Jum`at, 25 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / Minat Baca Anak Tinggi, TBM Pondok Baca Al-Munawwarah Terkendala Sarana dan Pendanaan

Minat Baca Anak Tinggi, TBM Pondok Baca Al-Munawwarah Terkendala Sarana dan Pendanaan

Jum`at, 25 September 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pendiri sekaligus pengelola TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, Jamalidiana. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Jantho - Minat anak-anak untuk mengikuti kegiatan literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pondok Baca Al-Munawwarah, Desa Meunasah Tutong, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, cukup tinggi. Namun, kegiatan tersebut masih menghadapi keterbatasan sarana dan pendanaan.

Pendiri sekaligus pengelola TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, Jamalidiana, mengatakan kendala utama yang dihadapi bukan pada semangat anak-anak untuk belajar, tetapi pada keterbatasan fasilitas dan biaya operasional.

"Kendala terbesar kami sebenarnya bukan pada semangat anak-anak untuk belajar, tetapi pada keterbatasan sarana dan pendanaan operasional yang rutin," ujar Jamalidiana kepada Dialeksis.com, Jumat (25/9/2026)

Perempuan yang akrab disapa Diana itu mengatakan TBM Pondok Baca Al-Munawwarah didirikan pada 20 Juni 2022 di halaman rumahnya. Sejak berdiri, kegiatan literasi masih berjalan dengan fasilitas seadanya karena belum memiliki gedung permanen.

Saat ini, TBM tersebut menaungi sekitar 50 anak dari dua desa. Kegiatan belajar dilakukan di ruang terbuka sehingga kondisi cuaca menjadi salah satu kendala.

"Kalau hujan atau terik, kegiatan anak-anak tentu terganggu karena kami belum memiliki tempat belajar yang permanen," katanya.

Diana sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK) menyebutkan, TBM Pondok Baca Al-Munawwarah pernah menerima bantuan 1.000 buku dan rak dari Perpustakaan Nasional RI pada Juli 2025. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu dalam menambah bahan bacaan bagi anak-anak.

"Kami memang pernah menerima bantuan seribu buku dan rak dari Perpustakaan Nasional RI pada Juli 2025, dan itu sangat membantu. Tapi bantuan buku saja tidak cukup jika tempat belajarnya belum layak," ujarnya.

Selain fasilitas, keterbatasan relawan juga menjadi tantangan dalam menjalankan kegiatan. Sebagian besar pengurus TBM masih berstatus pelajar dan mahasiswa sehingga harus membagi waktu antara kegiatan pendidikan dan pengelolaan pondok baca.

Diana berharap pemerintah daerah dan lembaga terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap TBM berbasis komunitas, terutama dalam penyediaan tempat belajar yang layak.

"Yang paling mendesak adalah dukungan pembangunan infrastruktur bagi TBM berbasis komunitas seperti kami. Bukan hanya bantuan buku, tetapi juga perhatian nyata terhadap tempat anak-anak belajar," katanya.

Ia juga berharap adanya akses pendanaan atau skema hibah khusus bagi TBM yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Menurut Diana, TBM yang telah memiliki legalitas berupa SK lembaga dan Nomor Pokok Perpustakaan semestinya dapat lebih mudah mengakses program pembinaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Ia juga mendorong agar kerja sama antara TBM, perguruan tinggi dan pemerintah daerah terus diperluas. Salah satunya melalui program KKN Literasi dan Numerasi dari Universitas Syiah Kuala yang sebelumnya telah dilaksanakan di TBM tersebut.

Diana berharap dukungan yang lebih berkelanjutan dapat membantu TBM Pondok Baca Al-Munawwarah menyediakan tempat belajar yang lebih layak sekaligus menjaga semangat anak-anak dalam mengikuti kegiatan literasi.

"Kami juga berharap ada pengakuan dan pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan satu kali kirim," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI