Senin, 15 Juni 2026
Beranda / Sosok Kita / Bustami Usman, Jejak Panjang dari Dayah ke Ruang Akademik

Bustami Usman, Jejak Panjang dari Dayah ke Ruang Akademik

Minggu, 14 Juni 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dr. Bustami Usman, S.H., SAP., M.Si sosok pejuang dayah dan akademisi. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Nama Dr. Bustami Usman, S.H., SAP., M.Si bukan sosok baru dalam perjalanan birokrasi, pendidikan dayah, organisasi keumatan, hingga ruang akademik di Aceh. Ia dikenal sebagai figur yang lama bersentuhan dengan dunia dayah, pemerintahan, dan aktivitas sosial keagamaan.

Berdasarkan data akademik Universitas Syiah Kuala, Bustami Usman lahir di Pidie pada 31 Desember 1959. Saat ini, ia tercatat sebagai dosen tetap pada Program Studi Ilmu Pemerintahan, FISIP USK, dengan bidang keilmuan ekonomi pemerintahan dan kebijakan publik. Dalam laman Fakultas, Bustami juga tercatat menamatkan pendidikan magister pada 1993 di Universitas Gadjah Mada bidang Administrasi Publik dan menyelesaikan program doktor pada 2014 di Universitas Syiah Kuala bidang ekonomi regional.

Jejak Bustami dalam birokrasi Aceh terbilang panjang. Sejumlah catatan publik menyebut ia pernah menduduki posisi strategis, antara lain Kepala Biro Isra Setda Aceh, Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh, serta beberapa kali dipercaya memimpin lembaga yang membidangi pendidikan dayah Aceh. Dalam catatan AcehTrend, Bustami juga pernah disebut sebagai figur yang tiga kali memimpin Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh, yang kemudian dikenal sebagai Dinas Pendidikan Dayah Aceh.

Sosok Bustami kerap dikaitkan dengan penguatan pendidikan dayah. Dalam sebuah kegiatan sosialisasi pendataan EMIS Dayah/Pondok Pesantren pada 2017, Bustami menekankan bahwa dayah bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga benteng akidah dan kekuatan sosial masyarakat Aceh di tengah perubahan zaman. Ia menilai pendataan lembaga, santri, pendidik, dan program dayah menjadi bagian penting untuk memperkuat kapasitas dayah secara lebih profesional.

Kedekatan Bustami dengan kalangan dayah juga terekam dalam sejumlah pemberitaan. Wakil Pimpinan Dayah Darussalam Lampoh Tuah, Grong-Grong, Pidie, Teungku Ibrahim, pernah menyebut Bustami sebagai bagian dari lingkungan dayah tersebut dan sosok yang peduli terhadap pengembangan dayah di Aceh. Pimpinan dayah setempat, Waled Aminuddin, juga menilai pola bantuan dan perhatian pemerintah melalui Dinas Pendidikan Dayah pada masa Bustami ikut membantu peningkatan fasilitas dayah.

Di luar birokrasi, Bustami aktif dalam organisasi sosial-keagamaan. Pada 2023, ia kembali terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia atau PW-IPHI Aceh periode 2023 - 2028 setelah sebelumnya memimpin organisasi tersebut pada periode 2018 - 2023. Muswil VII IPHI Aceh berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh dan diikuti jajaran IPHI kabupaten/kota se-Aceh.

Bustami juga pernah dikukuhkan sebagai Ketua DPD Satuan Karya Ulama Indonesia Provinsi Aceh masa bakti 2022 - 2027. Dalam sambutannya saat pelantikan, ia mengajak pengurus memperkuat silaturahmi dan menyukseskan mandat organisasi.

Selain dikenal sebagai tokoh dayah dan organisasi keumatan, Bustami juga memiliki rekam jejak pemerintahan daerah. Dalam sejarah pemerintahan Kota Langsa, ia tercatat pernah menjabat sebagai Penjabat Wali Kota Langsa pada periode Maret hingga Agustus 2012.

Sebagai akademisi, Bustami tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat dalam aktivitas riset dan publikasi. Laman Fakultas USK mencatat fokus kajiannya pada ilmu pemerintahan, dengan publikasi pada jurnal dan prosiding. Salah satu publikasi yang memuat namanya sebagai penulis adalah artikel di Jurnal Samarah UIN Ar-Raniry terkait analisis tafsir al-ahkam atas kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan.

Dengan latar birokrat, akademisi, dan aktivis organisasi keumatan, Bustami Usman menjadi salah satu figur yang jejaknya melekat dalam dinamika pendidikan dayah Aceh. Ia bergerak dari ruang pemerintahan, forum dayah, organisasi haji, hingga kampus, membawa narasi yang sama: penguatan lembaga keislaman dan pembangunan sumber daya manusia Aceh.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI