, pihak Fakultas Pertanian mengaku tetap membuka ruang komunikasi dan wawancara kepada media. Namun, menurut Sugianto, dalam praktiknya justru terdapat pembatasan akses informasi yang membuat situasi semakin sensitif.

Di sisi lain, Sugianto menegaskan bahwa kasus kebakaran tersebut tetap harus diproses sesuai hukum yang berlaku apabila ditemukan adanya unsur pelanggaran.

“Kalau saya sampaikan, ketika ada pelanggaran hukum ya harus diproses. Itu penting,” tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pihak fakultas mendukung langkah penegakan hukum secara objektif dan transparan, tanpa harus mengorbankan upaya menjaga stabilitas serta nama baik institusi pendidikan.

Insiden kebakaran di Fakultas Pertanian USK sendiri sebelumnya menjadi perhatian luas masyarakat Aceh, terutama karena fasilitas yang terdampak merupakan aset penting bagi kegiatan akademik dan penelitian mahasiswa.

 Sejumlah kalangan berharap pemulihan dapat segera dilakukan agar aktivitas pendidikan tidak terganggu dalam jangka panjang. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI