DIALEKSIS.COM | BANDA ACEH - Aroma hangus masih menyelimuti kawasan Gedung Lama Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) beberapa hari setelah insiden bentrokan antar mahasiswa yang berujung pada kebakaran dan perusakan fasilitas kampus, Kamis (21/5/2026) dini hari.
Di balik puing bangunan yang menghitam, tersimpan kegelisahan ribuan mahasiswa yang kini harus menghadapi terganggunya aktivitas akademik, hilangnya hasil penelitian, hingga rusaknya ruang laboratorium yang selama ini menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp20 miliar, tetapi juga menghancurkan berbagai hasil riset mahasiswa yang selama ini dikerjakan untuk kepentingan akademik dan pengembangan sektor pertanian Aceh dan Indonesia.
Jumlah mahasiswa aktif di Fakultas Pertanian USK saat ini tercatat sebanyak 2.789 orang. Mereka kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sebagian fasilitas pendidikan yang menjadi tempat belajar, meneliti, dan menyusun masa depan rusak akibat aksi brutal yang dinilai tidak mencerminkan nilai-nilai akademik.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian USK periode 2026, Husain Ahmad Alfatah, mengatakan dampak paling besar justru dirasakan oleh mahasiswa yang tidak terlibat dalam bentrokan.
Banyak mahasiswa tingkat akhir kehilangan data penelitian, laporan praktikum, hingga hasil riset yang telah mereka kerjakan selama berbulan-bulan.
Husain yang sebelumnya dikenal aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (HIMATETA) periode 2025, menilai tindakan perusakan itu telah melukai dunia pendidikan.
“Yang paling menyedihkan itu banyak laporan penelitian dan sampel tumbuhan milik mahasiswa akhir ikut hangus. Mereka tidak cuma membuat kerugian kampus, tapi juga menjadikan mahasiswa yang tidak bersalah sebagai korban,” ujarnya.
Ia menjelaskan, laboratorium di Fakultas Pertanian bukan sekadar ruang belajar biasa. Di tempat itu tersimpan berbagai hasil penelitian mahasiswa yang berkaitan dengan pertanian Aceh, ketahanan pangan, pengolahan hasil pertanian, hingga riset kerja sama dengan sejumlah instansi.
“Banyak riset anak pertanian hilang. Ada penelitian yang sudah berjalan lama, ada juga kerja sama dengan berbagai instansi yang ikut terdampak. Semua dihancurkan begitu saja oleh oknum massa. Ini sangat disayangkan dan tidak bermoral,” katanya.
Kerusakan akibat bentrokan tersebut terpusat di kawasan Gedung Lama Fakultas Pertanian. Gedung D3 Pertanian Lama dilaporkan hangus terbakar. Selain itu, sejumlah fasilitas laboratorium milik mahasiswa Program Studi Teknik Hasil Pertanian dan Laboratorium GIS mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan.
Selain itu, ada mimpi besar yang ikut terbakar di dalamnya. Dua laboratorium yang selama ini menjadi kebanggaan fakultas, yakni Laboratorium Uji Tanah dan Laboratorium Geographic Information System (GIS), mengalami kerusakan berat akibat insiden tersebut.
Padahal, kedua laboratorium itu sedang dipersiapkan sebagai fasilitas penting untuk mendukung proses akreditasi internasional Fakultas Pertanian USK.
Banyak penelitian mahasiswa tersimpan di sana. Ada hasil riset tentang pertanian, tanah, pangan, hingga data pemetaan yang dikerjakan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Semuanya hilang dalam satu malam.
Tidak hanya itu, pos satpam di sekitar lokasi juga ikut terbakar. Tiga unit sepeda motor dan satu unit mobil hangus dilalap api. Sementara kaca-kaca gedung pecah akibat lemparan batu dan dugaan bom molotov yang digunakan dalam bentrokan tersebut.
Aparat kepolisian kini masih melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan laporan polisi dari pihak Fakultas Pertanian dengan Nomor: LP/B/418/V/2026/SPKT/Polresta Banda Aceh/Polda Aceh tertanggal 21 Mei 2026.
Kapolresta Banda Aceh Andi Kirana melalui Kasat Reskrim Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan pihaknya telah meminta keterangan terkait terbakarnya gedung dan sejumlah fasilitas lainnya di Fakultas Pertanian USK.
“Sementara itu, penyidik dan tim identifikasi juga akan melakukan uji Laboratorium Forensik terhadap sejumlah barang bukti atau petunjuk yang ditemukan di tempat kejadian perkara,” ujar Kompol Dizha.
Pihak kepolisian juga telah mengumpulkan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, di antaranya batu, kayu, sepeda motor dan mobil yang terbakar, serta pecahan kaca yang diduga berasal dari bom molotov.
Kerugian akibat kejadian tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp20 miliar.
Insiden ini memicu keprihatinan luas di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Banyak pihak menilai tindakan anarkis di lingkungan kampus telah mencederai marwah perguruan tinggi sebagai ruang intelektual dan tempat lahirnya gagasan-gagasan untuk kemajuan masyarakat.
Husain meminta agar pemulihan fasilitas pendidikan menjadi prioritas agar aktivitas akademik mahasiswa tidak semakin terganggu.
Ia menambahkan, Fakultas Pertanian selama ini dikenal sebagai salah satu fakultas yang aktif menghasilkan berbagai penelitian terkait sektor pertanian Aceh. Banyak riset mahasiswa yang berkaitan langsung dengan kebutuhan petani, pengembangan teknologi pertanian, hingga inovasi pengolahan hasil tani.
Karena itu, hilangnya berbagai hasil penelitian akibat kebakaran dinilai sebagai kerugian besar, tidak hanya bagi kampus tetapi juga bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Aceh.
“Kampus itu tempat orang mencari ilmu, bukan tempat merusak. Yang hancur hari ini bukan hanya bangunan, tapi juga harapan dan kerja keras mahasiswa yang selama ini berjuang menyelesaikan penelitian mereka,” tuturnya.[nh]