Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Hujan Deras, Ribuan Jamaah Antusias Salat Tarawih Perdana di Mesjid Oman Banda Aceh

Hujan Deras, Ribuan Jamaah Antusias Salat Tarawih Perdana di Mesjid Oman Banda Aceh

Kamis, 19 Februari 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih pertama di Masjid Al Makmur atau dikenal Mesjid Oman Banda Aceh, Aceh, Rabu (18/2/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Guyuran hujan lebat yang mengguyur ibu kota Provinsi Aceh pada Rabu (18/2/2026) malam tak menyurutkan langkah ribuan jamaah untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah

Sejak selepas Magrib, arus jamaah terus berdatangan menuju Masjid Al Makmur yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Oman Banda Aceh.

Pantauan media dialeksis.com di lokasi, jamaah membludak hingga ke halaman depan masjid. Saf-saf salat ditata rapi dengan pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan. 

Meski hujan turun cukup deras, suasana tetap khusyuk dan tertib. Malam pertama Ramadan tahun ini terasa istimewa. Selain menjadi momentum spiritual yang dinantikan umat Islam, pelaksanaan Tarawih perdana juga diwarnai semangat masyarakat untuk memulai bulan suci dengan penuh kesiapan lahir dan batin.

Bertindak sebagai imam salat Tarawih sekaligus penceramah, Ustaz Fauzan Zakaria yang juga Bendahara Umum Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al Makmur, menyampaikan tausiah yang menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum terbaik dalam kehidupan.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa tidak ada jaminan seseorang akan kembali bertemu Ramadan di tahun mendatang. Karena itu, menurutnya, Ramadan 1447 H harus diperlakukan sebagai Ramadan yang istimewa.

“Belum tentu kita dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya. Maka jadikan Ramadan kali ini sebagai Ramadan terbaik dan paling spesial dalam hidup kita,” ujarnya.

Ustaz Fauzan menguraikan lima hal penting yang perlu dipersiapkan agar Ramadan benar-benar bernilai dan berdampak.

Pertama, persiapan hati. Ia menekankan bahwa seluruh ibadah, termasuk puasa, berawal dari niat yang bersumber dari hati. Jika hati bersih dan lurus, maka kualitas ibadah akan ikut terangkat.

“Niat itu tempatnya di hati. Jika hati baik, maka seluruh amal akan baik. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Karena itu, bersihkan hati kita agar puasa dan ibadah kita berkualitas,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pada akhirnya yang dinilai di hadapan Allah SWT bukan semata-mata tampilan lahiriah, melainkan kondisi hati dan ketulusan.

Kedua, persiapan ilmu. Menurutnya, ibadah yang benar harus didasari pemahaman yang tepat. Ia mendorong jamaah untuk memperdalam kembali ilmu tentang puasa, Al-Qur’an, zakat, sedekah, dan amalan lainnya agar pelaksanaan ibadah selama Ramadan tidak sekadar rutinitas, tetapi benar secara syariat dan maksimal secara pahala.

“Jangan merasa cukup dengan ilmu yang ada. Ramadan adalah momentum untuk memperkuat pemahaman dan memperbaiki kualitas ibadah,” katanya.

Ketiga, persiapan harta untuk sedekah. Ia menekankan pentingnya berbagi di bulan suci. Tradisi berbagi takjil dan hidangan berbuka di Masjid Al Makmur, menurutnya, terus tumbuh berkat dukungan masyarakat.

“Tahun ini kita menargetkan dukungan yang lebih besar untuk kegiatan berbuka puasa bersama dan berbagai program sosial. Ini bukan soal angka semata, tetapi tentang semangat kebersamaan dan kepedulian,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi para donatur dan jamaah yang selama ini konsisten mendukung program masjid, seraya berharap partisipasi tersebut semakin meningkat sepanjang Ramadan.

Keempat, persiapan fisik. Ustaz Fauzan mengingatkan bahwa puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru, Ramadan harus menjadi momentum penguatan diri, termasuk secara jasmani. Ia mendorong jamaah menjaga kesehatan, mengatur pola makan, dan tetap produktif agar ibadah berjalan optimal.

“Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk lemah dan banyak tidur. Sejarah mencatat banyak peristiwa besar terjadi di bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan kekuatan, bukan kelemahan,” ujarnya.

Kelima, memasang target ibadah. Ia mengajak jamaah menetapkan capaian spiritual selama 30 hari ke depan, seperti target khatam Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, menjaga salat berjamaah, dan memperbaiki akhlak.

“Kalau kita punya target, maka Ramadan akan lebih terarah. InsyaAllah, setelah 30 hari, kita keluar sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya. 



Menutup tausiah, Ustaz Fauzan mendoakan seluruh jamaah agar diberikan kekuatan menjalani ibadah hingga akhir Ramadan dan mampu mencapai target kebaikan yang telah ditetapkan.

“Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang mendapatkan keberkahan dan ampunan di bulan suci ini,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI