DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Museum Aceh mencatat 32.913 kunjungan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Menariknya, lebih dari separuh pengunjung merupakan anak-anak. Berdasarkan data aplikasi e-ticket Museum Aceh, sebanyak 18.000 pengunjung atau sekitar 55 persen berasal dari kelompok anak-anak.
Sementara itu, pengunjung dewasa tercatat 12.474 orang atau sekitar 38 persen, sedangkan tamu asing sebanyak 2.439 orang atau sekitar 7 persen.
Dominasi anak-anak menunjukkan Museum Aceh tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga berperan sebagai ruang belajar di luar sekolah untuk mengenal sejarah, budaya, dan warisan Aceh.
Dari sisi jumlah kunjungan, angka terendah terjadi pada Maret dengan 1.241 kunjungan. Setelah itu, jumlah pengunjung kembali meningkat dan mencapai puncaknya pada Mei dengan 5.300 kunjungan.
Pada Juni tercatat 4.677 kunjungan, Juli 3.176 kunjungan, dan Agustus kembali meningkat menjadi 4.938 kunjungan.
Pendapatan Capai Rp152,9 Juta
Dari total kunjungan tersebut, Museum Aceh mencatat pendapatan sebesar Rp152,9 juta. Kontribusi terbesar berasal dari pengunjung dewasa sebesar Rp62,3 juta, disusul anak-anak Rp54 juta dan tamu asing Rp36,5 juta.
Meski jumlahnya hanya sekitar 7 persen dari total kunjungan, wisatawan asing memberikan kontribusi sekitar 24 persen terhadap pendapatan tiket.
Data tersebut menunjukkan jumlah pengunjung tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Anak-anak menjadi kelompok pengunjung terbesar, sementara pengunjung dewasa dan wisatawan asing memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar.
Dengan masih tersisa empat bulan hingga akhir 2026, capaian ini dapat menjadi bahan evaluasi Museum Aceh untuk mempertahankan daya tarik bagi pelajar dan keluarga sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan dewasa dan mancanegara. [*]

