Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Tajuk / Musibah Banjir Disaat Corona

Musibah Banjir Disaat Corona

Jum`at, 08 Mei 2020 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Disaat negeri ini dilanda wabah corona, musibah lainya datang menerpa. Guyuran hujan yang tumpah dari langit, membuat sebagian kota di Aceh dilanda banjir. Alam yang tidak mau bersahabat? Atau kita melupakan alam, sehingga memunculkan bencana?

Dalam beberapa hari ke depan, BMKG mempridiksikan, Aceh akan mendapat tumpahan air dari langit. Untuk saat ini saja, Jumat (08/05/2020) beberapa kawasan di Aceh sudah dilanda banjir. Banda Aceh misalnya, banjir sudah melanda 6 kecamatan.

Dampak banjir ini puluhan kampung terendam. 190 KK mengungsi (145 KK di SD Garot, Kecamatan Imarah) dan beberapa rumah famili para korban yang terkena sapuan air tumpah dari langit ini.

Bila beberapa hari kedepan intensitas curah hujan tinggi, memunculkan peluang sebagian daratan di Aceh akan digenangi air. Di kawasan Banda Aceh saja, saat ini air yang mengenangi pemukiman warga ketinggianya antara 50-70 sentimeter. Bahkan di beberapa titik ketinggianya lebih dari 1 meter.

Rumah sakit, tempat “menyembuhkan” pasien Covid-19 juga ikut dijadikan air sebagai tempat persinggahanya. Benda cair yang bercampur dengan sejumlah limbah ini, berwarna pekat, bagaikan ingin membesuk pasien yang lagi sakit.

Sungai sungai yang ada di Aceh meluap. Air yang berebut, berlomba melesat deras menuju lautan, tidak peduli manusia lagi dipanikan dengan wabah corona. Demikian dengan lautan sudah hilang kesabaranya. Laut kembali memuntahkan air yang datang keperaduanya.

Sama seperti wabah, banjir juga tidak ada manusia yang menginginkanya. Namun ketika dia datang, dia tidak peduli siapa dan dimana. Kawasan yang dapat dialirinya akan dijadikan area kekuasanya.

Limbah hasil ciptaan manusia dikembalikan kepada pemiliknya. Air ingin menunjukan ulah manusia dalam menciptakan limbah, inilah hasilnya. Ketika barang yang sudah dibuang manusia itu dikembalikan kepada pemiliknya, apakah manusia tidak berpikir?

Rumus hidup ini sebenarnya sederhana. Saling memiliki dan berbagi kasih sayang. Bila kita mencintai alam dan bersahabat denganya, alam juga akan memberi dan menjaga kehidupan untuk kita.

Corona, sekaligus banjir yang kini menerpa kehidupan, tidak ada manusia yang memintanya. Namun ketika dia datang tidak ada manusia mampu membendungnya. Namun manusia yang diberikan Tuhan akal dan pikiran, sebenarnya mampu mengantisipasi dan menghindarinya.

Ketika corona datang, manusia punya kewajiban untuk menghindarinya. Bila upaya penghindaran sudah dilakukan maksimal (tanya ke diri kita apakah sudah maksimal menghindarinya). Bila wabah itu masih merajalela, maka kita berkewajiban menghadapinya. Berperang dengan mahluk yang tidak kasat mata itu.

Demikian dengan banjir. Sebelum air yang datang dengan segenap kekuatan, kita sebenarnya mampu menghindarinya. Menyiapkan diri dengan memberikan jalan kepada air pada tempatnya, sehingga dia tidak menjadikan pemukiman warga sebagai tempat persingahanya.

Apakah kita (pemerintah dan seluruh masyarakat) sudah menyiapkan dengan sebenar benarnya jalan yang seharusnya menjadi milik air. Kebanyakan manusia tidak serius menyiapkan jalan yang akan dilalui air. Bahkan ada diantara manusia yang serakah, justru menutup jalan air. Riol-riol tersumbat, berselamak dengan sampah.

Manusia tidak disiplin dalam mengurus limbah hasil ciptaanya. Parit dan sungai dibiarkan dangkal dan dijadikan tempat sampah. Bahkan sarana air ini ada yang dijadikan bangunan, tempat pemukiman, dan untuk tempat usaha manusia.

Kesadaran kita dalam mencintai lingkungan masih rendah. Air itu butuh aliran jalan untuk dia berteduh di muara dan berlabuh di sungai.

Bila jalanya kita sumbat, dia akan mencari jalan dengan caranya sendiri, sehingga menimbulkan bencana. Salahkah air yang mencari jalanya, bila kita tidak menyiapkan jalan untuknya menuju lautan?

Ketika kita sudah berusaha, menjaga dan memelihara jalan yang akan dilaluinya (tentunya dengan sepenuh hati dan benar serius), namun karena debitnya besar dan curah hujan tinggi, terjadi juga banjir, itu sudah sunnatullah. Takdir Tuhan diluar kemampuan manusia menjangkaunya.

Namun tanyakan pada diri sendiri? Apakah kita sudah berupaya maksimal, menyiapkan, memilihara jalan yang akan dilalui air, sehingga dia tidak menjadi petaka buat kita? Apakah diantara kita selama ini justru abai, bahkan justru menutup jalan yang akan dilalui benda cair ini?

Salahkah bila air menunjukan kekuatanya, dia juga punya hak sebagai mahluk Tuhan? Dia punya hak untuk menempati bumi, sama dengan manusia. Bila air punya hak di muka bumi ini, maka sediakanlah area untuknya. Jangan serakah, jangan jatah mahluk lainya justru kita renggut.

Ketika musibah demi musibah menimpa manusia, apakah kita yang diberikan Tuhan akal dan pikiran tidak merenung? Salah siapa? Apakah kita sudah mempersiapkan diri menghadapinya. Memberikan ruang kepada mahluk lainya, agar tidak menimbulkan petaka.

Musibah itu bisa berupa peringatan dan teguran. Bisa berupa ujian untuk mengukur ketangguhan kita sebagai manusia, dan tidak tertutup sebagai hukuman atas tingkah dan sikap kita. Bila kita mengandalkan akal, musibah itu sebenarnya ada yang masih mampu dihindari. Masih belum sadarkah kita,  siapa diri ini?


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda