DIALEKSIS.COM | Aceh Tamiang - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, meninjau langsung kegiatan belajar mengajar pada hari pertama masuk sekolah pasca bencana banjirdi SMA Negeri 4 Kejuruan Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026).
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keberlangsungan pendidikan di tengah situasi darurat merupakan tanggung jawab bersama.
“Ini bagian dari usaha kita bersama agar anak-anak tetap memiliki semangat dan motivasi untuk terus belajar. Memang keadaannya belum ideal seperti yang kita harapkan, karena proses tanggap darurat, pembersihan, dan perbaikan kerusakan masih terus dilakukan,” ujar Abdul Mu’ti kepada awak media.
Menurutnya, prinsip utama yang dipegang pemerintah adalah memastikan seluruh anak tetap mendapatkan hak belajar, meskipun tidak selalu harus berlangsung di gedung sekolah seperti biasanya.
“Prinsipnya, semua anak kita usahakan tetap bisa belajar. Tidak harus selalu di sekolah asal. Bisa di sekolah lain, di tenda, atau melalui skema pembelajaran darurat. Kita juga akan membangun sekolah-sekolah darurat dalam waktu yang tidak terlalu lama,” katanya.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengungkapkan, hingga awal Januari 2026, pemerintah telah memasang 18 tenda sekolah di berbagai wilayah terdampak banjir di Aceh. Selain itu, ruang kelas darurat juga mulai disiapkan.
“Untuk sekolah yang bisa bertahan sampai tiga bulan, kita siapkan tenda. Kalau diperkirakan lebih dari enam bulan, kita bangun ruang kelas darurat. Total ada 46 ruang kelas yang disiapkan, dan sekitar 32 di antaranya sudah harus segera diproses pembangunannya,” kata Abdul Mu’ti.
Ia optimistis dalam satu hingga dua bulan ke depan, sebagian besar fasilitas pendidikan darurat dapat difungsikan.
Di SMA Negeri 4 Kejuruan Aceh Tamiang, Mendikdasmen juga menyerahkan bantuan pendidikan secara simbolis berupa 2.000 paket perlengkapan sekolah dan seragam bagi siswa terdampak.
“Sebagian anak-anak memang belum memakai seragam. Ini tidak menjadi persoalan. Yang penting mereka bisa belajar dengan baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murtalamuddin menyampaikan bahwa secara umum kondisi sekolah di Aceh mulai berangsur pulih.
Hampir 90 persen sekolah sudah bisa menjalankan aktivitas pembelajaran, meskipun dengan berbagai keterbatasan. Namun, sejumlah kendala masih ditemui, terutama di wilayah-wilayah yang rawan genangan susulan.
“Ada sekolah di pedalaman Aceh Timur yang sempat diliburkan kembali karena air tiba-tiba naik di sisi sekolah. Anak-anak dan guru sempat panik dan kembali pulang. Tapi secara umum, pembelajaran sudah mulai berjalan,” jelas Murthalamuddin.
Untuk mendukung kondisi psikologis siswa, pemerintah daerah telah mengeluarkan surat edaran pembelajaran darurat. Salah satu poinnya adalah kelonggaran penggunaan seragam.
“Tidak wajib berseragam. Yang penting anak-anak hadir. Ini bagian dari sekolah sosial, agar interaksi mereka dengan guru dan teman-temannya dapat mengurangi trauma sebagai penyintas bencana,” ujarnya.
Kondisi sekolah saat ini masih jauh dari sempurna. Dari laporan yang diterima, baru tiga sekolah yang telah dilengkapi meja dan kursi. Di sekolah lainnya, siswa terpaksa belajar di lantai karena perabot rusak akibat terendam banjir.
Namun, perbaikan tengah dikebut. Pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian serta melibatkan sekolah kejuruan setempat.
Tak hanya itu, bantuan juga datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi masyarakat sipil (CSO), lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha.
Dalam waktu sekitar dua minggu, meja dan kursi yang rusak akan kita ganti. Kita bekerja sama dengan SMK Furnitur di Aceh Tamiang. Mereka sudah membuat desain dan RAB-nya, dan sekarang sedang diproses,” tutupnya. [nh]