Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Aceh / Hujan Kritik Pertanda Kinerja Pokja BPBJ Kian Baik

Hujan Kritik Pertanda Kinerja Pokja BPBJ Kian Baik

Senin, 17 Juni 2019 21:10 WIB

Koordinator Presidium Gerak Indonesia Akhuruddin Mahjuddin [foto:ist]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Hujan kritik yang dialamatkan kepada Pokja Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Setda Aceh belakangan ini merupakan pertanda kinerja mereka dalam menyeleksi pemenang tender kian baik. Hal ini dikemukakan Koordinator Presidium Gerak Indonesia Akhuruddin Mahjuddin, di Banda Aceh, Senin (17/6/2019).

Menurut aktivis antikorupsi itu, adanya mekanisme pembatalan pemenang tender yang dianggap SKPA/PA tidak sesuai spek dan HPS yang diajukan sebelumnya membuat Pokja BPBJ ekstra hati-hati.

"Hak tolak pemenang tender hasil pilihan Pokja BPBJ oleh SKPA/KA membuat mereka lebih hati-hati," kata Akhiruddin.

Buktinya, lanjut Akhiruddin, hanya satu atau dua paket saja yang pemenang tendernya dimentahkan oleh SKPA/PA. Sedangkan sebahagian besar lainnya diterima diteruskan ke tahapan selanjutnya (gunning) usai dipilih oleh Pokja, ujarnya.

Hanya saja, lanjut Akhiruddin, akibat membaiknnya sistem kerja Pokja yang didukung teknologi informasi itu, justru mengganggu kepentingan oknum tertentu menjalankan operasi  pengaturan pemenang tender, dengan demikian tidak mengherankan kika banyak tudingan negatif yang dialamatkan kepada ULP Pemerintah Aceh.

Menurut Pendiri LSM Gerakan Antikorupsi (Gerak) Aceh itu, bukan rahasia lagi jika paket-paket aspirasi--sekarang disebut Pokir--oknum anggota DPRA tertentu telah direncakan kepada siapa akan diberikan. Praktik seperti itu sudah tak mungkin dilakukan. Akibatnya, wajah Pokja pun tampak buruk di mata oknum-oknum yang tidak bisa menerima kondisi tersebut, jelas Akhiruddin.

Lebih lanjut Akhiruddin mengatakan, kekecewaan akibat tidak bisa lagi "menunggangi" Pokja untuk menenuhi birahinya itu, juga melanda rekanan-rekanan yang diuntung oleh sistim ijon proyek sebelumnya.

Sayangnya, pengamat dan akademisi tidak mengetahui praktik culas seperti itu, sehingga mereka pun ikut-ikutan kritis menyuarakan kekecewaannya kepada Pokja. Mereka mungkin tidak sadar telah menjadi kuda tunggangan bagi kepentingan orang lain.

"Sayangnya, oknum pengamat atau akademisi yang berbicara tanpa data, tanpa menyadari telah menjadi kuda tunggangan bagi kepentingan orang lain " pungkas Akhiruddin Mahjuddin. [rel]

Editor :
Pondek

Komentar Anda