DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Museum Aceh, sebagai lembaga yang berperan dalam pelestarian warisan budaya, edukasi, rekreasi, dan penelitian, terus berupaya memenuhi berbagai kebutuhan pengunjungnya.
Salah satu inisiatif museum adalah transliterasi naskah kuno, yang bertujuan mempermudah masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, memahami isi dan kandungan naskah tanpa merusak teks asli.
Hingga saat ini, sudah ada 10 judul naskah kuno yang berhasil ditransliterasi. Pustakawan Museum Aceh, Zurny, menjelaskan salah satu contohnya, yakni naskah berjudul Akhbarul Akhirah.
Naskah ini termasuk koleksi Filologika Museum Aceh dengan nomor inventaris 07.00248.00. Penulisnya adalah Syekh Nuruddin Muhammad Ibnu 'Ali Ibnu Hasanji Ibnu Muhammad Hamid Ar-Raniry al-Quraisyi, yang lebih dikenal sebagai Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Beliau merupakan seorang ulama besar dan penasehat kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Tsani, berasal dari Ranir, India.
“Transliterasi ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi sekaligus menambah informasi bagi masyarakat dan pembaca naskah,” ujar Zurny.
Ia menambahkan, masyarakat dapat langsung mengunjungi perpustakaan Museum Aceh untuk membaca naskah yang telah ditransliterasi ini.
Dengan adanya transliterasi, Museum Aceh tidak hanya menjaga kelestarian fisik naskah kuno, tetapi juga menghadirkan akses yang lebih luas bagi penelitian, kajian akademik, serta edukasi bagi generasi muda. [*]