DIALEKSIS.COM | Takengon - Sudah hampir enam bulan musibah hidrometeorologi, namun normalisasi sungai Jambo Aye, di Linge, Aceh Tengah belum dilakukan. Warga dibalut perasaan takut ketika hujan turun, sungai meluap, banjir susulan terjadi.
“Ketika hujan turun, kami masyarakat bersiap siap membungkus pakaian untuk mencari ke lokasi yang lebih aman. Kami takut luapan air sungai akan kembali menerjang kawasan kami,” sebut Sertalia, salah seorang korban banjir bandang di Jamat, Linge, Aceh Tengah.
Dalam penjelasanya kepada Dialeksis.com, Kamis (16/04/2026) via selular, Sertalia sangat mengharapkan pemerintah secepatnya turun tangan untuk menormalisasi sungai, agar ketika hujan turun, tidak meluap kemana-mana.
Menurutnya, kondisi sungai sudah jauh berubah dari sebelumnya. Jalur sungai juga berpindah pindah setiap saat. Semuanya ini karena sendimen sungai telah menutupi dasar sungai, harus dibersihkan agar kembali ke jalur awalnya.
“Warga takut akan banjir susulan, jalan dan jembatan yang selama ini menjadi penghubung warga menuju areal perkebunan telah hancur total. Demikian juga dengan sumber air iri gasi sawah tidak ada yang tersisa,” jelasnya.
Kepala Mukim Wih Dusun Jamat, Iliyas Pasa, dalam keteranganya menambahkan penjelasan Sertalia. Menurutnya masyarakat sudah melakukan normalisasi sungai secara swadaya. Namun sampai sejauh mana kekuatan masyarakat yang disapu bencana ini.
“Kami sudah melakukan normalisasi aliran sungai Jamat. Semuanya dilakukan masyarakat dengan bahu membahu ditengah kondisi memprihatinkan. Semua ini kami lakukan karena belum ada kejelasan kapan akan dilakukan normalisasi oleh pemerintah,” jelas Iliyas.
“Setiap hujan kami ketakukan. Masyarakat masih trauma. Lahan perkebunan, sawah dan perumahan yang hancur, telah membuat masyarakat saat hujan bersiap siap membungkus pakaian untuk mengungsi ke tempat yang aman,” sebutnya.
Kawasan Kemukiman Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah merupakan kawasan terparah dilanda bencana, perumdahan penduduk banyak hilang dilarikan air tanpa bekas. Sumber penghidupan luluh lantak.
Jembatan darurat yang dibangun para relaman dan pemerintah juga kembali hilang diterjang banjir susulan. Sungai dangkal dan meluap kemana-mana, sehingga mengancam keselamatan masyarakat.
“Kami sangat berharap pihak terkait untuk melakukan normalisasi sungai, agar masyarkat memiliki harapan hidup, dapat berusaha memperbaiki semampu mereka, mengolah kembali sumber penghidupan yang hancur,” jelas Sertalia.