DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Arus lalu lintas di ruas Jalan Syiah Kuala yang menghubungkan Desa Lamdingin menuju Lampulo dan sebaliknya tampak padat merayap pada sore hari menjelang berbuka puasa Ramadan 1447 Hijriah.
Ribuan warga tumpah ke jalan untuk ngabuburit, berburu takjil, sekaligus menikmati suasana sore, namun kondisi tersebut tidak diimbangi dengan pengaturan lalu lintas yang memadai.
Amatan media dialeksis.com pada Jumat (27/2/2026), di lokasi, kendaraan roda dua dan roda empat saling berdesakan.
Jalan yang biasanya relatif lancar berubah menjadi semrawut. Di sisi kiri dan kanan badan jalan, deretan pedagang menjajakan aneka menu berbuka puasa, mulai dari kue basah, kolak, es buah, hingga gorengan, membuat ruang gerak kendaraan semakin menyempit.
Lapak-lapak darurat berdiri rapat, sebagian bahkan mengambil bahu jalan. Pembeli memarkir kendaraan sembarangan, sehingga memperparah kemacetan. Situasi semakin padat ketika waktu berbuka semakin dekat.
Rian, salah satu pengguna jalan yang melintas dari arah Lamdingin menuju Lampulo, mengaku terjebak kemacetan lebih dari 20 menit.
“Biasanya saya lewat sini tidak sampai lima menit. Tapi sore ini macet sekali. Motor dan mobil bercampur, parkir juga tidak teratur. Yang saya lihat, tidak ada petugas yang berjaga untuk mengatur arus lalu lintas,” ujar Rian kepada Dialeksis.com, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, kepadatan seperti ini hampir selalu terjadi setiap Ramadan, terutama pada pekan-pekan awal ketika antusiasme masyarakat untuk ngabuburit masih tinggi.
Hal senada disampaikan Rauhul, warga Lamdingin. Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait, khususnya untuk pengamanan dan penertiban parkir.
“Kami senang ekonomi masyarakat bergerak, pedagang ramai pembeli. Tapi kalau tidak ada yang mengatur, kasihan pengguna jalan. Tadi ada beberapa motor hampir bersenggolan karena sempit sekali jalannya,” kata Rauhul.
Ia berharap ada penempatan petugas di titik-titik rawan macet, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Menurutnya, keberadaan aparat tidak hanya untuk mengurai kemacetan, tetapi juga memberi rasa aman bagi masyarakat.
Sementara itu, suasana sore Ramadan tetap terasa semarak. "Kita berharap ke depan ada langkah antisipatif agar tradisi ngabuburit tetap berjalan nyaman tanpa mengorbankan ketertiban dan keselamatan di jalan raya," tutupnya. [nh]