Selasa, 11 Agustus 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jubir Aksi Bela Nanggroe: "Jangan Kaitkan Aksi ini dengan Kepentingan Lain"

Jubir Aksi Bela Nanggroe: "Jangan Kaitkan Aksi ini dengan Kepentingan Lain"

Selasa, 11 Agustus 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Juru Bicara kegiatan Zikir Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe dan Syariat, Reki Nyak Wang alias Abu Syu'ja. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Juru Bicara kegiatan Zikir Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe dan Syariat, Reki Nyak Wang alias Abu Syu'ja, mengimbau masyarakat Aceh agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi maupun atribut yang mengatasnamakan kelompok tertentu menjelang pelaksanaan kegiatan yang akan digelar pada 15 Agustus 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

‎Reki menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni merupakan inisiatif para ulama dan pimpinan dayah dari berbagai wilayah di Aceh. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh pihak-pihak yang mencoba mengaitkan agenda tersebut dengan kepentingan lain di luar tujuan awal pelaksanaan kegiatan.

‎‎“Saya banyak sekali menerima pertanyaan dari masyarakat terkait rencana aksi ini. Saya tegaskan sekali lagi, kegiatan Zikir Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe dan Syariat adalah murni gerakan yang diinisiasi oleh ulama dan tengku dayah di Aceh,” kata Reki kepada Dialeksis, Selasa (11/8/2026).

‎‎Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir beredar sejumlah materi publikasi yang menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Salah satunya berupa flyer yang mencantumkan sejumlah foto tokoh dan simbol tertentu yang disebut-sebut berkaitan dengan kegiatan tersebut.

‎‎Reki mengaku menerima flyer tersebut dari masyarakat yang meminta penjelasan mengenai keterkaitannya dengan agenda yang akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman. Setelah diperiksa, ia menegaskan bahwa materi publikasi itu bukan dibuat oleh panitia maupun pihak penyelenggara.

‎‎Dalam flyer tersebut, kata Reki, terdapat foto sejumlah tokoh ulama yang dikenal masyarakat Aceh. Namun, terdapat pula sosok lain yang tidak diketahui identitas maupun keterlibatannya dalam kegiatan tersebut.

‎‎“Samping kanan itu, Abi Muslim At Tahiri dan Tgk Abdul Wahid. Samping kiri Abi Lampisang dan Tgk Habibi Waly. Sementara yang di tengah itu, yang memakai baju hitam, kita tidak tahu siapa dia. Kita juga bingung kok bisa dia mendompleng diri melalui aksi kita ini,” ujarnya.

‎‎Ia juga menyoroti penggunaan simbol dalam flyer yang beredar tersebut. Menurutnya, simbol tersebut tidak pernah dicantumkan dalam materi publikasi resmi yang disiapkan panitia.

‎‎Karena itu, panitia meminta masyarakat agar lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi terkait kegiatan tersebut. Informasi yang dijadikan rujukan, menurutnya, sebaiknya hanya berasal dari sumber resmi panitia atau pihak penyelenggara.

‎‎Reki menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut adalah melaksanakan zikir dan doa bersama untuk keselamatan Aceh, bangsa, dan umat, sekaligus menyampaikan aspirasi secara damai terkait berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

‎‎Ia berharap seluruh peserta yang akan hadir dapat menjaga ketertiban, keamanan, dan kekhusyukan selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, semangat persatuan dan kebersamaan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan agenda tersebut.

‎‎“Untuk itu kami mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh dengan kelompok lain yang mencoba menunggangi kegiatan ini. Mari kita sukseskan acara ini dengan berlaku tertib, damai, dan khidmat. Jangan tunggangi kegiatan ini dengan kepentingan lain. Ini murni gerakan civil society,” pungkas Reki. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI