Beranda / Berita / Aceh / King Prajadhipok's Institute Belajar Perdamaian ke Aceh

King Prajadhipok's Institute Belajar Perdamaian ke Aceh

Senin, 10 September 2018 20:22 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM I Banda Aceh – Sebanyak 46 orang delegasi dari Thailand yang tergabung dalam King Prajadhipok's Institute (KPI) melakukan kunjungan ke Aceh dalam rangka study visit group untuk mempelajari keberhasilan proses perdamaian di Aceh.

KPI sendiri adalah organisasi akademik yang berada di bawah kendali dari Parlemen Thailand, mereka memiliki misi yang bertujuan pada pengembangan demokrasi di Thailand. Dan untuk mewujudkan misi tersebut, KPI aktif melakukan kegiatan pelatihan dan penelitian, termasuk dengan isu-isu seputar konflik dan perdamaian.

Adapun kunjungan ke Aceh kali ini adalah salah satu bagian dari program pembelajaran tentang perdamaian yang tengah diintensifkan oleh KPI.

Terdapat tiga tempat yang masuk dalam list kunjungan KPI pada Senin (10/09/2018). Pagi hari KPI bertandang ke DPRA, lalu siang harinya rombongan melanjutkan lawatannya ke kantor Gubernur Aceh untuk beraudiensi langsung dengan Plt Gubernur Nova Iriansyah. Dan sore harinya, barulah mereka mengikuti perkuliahan tentang proses perdamaian Aceh di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Adapun agenda seminar/perkuliahan ini di selenggarakan oleh Jaringan Survei Inisiatif (JSI) yang bekerja sama dengan Unsyiah. Para panelis yang diundang untuk mengisi sesi tersebut adalah Aryos Nivada, MA (Akademisi Unsyiah), Mayjen TNI (Purn) Amiruddin Usman (eks Militer), dan Irwansyah a.k.a. Tgk. Muksalmina (Politisi PNA/eks GAM).

Perkuliahan dibuka langsung oleh Prof. Samsul Rizal selaku rektor Unsyiah. Baru kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang di pandu langsung oleh Dr. Hendra Syahputra, M.M. (Akademisi UIN Ar-Raniry).

Diskusi berjalan sangat alot, peserta sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan. Bahkan salah satu peserta bertanya: "Selepas perdamaian, apakah Aceh masih ada keinginan untuk memisahkan diri NKRI?"

Seluruh pemateri kompak menjawab "Tidak!", karena keinginan merdeka dari Indonesia itu hanyalah cerita masa lalu, fokus sekarang adalah bagaimana caranya pemerintah Aceh mampu mensejahterakan rakyat.

Keyword:


Editor :
Sammy

riset-JSI
Komentar Anda