Jum`at, 30 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / Wisata Danau Lut Tawar Bangkit, Drainase Sagi Onom Aceh Tengah Ditarget Rampung Desember 2026

Wisata Danau Lut Tawar Bangkit, Drainase Sagi Onom Aceh Tengah Ditarget Rampung Desember 2026

Jum`at, 30 Oktober 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Pembangunan drainase di kawasan Sagi Onom, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, telah mencapai progres sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2026. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Takengon - Pembangunan drainase di kawasan Sagi Onom, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, sudah 60 persen. Infrastruktur senilai Rp399,27 juta tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan wisata Danau Lut Tawar.

Pembangunan ini juga sebagai langkah antisipasi persoalan aliran air setelah peristiwa banjir dan longsor pada 26 November 2025.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pemerintah pusat dan daerah terus mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana, termasuk penanganan sungai dan saluran air untuk mengantisipasi banjir susulan.

“Karena sedimen ini kalau tidak ditangani, hujan lebat sedikit, banjir lagi,” ujar Tito dalam rapat koordinasi perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana Sumatra di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Penekanan tersebut sejalan dengan pekerjaan drainase di Sagi Onom. Setelah longsor mengganggu akses dan aktivitas masyarakat, pembenahan infrastruktur di kawasan ini diharapkan aktivitas masyarakat menjadi lebih aman, aktivitas ekonomi di kawasan pariwisata ini terutama makin bergeliat.

"Poin yang paling penting adalah pemulihan percepatan rehab-rekon bencana Sumatra terus berjalan dan ini berjalan sampai tahun 2028," ujar Tito.

Wisatawan Kembali, Harapan Pedagang Tumbuh

Dampak pemulihan infrastruktur juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar. Susanti (59), pedagang gorengan sekaligus pemilik warung makan di kawasan Sagi Onom, mengaku mulai merasakan meningkatnya aktivitas wisatawan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai ramai. Wisatawan dari Aceh, dari luar Aceh, dan dari berbagai daerah lainnya sudah mulai berdatangan. Jadi, suasananya sudah mulai ramai kembali dibandingkan sebelumnya,” ungkap Susanti.

Kembalinya wisatawan memberikan harapan bagi pedagang kecil yang sebelumnya ikut merasakan dampak terganggunya akses akibat longsor. Pengunjung yang singgah menjadi peluang bagi warung-warung masyarakat untuk kembali memperoleh pemasukan.

Bagi Susanti dan pelaku usaha lainnya, pemulihan kawasan bukan hanya tentang selesainya pembangunan fisik, tetapi juga kembalinya aktivitas ekonomi yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

Susanti (59), pedagang gorengan sekaligus pemilik warung makan di kawasan Sagi Onom, mengaku mulai merasakan meningkatnya aktivitas wisatawan. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR].

Progres Drainase Capai 60 Persen

Pembangunan drainase di Sagi Onom mencakup penanganan sepanjang sekitar 80 meter, termasuk pekerjaan drainase dan bagian turap. Hingga akhir Oktober 2026, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 60 persen.

Proyek tersebut memiliki nilai kontrak Rp399,27 juta dengan masa pelaksanaan 10 September hingga 9 Desember 2026. Pelaksana menargetkan pekerjaan selesai pada 8 Desember 2026, sehari sebelum masa kontrak berakhir.

Penyelesaian konstruksi menjadi perhatian penting mengingat kawasan tersebut memiliki tantangan aliran air dari bagian atas. Drainase diharapkan mampu mendukung pengelolaan limpasan air sehingga tidak kembali mengganggu lingkungan dan akses masyarakat, terutama ketika curah hujan meningkat.

Tito juga meminta Kementerian Pekerjaan Umum menjadikan penanganan sungai rawan banjir sebagai prioritas super menjelang puncak musim hujan pada November 2026.

Per 25 Oktober 2026, pagu efektif penanganan bencana Sumatera di Kementerian PU tercatat Rp21,42 triliun. Anggaran tersebut mencakup sektor sumber daya air, jalan dan jembatan, sistem penyediaan air minum, persampahan, serta prasarana strategis.

Sejalan dengan Target Renduk 2026-2028

Pemulihan tersebut tertuang dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028. Renduk mengarahkan pemulihan pariwisata pada pengembangan destinasi yang berkelanjutan, layak secara ekologis, dan aman dari risiko bencana. 

Programnya meliputi perbaikan akses dan fasilitas destinasi, pelatihan pelaku usaha, pengembangan desa wisata, hingga pengaktifan kembali kegiatan budaya dan promosi digital.

Melalui berbagai program tersebut, pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga mengembalikan sumber penghasilan masyarakat, membuka kembali aktivitas usaha, dan memperkuat ekonomi daerah. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI