DIALEKSIS.COM | Lhoksukon - Momentum Idulfitri 1447 Hijriah dimanfaatkan masyarakat Aceh untuk kembali merajut kebersamaan dan mempererat silaturahmi.
Salah satu tradisi yang masih terus dijaga adalah memasak kuah beulangong, hidangan kari kambing khas Aceh yang dimasak bersama dalam satu kuali besar sebagai simbol persaudaraan. Tradisi ini juga terlihat dalam kegiatan Halal Bihalal ketiga Marhalah Askar Mazaya Misbahul Ulum Lhokseumawe yang digelar di Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan tersebut dihadiri para anggota Marhalah Askar Mazaya dalam suasana penuh kehangatan. Mereka berkumpul, memasak bersama, makan bersama, serta saling berbagi cerita yang semakin mempererat ikatan persaudaraan yang telah terjalin sejak lama.
Ketua Marhalah Askar Mazaya, Lukmanul Hakim, mengatakan bahwa tradisi kuah beulangong bukan sekadar kegiatan memasak bersama, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Aceh, terutama pada momentum Idulfitri.
“Tradisi kuah beulangong ini sudah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh. Setiap Idulfitri, kegiatan seperti ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan memperkuat ukhuwah di antara kita,” ujar Lukmanul Hakim kepada media dialeksis.com, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut para anggota Marhalah Askar Mazaya memasak kari kambing khas Aceh menggunakan satu ekor kambing yang dimasak bersama dalam kuali besar.
Proses memasak dilakukan secara gotong royong, mulai dari mempersiapkan bahan hingga menyajikan makanan untuk disantap bersama.
Menurutnya, kebersamaan dalam memasak hingga menikmati hidangan bersama menjadi cara sederhana namun bermakna dalam menjaga hubungan persaudaraan.
"Setiap tahun memang menjadi tradisi bagi kami untuk berkumpul seperti ini. Selain menikmati hidangan kuah beulangong, yang paling penting adalah kebersamaan dan silaturahmi yang terjalin,” katanya.
Suasana halal bihalal berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Setelah memasak dan makan bersama, para peserta juga mengisi waktu dengan berbincang santai serta berbagi cerita dan pengalaman yang semakin memperkuat persahabatan di antara mereka.
Seluruh kebutuhan kegiatan tersebut berasal dari sumbangan sukarela para anggota Marhalah Askar Mazaya. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan, termasuk penyediaan bahan makanan.
Lukmanul Hakim menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh kawan-kawan yang telah berpartisipasi, baik melalui sumbangan, tenaga, pikiran, maupun kehadiran dalam kegiatan ini. Setiap bentuk dukungan yang diberikan sangat berarti bagi kebersamaan kita,” ujarnya.
Ia juga berharap kebersamaan yang telah terbangun dapat terus terjaga dan kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada masa mendatang.
Bagi masyarakat Aceh, tradisi kuah beulangong bukan hanya sekadar sajian kuliner, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna. Melalui tradisi ini, nilai gotong royong, persaudaraan, dan silaturahmi terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi, terutama pada momen suci Idulfitri.
“Semoga ketulusan yang telah diberikan menjadi amal kebaikan di sisi Allah SWT, dilapangkan rezeki, diberikan kesehatan, serta senantiasa berada dalam keberkahan. Kami juga memohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan,” tutupnya. [nh]