Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Buku dan Seragam Jadi Kebutuhan Mendesak Siswa Penyintas Banjir di Aceh

Buku dan Seragam Jadi Kebutuhan Mendesak Siswa Penyintas Banjir di Aceh

Senin, 05 Januari 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Suasana belajar dan mengajar di hari pertama masuk sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang pada Senin, 5 Januari 2026. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Setelah berminggu-minggu lumpur banjir menggenangi ruang kelas dan memaksa ribuan siswa belajar mandiri, aktivitas belajar mengajar perlahan kembali bergulir di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Senin (5/1/2026).

Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, semangat belajar tetap tumbuh dari para siswa. Radit, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, mengaku senang bisa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar meski dalam kondisi sederhana.

“Saya berharap kegiatan belajar mengajar harus tetap ada,” ujar Radit kepada media dialeksis.com.

Namun, ia juga menyampaikan harapan agar pemerintah dan pihak terkait dapat membantu penyediaan perlengkapan sekolah yang hilang akibat banjir.

“Kami berharap ada bantuan baju sekolah, buku pelajaran, dan peralatan sekolah. Karena semua peralatan kami terbawa banjir,” ujarnya.

Kepala SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Syaiful, mengatakan proses belajar mengajar kembali dimulai dengan berbagai keterbatasan.

Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah menjadi penopang awal agar sekolah bisa segera berfungsi pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut.

“Sementara ini ada bantuan yang dibawa oleh kementerian dan disalurkan hari ini juga. Walaupun belum mencukupi untuk semua siswa, tapi sudah lebih dari separuh yang menerima,” ujar Syaiful saat ditemui media dialeksis.com di sekolah disela-sela kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Senin (5/1/2026).

Menurut Syaiful, setelah bencana, sekolah sempat meliburkan siswa selama sekitar satu minggu. Masa tersebut dimanfaatkan untuk pemulihan psikologis atau healing sederhana, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik. Namun, waktu libur yang terlalu lama dinilai berisiko memperlebar ketertinggalan pembelajaran.

“Setelah satu minggu healing sederhana, kan harus ngejar. Maka perangkat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kami langsung disiapkan agar anak-anak bisa kembali belajar,” katanya.

Dalam masa tanggap darurat pascabencana, pola pembelajaran di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda mengalami penyesuaian.

Sekolah mengikuti kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dengan menerapkan sistem pembelajaran darurat melalui pengelompokan kelas dan jam belajar yang dipersingkat.

“Kami ada istilahnya grup-grup darurat. Pembelajaran dibuat singkat. Kalau biasanya satu mata pelajaran itu dua kali 45 menit, sekarang cukup satu kali 45 menit,” jelas Syaiful.

Dalam satu hari, siswa tetap mengikuti enam jam pelajaran, namun dengan durasi yang lebih singkat agar tidak terlalu membebani fisik dan mental siswa yang masih dalam fase pemulihan pascabencana.

Terkait respons orang tua murid, Syaiful menyebut tidak ada penolakan berarti terhadap dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar. Justru sebaliknya, sebagian besar orang tua merasa lebih tenang ketika anak-anak kembali beraktivitas di lingkungan sekolah.

“Kalau sampai hari ini, saya rasa orang tua lebih senang anaknya di sekolah. Karena sudah sangat lama libur. Di sekolah anak-anak lebih terkontrol dibandingkan di luar,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan sekolah juga menjadi ruang aman bagi siswa di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih akibat banjir.

Menyadari banyak siswa kehilangan perlengkapan sekolah akibat banjir, pihak sekolah mengambil kebijakan khusus. Tidak ada kewajiban mengenakan seragam maupun atribut sekolah selama masa darurat.

“Kalau kami pihak sekolah tidak mempermasalahkan pakaian dan atribut sekolah. Yang penting anak bisa hadir ke sekolah saja sudah luar biasa,” tegas Syaiful.

Kebijakan ini diambil untuk mengurangi beban psikologis dan ekonomi orang tua murid yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.

Untuk proses asesmen pembelajaran, pihak sekolah tetap berupaya menjalankannya secara fleksibel. Asesmen yang seharusnya dilakukan pada awal semester telah terlewati karena bencana.

“Kalau asesmen yang lalu itu sudah lewat. Tapi ke depan, seiring berangsur-angsur pulih, mungkin bisa kita buat seperti biasa,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI