Senin, 25 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ama Gajah Kenang Tgk Syahrial, Cendekia Muda Linge yang Gugur di Masa Konflik Aceh

Ama Gajah Kenang Tgk Syahrial, Cendekia Muda Linge yang Gugur di Masa Konflik Aceh

Senin, 25 Mei 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Gambar dari kiri ke kanan; Fauzan Azima, Wapang Halidin Gayo dan Tengku Syahrial pada Rapat Neugara Aceh Merdeka, 1 Januari 2003 di Alue Dua, Nisam. Foto : William Nelsen


DIALEKSIS.COM | Aceh - Bagi Fauzan Azima, mantan Panglima GAM Wilayah Linge yang dikenal dengan sapaan Ama Gajah, sosok almarhum Tgk Syahrial bin Tgk Syahbudin bukan sekadar bagian dari sejarah konflik Aceh. Ia adalah potret anak muda Linge yang cerdas, berani, idealis, dan memilih jalan perjuangan bukan untuk kekuasaan, jabatan, apalagi memperkaya diri.

Dalam ingatan Ama Gajah, Tgk Syahrial adalah pemuda dengan kecerdasan menonjol. Di usia yang masih sangat muda, sekitar 24 tahun, ia telah dipercaya menjadi Sekretaris Wilayah Linge. Posisi itu menempatkannya sebagai salah satu petinggi muda yang mendampingi struktur pimpinan wilayah pada masa konflik.

“Beliau cerdas. Menguasai bahasa Arab dan Inggris. Kalau ada wartawan asing, beliau yang menjadi penerjemah,” kata Fauzan Azima kepada Dialeksis.

Menurut Ama Gajah, kecerdasan Tgk Syahrial ditempa dari latar pendidikannya. Almarhum pernah menimba ilmu dan mondok di salah satu pesantren modern di Sumatera Utara. Dari sana, Syahrial tumbuh sebagai anak muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga wawasan luas dan kemampuan berbahasa asing.

Namun, kecerdasan itu tidak membuat Syahrial memilih jalan yang aman. Ketika Aceh berada dalam pusaran konflik, ia justru memilih masuk lebih dalam ke rimba perjuangan. Kawasan Alue Papeun, Seumirah, Alue Dua, Gunong Salak, hingga Tupin Rusep di Sawang dan Nisam Antara, Aceh Utara, menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Rimba Sawang dan Nisam Antara itu seperti rumah kedua bagi beliau,” kenang Ama Gajah.

Dalam ingatan Fauzan, Syahrial adalah pemuda yang sangat idealis. Ia punya keyakinan kuat terhadap jalan yang dipilihnya. Salah satu kalimat almarhum yang paling membekas di ingatan Ama Gajah ialah, “Lebih baik berputih tulang dalam rimba daripada menyerah kepada musuh.”

Ama Gajah mengatakan, kenangan terhadap Syahrial terasa begitu dekat. Bahkan, ia menyebut seolah baru kemarin berjumpa dengan almarhum. Karena itu, menurutnya, sejarah seperti ini tetap aktual untuk ditulis agar generasi hari ini mengenal sisi manusiawi dari mereka yang pernah hidup dalam masa konflik Aceh.

Ia lalu mengenang hari-hari awal diberlakukannya Darurat Militer di Aceh. Saat itu, Ama Gajah bersama Tgk Syahrial masih berada di Keude Alue Papeun, Nisam, Aceh Utara. Mereka sedang menonton televisi dan belum mengetahui secara pasti bahwa Darurat Militer telah diberlakukan.

“Waktu itu Tgk Syahrial berkata kepada saya, ‘Kalau benar terjadi Darurat Militer, tidak lama lagi kita akan merdeka.’ Itu kalimat terakhir yang saya ingat dari beliau,” ujar Ama Gajah.

Setelah serangan di wilayah Nisam semakin gencar, mereka bergerak ke kawasan perbukitan Sawang. Namun, situasi di sana tidak lebih aman. Menurut penuturan Ama Gajah, kawasan tersebut dibombardir menggunakan pesawat Sukhoi dan Bronco. Mereka kemudian bergerak lagi ke arah Krueng Tuan.

Di kawasan itu, kontak tembak kembali terjadi. Pasukan lalu bergerak ke arah Bandar Selamat. Saat itu, rombongan Wapang Chalidin Gayo alias Jangko Mara, termasuk Tgk Syahrial, kembali bergerak ke arah Sawang.

Menurut Ama Gajah, setelah pembombardiran terjadi penyisiran oleh pasukan TNI. Rombongan Wapang terkepung dan berusaha menyelamatkan diri dengan menyeberangi Sungai Riseh Satu. Dalam situasi genting itu, Tgk Syahrial mengalami musibah. Kakinya terjepit di antara bebatuan saat menyeberang sungai.

“Beliau kemudian ditangkap pasukan TNI,” tutur Ama Gajah.

Ama Gajah menceritakan, dalam situasi itu Syahrial sempat diberi pilihan. Menurut penuturannya, pasukan TNI bertanya, “Pilih RI atau GAM?”

“Pilih GAM,” jawab Tgk Syahrial, sebagaimana dikenang Ama Gajah.

Tidak lama setelah jawaban itu, kata Ama Gajah, sejumlah tembakan mengenai dada Syahrial. Ia pun gugur di kawasan tersebut. Jenazahnya kemudian ditemukan masyarakat Sawang dan dimakamkan secara layak di wilayah Aceh Utara.

Kepergian Tgk Syahrial meninggalkan duka mendalam. Terlebih, sebelum Darurat Militer diberlakukan, almarhum disebut telah merencanakan pernikahan dengan Dewi, putri Kepala Biro Penerangan Wilayah Linge, Tgk Gele Bayak.

Bagi Ama Gajah, Syahrial seharusnya bisa menempuh jalan lain. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki, ia dinilai sangat layak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan, Ama Gajah mengaku pernah meminta Syahrial agar tidak ikut bergerilya.

“Saya melarang beliau ikut bergerilya karena beliau terlalu pintar untuk berperang. Saya minta beliau melanjutkan kuliah, tapi beliau tidak mau,” katanya.

Ama Gajah menyebut, pada masa itu ia sempat meminta beberapa orang yang memiliki potensi besar untuk keluar dari Aceh dan melanjutkan pendidikan. Salah satunya Tgk Mustawalad, yang kemudian disebut sempat menempuh pendidikan di Korea Selatan.

Namun, Syahrial memilih tetap bertahan. Pilihan itu, bagi Ama Gajah, menggambarkan kuatnya keyakinan almarhum terhadap perjuangan yang ia yakini.

Kini, nama Tgk Syahrial hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Ia dikenang sebagai cendekia muda Linge, sosok pemberani, menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum, serta memiliki kemampuan bahasa asing yang jarang dimiliki pemuda seusianya pada masa itu.

“Beliau berjuang untuk Aceh, bukan untuk kekuasaan, jabatan, atau memperkaya diri,” kata Ama Gajah.

Di akhir penuturannya, Ama Gajah berharap kisah almarhum tidak hilang ditelan waktu. Baginya, sejarah konflik Aceh tidak hanya berisi peristiwa politik dan senjata, tetapi juga kisah tentang anak-anak muda yang memilih jalan hidup dengan segala risiko dan keyakinannya.

“Masyarakat Aceh selalu mendoakan agar almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah,” ucapnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI