Minggu, 06 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / MADA Aceh: Ketersediaan Kitab Pengaruhi Mutu Pendidikan Dayah

MADA Aceh: Ketersediaan Kitab Pengaruhi Mutu Pendidikan Dayah

Sabtu, 05 September 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh (MADA), Tgk. H. Marbawi Yusuf, S.H. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketersediaan kitab dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga mutu pendidikan dayah di Aceh. Meskipun perkembangan teknologi menghadirkan berbagai aplikasi digital yang menyediakan ribuan referensi kitab, keberadaan kitab fisik bagi santri masih dianggap sangat dibutuhkan.

Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh (MADA), Tgk. H. Marbawi Yusuf, S.H., mengatakan fasilitas kitab menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam instrumen akreditasi dayah.

Menurutnya, ketersediaan kitab berkaitan langsung dengan proses pembelajaran santri, termasuk dalam menunjang keberlanjutan pendidikan mereka ketika melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Kitab ini sesuatu yang sangat dibutuhkan. Pengalaman kami ketika melakukan asesmen di dayah-dayah seluruh Aceh, hampir rata-rata santri maupun pimpinan dayah menyampaikan bahwa santri masih banyak yang tidak memiliki kitab,” kata Tgk Marbawi kepada media dialeksis.com, Sabtu (5/9/2026).

Ia mengatakan, persoalan tersebut semakin dirasakan ketika santri memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketiadaan kitab dapat membuat santri mengalami kendala dalam mengikuti proses pembelajaran.

“Bagaimana kita menginginkan jaminan pendidikan dayah lebih baik kalau media kitabnya tidak ada? Itu mustahil,” ujarnya.

Tgk Marbawi menjelaskan, penilaian pendidikan merupakan salah satu unsur penting dalam instrumen akreditasi untuk melihat terpenuhinya standar pendidikan di sebuah dayah.

Karena itu, menurutnya, kitab tidak dapat dipandang sekadar sebagai fasilitas tambahan. Kitab merupakan salah satu media utama yang mendukung proses pendidikan dan pembentukan kualitas keilmuan santri.

Maktabah Syamilah Belum Gantikan Kitab Fisik

Menanggapi perkembangan teknologi, Tgk Marbawi mengakui keberadaan aplikasi seperti Maktabah Syamilah memberikan kemudahan karena menyediakan berbagai koleksi kitab dalam bentuk digital.

Namun, ia menilai aplikasi tersebut belum sepenuhnya dapat menggantikan kitab fisik, terutama bagi santri yang tinggal di lingkungan dayah.

“Memang sekarang ada aplikasi Maktabah Syamilah yang memuat banyak sekali kitab. Tetapi untuk mengaksesnya tetap membutuhkan media, seperti handphone atau Android,” katanya.

Menurut Tgk Marbawi, kondisi tersebut menjadi kendala karena sebagian dayah menerapkan aturan yang membatasi atau melarang santri menggunakan telepon seluler.

“Anak-anak santri di dayah tidak diperbolehkan memiliki media tersebut. Jadi menggunakan Maktabah Syamilah ini sangat terbatas, kecuali bagi guru-guru yang sudah lama menetap di dayah,” jelasnya.

Karena itu, kitab fisik masih menjadi media pembelajaran yang sangat relevan bagi santri.

Ia menilai, pemanfaatan teknologi digital tetap dapat dilakukan, tetapi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap kitab fisik yang selama ini menjadi bagian dari tradisi pembelajaran di dayah.

Kualitas Kitab Harus Diperhatikan

Selain persoalan ketersediaan, Tgk Marbawi juga mengingatkan agar kualitas kitab yang diberikan kepada santri menjadi perhatian.

Menurutnya, kitab yang digunakan sebaiknya memiliki cetakan yang jelas, mudah dibaca dan cukup kuat untuk digunakan dalam waktu lama.

“Kitab ini juga harus kita perhatikan kualitasnya. Kitab yang didapat dan dimiliki santri itu sebaiknya kitab yang kualitasnya lebih tinggi, tulisannya jelas dan bisa tahan dengan waktu yang lama,” katanya.

Ia menilai kitab dengan kualitas rendah memang dapat digunakan, tetapi cenderung lebih cepat rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Namun, Tgk Marbawi menegaskan kualitas kitab tidak selalu harus diukur dari kemewahan cetakan maupun mahalnya harga.

Yang terpenting, kata dia, kitab tersebut sesuai dengan kebutuhan pembelajaran santri, memiliki tulisan yang jelas, berkualitas dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Tgk Marbawi juga menekankan pentingnya memastikan judul kitab yang diberikan kepada santri sesuai dengan kurikulum pendidikan dayah di Aceh.

Ia menjelaskan, Aceh telah memiliki regulasi mengenai kurikulum dayah melalui Pergub yang diterbitkan pada 2025. Namun, regulasi tersebut belum mencantumkan secara rinci daftar judul kitab yang digunakan dalam proses pembelajaran.

“Di dalam Pergub itu belum dicantumkan nama-nama kitab karena perlu direplikasi kurikulum terhadap kurikulum-kurikulum yang sudah berjalan selama ini di Aceh,” ujarnya.

Menurutnya, nantinya akan ada aturan turunan yang mencantumkan nama-nama kitab sesuai bidang ilmu yang diajarkan di dayah.

Ia berharap daftar tersebut nantinya dapat menjadi pedoman bagi dayah dalam menentukan kitab yang digunakan santri sehingga bahan pembelajaran benar-benar sejalan dengan kurikulum yang berlaku.

"Dalam aturan turunannya nanti akan dicantumkan nama-nama kitab sesuai bidang ilmu yang sudah berjalan di dayah-dayah di Aceh. Ada fikih, tasawuf dan kitab-kitab lainnya,” katanya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub