Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Sosok Kita / Kisah Rusmini, Berjuang di Atas Tanah Bencana Menerimanya dengan Lapang Dada

Kisah Rusmini, Berjuang di Atas Tanah Bencana Menerimanya dengan Lapang Dada

Jum`at, 06 Maret 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Ibu Rusmini asal Desa Air Tenang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Foto: for Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Aceh - Rusmini (60 tahun) masih mengingat betul bagaimana rumahnya berdiri kokoh di Desa Air Tenang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Di rumah itu, ia membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Empat anaknya yang kini telah berkeluarga tinggal berdekatan dengannya, bersama 11 cucu yang kerap meramaikan halaman.

Namun banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada November tahun lalu mengubah semuanya. Rumah yang telah puluhan tahun menjadi tempat berkumpul keluarga lantas hanyut, menyisakan puing dan tanah lapang yang mulai tandus.

Saat ditemui relawan Rumah Amal Salman, Rusmini berdiri di lokasi bekas rumahnya. Tidak banyak keluhan yang ia sampaikan. Baginya, kehilangan rumah memang berat, tetapi keselamatan keluarga adalah hal utama.

“Rumah memang tempat berlindung, tapi ini ujian. Yang penting kami masih selamat,” ujarnya tenang.

Sejak bencana, Rusmini dan keluarganya sempat tinggal di tenda darurat. Namun cuaca panas membuat mereka tidak bisa lama tinggal di sana. Sambil menunggu bantuan, mereka berinisiatif memanfaatkan papan dan material sisa yang masih bisa digunakan untuk membangun gubuk sederhana di atas tanah bekas rumahnya.

Bangunan itu jauh dari kata layak, tetapi cukup untuk berteduh sementara. Rusmini menyadari proses pemulihan tidak akan berlangsung cepat. Banyak warga lain yang juga terdampak dan membutuhkan bantuan serupa.

Ia pun berusaha menjaga suasana tetap kondusif di lingkungannya. Menurutnya, saling menguatkan dan bersabar menjadi langkah awal agar kehidupan bisa kembali berjalan perlahan.

“Kita harus sabar, jika masih ada tenaga, bisa mengerjakan hal-hal yang bermanfaat agar tidak terlalu larut dalam kesedihan,” katanya pelan.

Rusmini belum tahu kapan rumah permanen bisa kembali dibangun. Namun ia memilih fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan hari ini, membersihkan lahan, menyusun kembali sisa material, dan memastikan anak-cucunya tetap sehat.

Di tanah yang sama tempat rumahnya pernah berdiri, Rusmini memulai kembali dengan langkah sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya berharap kondisi perlahan membaik dan keluarganya bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak. Baginya, harapan bukan tentang sesuatu yang besar, melainkan tentang keberanian untuk bertahan dan terus bekerja meski dari titik paling awal.

Sementara itu, Manager Program Rumah Amal, Abdul Aziz menuturkan salah satu kebutuhan mendesak di lokasi tersebut yakni akses air bersih. Sehingga ia bersama Kampus ITB membangun fasilitasi air bersih yang memanfaatkan sumur bor di Musala An-Nur, lalu mendistribuskannya dengan Pipa HDPE sepanjang lebih dari 2 km. Lalu setiap 50 meter pipa dipasang kran hidran umum, tujuannya agar distribusi lebih mudah dijangkau warga tanpa harus mengantri di Mushola.

“Air menjadi prioritas karena ini kebutuhan dasar. Kami pusatkan di musala supaya warga bisa mengambil lebih mudah mendekati lokasi pengungsian,” ujar Abdul Aziz.

Selain itu, selama Ramadhan, warga Desa Air Tenang juga menerima bantuan paket berbuka puasa, sembako, dan bingkisan Lebaran hasil kolaborasi Rumah Amal Salman dan Paragon Corp. Bantuan tersebut membantu meringankan kebutuhan harian warga di tengah masa pemulihan.

Bantuan tersebut disambut antusias oleh warga. Di tengah keterbatasan, kehadiran makanan berbuka dan paket kebutuhan pokok bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga suntikan semangat bahwa mereka tidak sendiri.

Program pemulihan pasca bencana di lokasi Sumatera juga menjadi bagian dari kampanye "Ramadhan Memulihkan" yang sedang dijalankan Rumah Amal bersama para mitra. Berharap program-program bisa berdampak jangkan panjang untuk masyarakat ***

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI