DIALEKSIS.COM | Jakarta - Lanskap pegunungan Dieng, Wonosobo, menjadi saksi lahirnya sebuah pertunjukan musik yang tidak sekadar konser, melainkan perjalanan artistik yang menyatukan alam, identitas, dan proses panjang di balik karya.
Direkam secara langsung di tengah suhu dingin, angin kencang, dan hujan khas dataran tinggi, proyek ini menghadirkan delapan komposisi dalam format live audio visual, memperkuat pengalaman imersif antara musik dan lanskap alam. Pertunjukan ini tayang perdana pada 20 Februari 2026 melalui kanal YouTube The Atjeh Connection.
Proyek kolaboratif bertajuk Keubitbit & The Atjeh Connection ini dieksekusi dengan konsep artistik yang matang oleh Aloel Keubitbit selaku konseptor dan art director. Proses produksi dipimpin oleh Amir Faisal sebagai Executive Producer, dengan dukungan tim produksi yang solid serta pengambilan gambar menggunakan lima kamera untuk menangkap dinamika visual dari berbagai sudut.
Pertunjukan dibuka dengan segmen Behind The Scene (BTS), dilanjutkan arsip perjalanan Keubitbit dan deskripsi pengantar sebelum memasuki rangkaian lagu. Delapan karya yang dibawakan antara lain SiCupak Lada, Sep Sep Hansep, Angen, Saban Sabee, Rhambule, Akulah Malaka, Kasad, hingga Saba. Di tengah pertunjukan juga diselipkan segmen The Atjeh Connection sebagai refleksi kolaborasi kreatif lintas komunitas.
Secara musikal, Keubitbit tampil dengan formasi lengkap: Aloel Keubitbit (Safrullah) pada electric bass dan backing vocal, Indra Fahmi Hakim (drum dan perkusi), Teuku Hariansyah (rapa’i dan gendrang), Raden Trio Ananda Bagus Prakoso (saksofon), Fahmil Arabi (lead vocal), Hijruddin Marlin (gitar akustik), serta Trinanda Imawan Wibisono (piano).
Seluruh lagu di-mixing dan mastering oleh Aloel Keubitbit bersama KREATE, memastikan kualitas audio tetap optimal meski direkam dalam kondisi alam terbuka.
Di balik layar, proyek ini didukung tim profesional: Audio Engineer Kardian Pradipta Paramey, Chief Recording Trinanda Imawan Wibisono, serta kru produksi Edi Purwanto, Dedi Kusworo, dan Hasanuddin Syah. Produksi video ditangani oleh Ikhwan Harpianda bersama Dzikri Haqiqi, sementara tim kreatif diperkuat Revi Maudy Vekelita dan Kiel Dharmawel, dengan tata busana oleh Annisa Nur Ratnasari.
Executive Producer sekaligus Founder The Atjeh Connection, Amir Faisal Nek Muhammad, menegaskan bahwa proyek ini bukan hanya tentang produksi musik, tetapi tentang membangun ekosistem kreatif bagi generasi muda Aceh.
“The Atjeh Connection lahir dari keyakinan bahwa anak-anak muda Aceh memiliki potensi besar untuk berdiri sejajar di panggung nasional bahkan internasional. Tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Kami ingin menghadirkan ruang, jaringan, dan dukungan yang konkret agar talenta-talenta ini tumbuh dengan percaya diri dan berkelanjutan,” ujar Amir Faisal kepada Dialeksis saat dihubungi, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, proyek di Dieng ini menjadi simbol perjalanan panjang komunitas kreatif Aceh dalam menemukan identitas sekaligus memperluas jejaring.
“Kami tidak sekadar memproduksi pertunjukan, tetapi membangun narasi bahwa karya dari Aceh memiliki kedalaman, kualitas, dan daya saing. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan, kolaborasi adalah kekuatan. TAC hadir untuk menjadi penghubung -- antara seniman, komunitas, dan peluang yang lebih luas.”
Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap musisi muda bukan hanya soal panggung, melainkan juga soal keberlanjutan karya.
“Yang kita bangun adalah ekosistem. Ada proses kreatif, manajemen produksi, dokumentasi profesional, hingga distribusi digital. Dengan demikian, anak-anak muda Aceh tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang secara sistematis dan berdaya tahan dalam industri kreatif.”
Dengan latar alam Dieng yang dramatis dan semangat kolaborasi yang kuat, proyek ini menjadi penanda bahwa musik Aceh terus bergerak melampaui batas ruang dan cuaca menjadi suara yang terhubung dengan alam, identitas, dan masa depan. [arn]