Minggu, 18 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Asap Karhutla Ancam Kesehatan Masyarakat Aceh, Kelompok Rentan Perlu Dilindungi

Asap Karhutla Ancam Kesehatan Masyarakat Aceh, Kelompok Rentan Perlu Dilindungi

Minggu, 18 Oktober 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Praktisi kesehatan dan pemerhati isu kesehatan Aceh, Indah Pinta Sari, M.Kep., CMHN., CWCCA., CBMT. Dokumen untuk dialeksis.com. 


DIALEKSIS.COM | Aceh Barat - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kiriman dari Kalimantan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan. 

Masyarakat Aceh diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi paparan asap.

Praktisi kesehatan dan pemerhati isu kesehatan Aceh, Indah Pinta Sari, M.Kep., CMHN., CWCCA., CBMT, mengatakan asap karhutla tidak dapat dipandang sekadar sebagai gangguan jarak pandang. Asap mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

“Asap karhutla bukan sekadar kabut biasa. Di dalamnya terdapat partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan zat berbahaya yang dapat berdampak pada kesehatan jika terhirup,” kata Indah kepada media dialeksis.com, Minggu (18/10/2025).

Menurut dia, paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan, seperti batuk, iritasi saluran pernapasan, dan sesak napas. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk penyakit yang sudah dimiliki seseorang, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Dampaknya tidak terbatas pada sistem pernapasan. 

Paparan polusi udara juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, asap dapat menyebabkan mata merah, mata berair, tenggorokan terasa gatal, serta iritasi kulit.

Indah menilai, kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak dan lansia, misalnya, membutuhkan perlindungan karena lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat pencemaran udara. 

Adapun ibu hamil perlu mengurangi paparan asap karena polusi udara berpotensi meningkatkan risiko gangguan kehamilan.

Paparan yang berlangsung lama juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Kekhawatiran terhadap kesehatan anggota keluarga, terutama anak-anak, dapat menambah beban bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak asap.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, Indah mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika asap semakin pekat atau kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat. Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar, sembari menjaga kualitas udara di dalam rumah.

Jika harus keluar rumah, masyarakat dapat menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik. Masker kain dan masker bedah memiliki keterbatasan dalam menyaring partikel halus, sehingga perlindungan perlu disesuaikan dengan tingkat paparan dan kondisi masing-masing.

“Masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar rumah ketika asap pekat. Jika terpaksa keluar, gunakan masker yang sesuai dan hindari berada terlalu lama di lingkungan yang terpapar asap,” ujar Indah.

Kebersihan rumah juga perlu diperhatikan. Indah menyarankan penggunaan kain basah saat membersihkan permukaan dan mengepel lantai agar debu tidak mudah beterbangan. 

Jika memungkinkan, masyarakat dapat menggunakan pembersih udara dengan penyaring yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah di sekitar rumah karena tindakan tersebut dapat menambah pencemaran udara.

Bagi penderita asma dan PPOK, ketersediaan obat yang diresepkan dokter perlu dipastikan. Penggunaan inhaler harus mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Apabila sesak napas semakin berat atau muncul keluhan serius, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Ibu hamil juga disarankan mengurangi paparan asap dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan yang mengkhawatirkan. Sementara itu, anak-anak dan lansia sebaiknya tidak melakukan aktivitas di luar rumah ketika asap pekat.

Indah mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, bibir membiru, atau gejala serius lainnya.

Selain langkah pencegahan di tingkat keluarga, Indah menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan informasi kualitas udara yang terbuka dan mudah diakses.

Informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) perlu disampaikan secara berkala agar masyarakat dapat mengetahui kondisi udara dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. 

Informasi tersebut juga penting bagi sekolah, fasilitas kesehatan, serta kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap pencemaran udara.

Menurut Indah, upaya perlindungan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan penanganan sumber pencemaran. Karena itu, pemerintah dan pihak terkait diharapkan mempercepat penanganan karhutla agar paparan asap tidak terus berlanjut dan mengganggu kehidupan masyarakat.

“Perlindungan pertama dimulai dari rumah kita masing-masing. Mari kita jaga kesehatan keluarga dan mengurangi paparan asap selama kondisi udara belum aman,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI