Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Sosok Kita / Agus Wandi Aktivis Aceh Penakluk Antartika

Agus Wandi Aktivis Aceh Penakluk Antartika

Kamis, 09 April 2020 19:43 WIB

Font: Ukuran: - +


Sosok lekaki ini pada saat Aceh dicabik-cabik konflik, namanya menjadi terkenal. Dia bersama rekan rekanya, aktif sebagai aktivis. Suaranya lantang dan tegas. Mempersoalkan ketidakadilan pemerintah dan pelanggaran HAM terhadap Aceh. Kalangan militer menjadikanya sebagai musuh negara.

Penulis menyaksikan bagaimana aktivis yang tergabung dalam SMUR ini “menelanjangi” sejumlah pejabat negara, ketika dilangsungkan pertemuan di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Mendagri, Syarwan Hamid dan rombongan dibuat “mati kutu”.

Kapolda Aceh Bachrumsyah Kasman, duduk bangun meminta peserta pertemuan untuk santun. Hampir semua peserta yang berkesempatan berbicara, menyerang pejabat pusat yang turun ke Aceh. Hasilnya, pertemuan panas itu tidak seperti yang diharapkan penyelenggara.

Kini dia kembali menjadi buah bibir. Bukan karena aksinya sebagai aktivis. Namun sebagai putra Aceh, dia mampu menjinakan ganasnya Antartika, belahan bumi yang dipenuhi hamparan es. Kesuksesanya menggapai bumi hamparan es pada tahun lalu menjadi perhatian nitizen.

Walau aksi penaklukan Antartika itu  sudah berlangsung Januari tahun lalu, namun dia tercatat satu-satunya putra Aceh yang menapakkan kakinya di negeri dalam balutan es. Agus Wandi, begitu namanya ditabalkan. Kini usianya menjelang 42 tahun.

Pengalaman menariknya menundukan Antartika, dia tuangkan di laman facebook miliknya. Media juga mengangkat aktivitasnya yang sudah mengharumkan Aceh ini. Ada seorang manusia dibelahan ujung barat pulau Sumatera, yang sampai ke negeri beku ini. Kutup Selatan bumi yang 98 persen hamparanya dilapisi es.

Agus Wandi menuturkan kisahnya menapaki kaki di kutub selatan itu. Dari sumber halaman FB nya dan media yang sudah mengangkat sosok aktivis ini, bagaimana Agus Wandi mempersiapkan diri menundukan hamparan es yang dijadikan penelitian oleh 40 negara ini tentang rahasia alam.

Sebagai orang Aceh dia bangga mampu menapaki kaki di Antartika. Kisahnya menjadi motisivasi bagi generasi muda lainya, untuk bertandang ke negeri putih hamparan bongkah pembekuan. Dia sudah berada di kota Ushuaia Argentina pada 2 Januari lalu. Ushuaia merupakan kota terakhir dan terdekat dengan Benua Antartika.

Sepeluh hari kemudian baru dia bersama timnya menapaki kaki di Antartika. Negeri yang dipenuhi bongkahan es, sangat jarang hujan, namun bekuan es di sana menghasilkan 78 persen air tawar.

Agus Wandi bukan hanya sukses menaklukan Antartika. Namun dia merupakan generasi tangguh Aceh yang memiliki talenta. Dia dilahirkan tepat pada hari ulang tahun Kemerdekaan RI 1978 di Sibreh, Aceh Besar.

Dia merupakan putra Aceh yang berkarir di markas PBB. Organisasi yang menaungi seluruh bangsa di muka bumi ini (United Nation), telah membuat Agus Wandi banyak melangkahkan kakinya ke sejumlah negara belahan dunia.

Di PBB dia tergabung dalam United Nation Development Program (UNDP). Ia menjadi relawan di UNDP, dengan jabatan sebagai chief technical spesialist crisis prevention and mitigation dan tinggal di Freetown, ibukota Republik Sierra Leone, sebuah negara di Afrika Barat.

Dia juga pernah bertugas sebagai spesialis kohesi sosial di Kepulauan Solomo, negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan yang terletak di sebelah timur Papua Nugini dan merupakan bagian dari Persemakmuran.

Sebelum dia melanglang buana dibelahan dunia, Agus Wandi mulai dikenal publik ketika dia menjabat sebagai Sekjen Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR). Sebuah organisasi mahasiswa di Aceh melakukan gerakan perlawanan rakyat, menuntut pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) dan melengserkan rezim Suharto.

Aksi aksi kelompok ini ( Agus Wandi, Kautsar, Thamren Ananda, Rahmat Djailani, Raihan Diani dan sejumlah aktivis lainya) menjadikan mereka sebagai manusia aktivis yang diburu aparat keamanan.

Aksi kucing kucingan, menghindar, mencari ke tempat yang relatif aman harus dilakukan para aktivis ini. Kisah penyelamatan diri para aktivis keras ini banyak pihak yang membahasnya, bahkan ada yang menjadikan dalam bentuk buku.

Bahkan Agus Wandi juga menerbitkan buku 9 Langkah Memajukan Diri dan Aceh. Pemuda Aceh yang fasih berbahasa Inggris dan memiliki latar belakang pengetahuan sosial politik , terutama tentang isu HAM, perdamaian, keamanan dan politik global, sempat terjun ke dunia politik.

Bersama rekan-rekan aktivis ketika hangat hangatnya rakyat Aceh mendirikan partai lokal, dia ikut mendirikan Partai Rakyat Aceh (PRA) sebagai sebuah partai lokal. Namun partai PRA kurang mendapat dukungan rakyat. Ahirnya ada beberapa pendiri partai ini melirik partai lainya.

Agus Wandi memilih tidak terjun ke dunia politik, namun dia berkarir di luar negeri, bergabung dengan UNDP, sebuah organisasi di bawah naungan PBB. Disini dia mulai melanglang buana ke sejumlah negara.

Sebagai generasi muda Aceh, Agus, dalam tulisanya di laman FB dan kepada media, dia sangat berharap agar generasi muda Aceh lebih maju, kiranya penambahan porsi Bahasa Inggris di sekolah dan Universitas mendapat prioritas.

Aceh bisa menang satu langkah dibanding lulusan sekolah tempat lain di Indonesia. Seperti tamatan Malaysia, Singapura atau Filipina yang mampu bersaing di tempat kerja regional dan internasional, hanya karena menang bahasa, tulis akvitis masa konflik Aceh ini.

Walau kini dia melanglang buana di belahan dunia, pemikiran dan jiwanya masih tetap untuk Aceh, tanah kelahiranya yang penuh dengan suka dan duka. Tempatnya berjuang menapaki hidup.

Sosok lelaki ini sudah mengukir sejarah di Aceh, khususnya ketika negeri ini dicabik-cabik konflik. Dia diburu aparat keamanan. Dicatat sejarah sebagai pendiri partai lokal, sampai ahirnya beraktivitas di luar negeri hingga menundukan keganasan Antartika.

Alam dan waktu telah menempanya. Setiap masa ada manusianya dan setiap manusia ada masanya. Agus Wandi sudah memiliki catatan sejarah untuk negeri Serambi Mekkah. ( Bahtiar Gayo)

Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda