Beranda / Berita / Aceh / Akibat Cuaca Ekstrem di Aceh, Harga Ikan Naik Drastis

Akibat Cuaca Ekstrem di Aceh, Harga Ikan Naik Drastis

Selasa, 31 Mei 2022 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : auliana rizky

TPI Lampulo. [Foto: Dialeksis/au]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi, nelayan Banda Aceh tidak bisa melaut padahal stok ikan sangat menipis.

Dilansir dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tinggi gelombang 2.5-3.0 meter diperkirakan terjadi di Perairan Utara Sabang, Perairan Barat Aceh, Samudera Hindia Barat Aceh, dan Samudera Hindia Barat Nias. Perkiraan cuaca angin Tenggara-Barat Daya 2-25 knots sedangkan gelombang 1.25-2.50 meter.

Hal tersebut sangat berpengaruh buruk dengan nelayan, cuaca hujan selama empat hari berturut-turut membuat nelayan tidak bisa melaut, otomatis ikan tidak ada.

Tempat Penampungan Ikan (TPI) Lampulo adalah salah satu tempat masyarakat jual beli ikan yang tergolong besar di Banda Aceh. Akibat nelayan tidak melaut masyarakat tidak bisa membeli ikan meski harus dipaksa beli harganya mahal karena naik drastis dari harga sebelumnya.

Salah satu pedagang ikan bernama Anwar (40) mengatakan, stok ikan hampir tidak ada, ini disebabkan nelayan tidak melaut sudah beberapa hari, mulai hari Jumat- Selasa Mei.

Ia juga menyampaikan, harga ikan naik drastis dari sebelumnya, masyarakat jadi ogahan untuk membeli karena menurut mereka terlalu mahal.

"Pembeli sepi karena harganya naik drastis," ucapnya saat diwawancarai Dialeksis.com, Selasa (31/5/2022).

Lanjutnya, ikan tongkol ame-ame saja harganya capai Rp35.000,00-Rp40,000,00 padahal harga biasanya cuma Rp25.000,00 sedangkan ikan sisik dari Rp35.000,00 jadi Rp45.000,00.

"Ini sangat beda jauh, naiknya sampai Rp15.000,00, jadi masyarakat lebih baik beli ayam atau lainnya dibanding beli ikan," ujarnya lagi.

Akibat dampak tersebut membuat pedagang kecil sepertinya juga sulit dalam berjualan karena tidak terlalu laku. "Ya penjualan pasti menurun karena stok ikan tidak ada, orang beli juga berkurang," pungkasnya. [au]

Keyword:


Editor :
Alfatur

kip
riset-JSI
Komentar Anda