DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Perhubungan Aceh mulai menerapkan penghematan bahan bakar minyak (BBM) sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran di tengah meningkatnya kebutuhan energi.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal ST MT, memastikan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah konkret, baik pada operasional kendaraan dinas maupun layanan transportasi publik seperti Trans Koetaradja (TransK).
Menurut T. Faisal, efisiensi pada kendaraan dinas menjadi salah satu fokus utama yang langsung diterapkan di internal instansinya. Ia menegaskan bahwa penggunaan kendaraan dinas kini tidak lagi dilakukan secara bebas, melainkan melalui pengendalian ketat berbasis kebutuhan.
“Operasional kendaraan dinas di Dishub Aceh kami laksanakan dengan prinsip efisiensi. Penggunaan kendaraan hanya diperuntukkan bagi hal-hal yang bersifat mendesak atau urgent saja,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, pembatasan juga diberlakukan pada penggunaan kendaraan di luar jam dinas. Selain itu, Dishub Aceh mulai menerapkan pola penggabungan kendaraan untuk kegiatan atau tugas yang serupa, guna menghindari penggunaan BBM yang berlebihan.
“Penggunaan kendaraan di luar jam dinas kami batasi. Kemudian untuk tugas-tugas yang sejenis, kami lakukan penggabungan kendaraan. Jadi, semacam manajemen kendaraan dinas yang lebih terukur dan efisien sedang kami terapkan,” jelasnya.
Langkah tersebut, kata T. Faisal, tidak hanya bertujuan menghemat BBM, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola aset pemerintah yang lebih disiplin dan akuntabel.
Sementara itu, untuk sektor transportasi publik, Dishub Aceh juga tidak tinggal diam. Sejumlah strategi diterapkan untuk memastikan layanan tetap optimal tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar, khususnya pada armada Trans Koetaradja yang menjadi andalan masyarakat di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya.
Trans Koetaradja (TransK) sedang melintas di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. [Foto: Dishub Aceh]Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah meminta operator TransK untuk meningkatkan kualitas perawatan kendaraan secara rutin. Hal ini dinilai penting agar performa mesin tetap prima dan konsumsi BBM bisa lebih terkendali.
“Kami mendorong operator TransK agar melakukan perawatan rutin kendaraan dengan baik, sehingga performa mesin tetap terjaga dan penggunaan BBM lebih efisien,” katanya.
Selain itu, Dishub Aceh juga melakukan evaluasi terhadap rute-rute layanan yang dinilai kurang diminati penumpang. Rute dengan tingkat keterisian rendah menjadi perhatian khusus, karena berpotensi menimbulkan pemborosan operasional.
“Rute-rute yang relatif kurang penumpang terus kami evaluasi. Ini penting agar operasional tetap efektif dan tidak terjadi pemborosan,” ujar Kadishub Aceh.
Tak hanya itu, strategi penyesuaian jadwal juga diterapkan melalui sistem penjadwalan dinamis. Pada jam-jam sepi, frekuensi layanan akan dikurangi, sementara pada jam sibuk, jumlah armada akan disesuaikan dengan kebutuhan penumpang.
“Kami terapkan penjadwalan dinamis. Saat jam sepi, frekuensi dikurangi. Sebaliknya, saat jam ramai, layanan ditingkatkan. Ini untuk menjaga keseimbangan antara pelayanan publik dan efisiensi BBM,” tutupnya. [nh]