Sabtu, 31 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / Puluhan Pekerja Bertahan di Tengah Hujan Pulihkan Akses Wih Delung Semayun

Puluhan Pekerja Bertahan di Tengah Hujan Pulihkan Akses Wih Delung Semayun

Sabtu, 31 Oktober 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Sebanyak 35 pekerja terus berjibaku di Tengah hujan, mengerjakan Box Culvert dan Retaining Wall untuk memulihkan akses Wih Delung Semayun di Jalan Buntul Nangka, Kampung Paya Gajah, Kecamatan Bukit, Bener Meriah. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Redelong - Hujan tidak menghentikan langkah 35 pekerja yang sedang memulihkan akses Wih Delung Semayun, di Jalan Buntul Nangka, Kampung Paya Gajah, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.

Dengan mengenakan jas hujan, para pekerja tetap turun ke lokasi ketika kondisi memungkinkan. Mereka melanjutkan pembangunan Box Culvert dan Retaining Wall yang ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026.

“Kita bekerja memakai baju hujan,” kata Muhammad, kepala tukang proyek.

Para pekerja dibagi dalam dua sif. Pergantian kelompok dilakukan untuk memaksimalkan waktu kerja yang tersedia, termasuk melanjutkan pekerjaan pada malam hari ketika kondisi cuaca memungkinkan.

Bagi para pekerja, setiap waktu menjadi penting. Proyek ini bukan semata mengejar target konstruksi, tetapi juga bagian dari upaya mengembalikan akses masyarakat yang terputus sejak banjir bandang pada akhir 2025.

Hujan Datang, Pekerjaan Tak Berhenti

Hujan menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan. Ketika kondisi lapangan tidak memungkinkan, aktivitas konstruksi dihentikan sementara untuk menjaga keselamatan pekerja. Namun, pekerjaan persiapan tetap dilakukan.

PPTK proyek, Majak, mengatakan para pekerja mengerjakan sejumlah pekerjaan di gudang ketika hujan menghambat aktivitas di lapangan. Besi diikat dan dibengkokkan untuk mempersiapkan tahapan konstruksi berikutnya.

Tantangan lain juga muncul ketika aliran air masuk ke area konstruksi dan memicu longsor. Kondisi tersebut bahkan berdampak pada bagian pekerjaan yang sebelumnya telah dikerjakan.

“Yang sedang dikerjakan harus diulang lagi,” ujar Muhammad. Pekerjaan kemudian dilanjutkan secara bertahap setelah kondisi memungkinkan.

Sejalan dengan Pemulihan Pascabencana Sumatra

Pemulihan Wih Delung Semayun merupakan bagian dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang lebih luas di Sumatra. Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028, pemulihan konektivitas menjadi salah satu bagian penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pembangunan kembali diarahkan agar tidak sekadar mengembalikan kondisi infrastruktur seperti sebelum bencana, tetapi juga menerapkan prinsip pembangunan yang lebih baik, lebih aman dan berkelanjutan.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan sebagian besar jalan dan jembatan yang terdampak bencana di Sumatera kini telah kembali berfungsi.

Menurut Tito, pemulihan tersebut dilakukan melalui kerja bersama Kementerian Pekerjaan Umum, TNI, Polri dan berbagai pihak terkait.

“Jembatan, jalan, rata-rata semuanya sudah fungsional, kecuali beberapa jembatan daerah dan ini dikeroyok semua, baik oleh PU, TNI, Polri semua bergerak,” kata Tito saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatera, di Ruang Rapat Posko Nasional Satgas PRR, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/10/2026).

Arah pemulihan tersebut juga sejalan dengan penegasan Ketua Pengarah Satgasnas PRR sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono yang sebelumnya menekankan pentingnya membangun kembali infrastruktur terdampak bencana dengan memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan.

“Kita harus membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” kata Sugiono.

Empat dari Tujuh Segmen Telah Rampung

Di tengah tantangan tersebut, progres pekerjaan terus bergerak. Dari tujuh segmen pembangunan dinding penahan tanah, empat segmen telah selesai, sementara tiga segmen lainnya masih dalam proses pengerjaan.

Proyek senilai Rp4,8 miliar (Rp4.840.995.000) yang dikerjakan CV Cipta Indah tersebut diharapkan dapat mengembalikan akses penghubung Kecamatan Bukit dan Kecamatan Bandar.

Sejak jembatan di kawasan tersebut putus akibat banjir bandang, masyarakat yang menuju Kampung Delung dan Ujung Gele harus menggunakan jalur alternatif melalui Simpang Tiga Pondok Baru.

Jalur tersebut sebelumnya menjadi akses penting bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan ekonomi, perjalanan sekolah hingga mendapatkan pelayanan publik.

Karena itu, progres pembangunan bagi masyarakat tidak sekadar dihitung dari jumlah segmen yang telah selesai. Setiap bagian konstruksi yang berdiri menjadi tanda bahwa akses yang selama ini terputus semakin dekat untuk kembali digunakan.

Kebutuhan Pemulihan Bener Meriah

Kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi di Bener Meriah tergolong besar. Berdasarkan data Renduk PRRP, nilai kerusakan akibat bencana di daerah tersebut mencapai sekitar Rp4,54 triliun, sedangkan kerugian diperkirakan Rp1,19 triliun.

Dengan demikian, total nilai kerusakan dan kerugian mencapai sekitar Rp5,73 triliun. Sementara kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan mencapai Rp5,93 triliun.

Dalam konteks tersebut, pemulihan infrastruktur konektivitas menjadi bagian penting dari proses pemulihan masyarakat. Jalan dan jembatan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik dan mobilitas warga.

Pembangunan Box Culvert dan Retaining Wall di Wih Delung Semayun menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Box culvert merupakan struktur beton berbentuk kotak yang berfungsi sebagai saluran air atau gorong-gorong dan dapat menopang beban kendaraan di atasnya. Sementara retaining wall atau dinding penahan tanah berfungsi menahan tekanan lateral tanah, terutama pada area dengan perbedaan elevasi, sehingga membantu mengurangi risiko longsor, erosi dan pergeseran tanah.

Dengan empat dari tujuh segmen dinding penahan tanah telah selesai, pekerjaan pemulihan Wih Delung Semayun terus berlanjut.

Di tengah hujan, pergantian sif dan pekerjaan yang sempat harus diulang, para pekerja tetap mengejar target penyelesaian. Bagi mereka, target 31 Desember 2026 bukan hanya angka dalam jadwal proyek, tetapi juga harapan agar akses masyarakat yang terputus dapat kembali digunakan. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI