Minggu, 06 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / Gunung Anak Krakatau Erupsi, Kemenhub Pastikan Penerbangan Soekarno-Hatta Aman

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Kemenhub Pastikan Penerbangan Soekarno-Hatta Aman

Sabtu, 05 September 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat, 4 September 2026. [Foto: GRGarage]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memastikan operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tetap aman dan normal setelah Gunung Anak Krakatau erupsi pada Sabtu (5/9/2026).

Informasi erupsi diterima Ditjen Perhubungan Udara dari Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Berdasarkan ASHTAM Nomor VAWR3739 yang diterbitkan pukul 09.10 WIB, sebaran abu vulkanik terpantau sekitar 31,4 kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta.

Abu vulkanik juga terpantau sekitar 18,5 kilometer dari Bandara Pondok Cabe dan 31,4 kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Meski demikian, hasil pengamatan menggunakan paper test VA di Bandara Soekarno-Hatta hingga saat ini belum mendeteksi adanya abu vulkanik.

Ditjen Perhubungan Udara terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, serta maskapai penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan keselamatan penerbangan menjadi prioritas pemerintah dalam menghadapi aktivitas vulkanik tersebut.

"Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan keselamatan penerbangan serta kelancaran operasional bandar udara," ujar Lukman.

Kemenhub meminta maskapai dan seluruh pemangku kepentingan penerbangan meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau.

Informasi tersebut, antara lain, disampaikan melalui NOTAM (Notice to Airmen) dan ASHTAM (volcanic ash advisory) sebagai acuan dalam menentukan keputusan operasional penerbangan.

Pemantauan akan terus dilakukan, terutama terhadap perubahan arah dan sebaran abu vulkanik. Langkah penanganan dapat disesuaikan apabila kondisi tersebut berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub