Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Makam Para Sultan yang Terbengkalai

Makam Para Sultan yang Terbengkalai

Senin, 31 Desember 2018 15:06 WIB


DIALEKSIS.COM | Aceh Utara - Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi dimasa lalu dan tidak bisa diulang kembali, setiap rentetan peristiwa yang terjadi itu maka akan selalu kekal abadi, serta selalu ada dalam ingatan.

Ada sebagaian pepatah yang mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah”, namun sayang ternyata apa dikatakan tersebut tidak dilaksanakan dengan baik.

Seperti yang terjadi pada Makam Bate Balee, yang merupakan Makam Para Sultan pada masa Kerajaan Samudera Pasai, di Desa Meucat, Kecamatan Samudera Aceh Utara, kondisinya sangat memprihatinkan dan banyak nisannya yang telah rusak.

Sinar matahari baru saja terbit dari ufuk barat, yang memancarkan sinaran yang sangat cerah dan menyengat, serta terasa cukup panas. Terlihat jalanan yang terbuat dari rabat bento, yang lebarnya hanya muat satu mobil saja.

Apalagi ada mobil yang berlawanan arah, maka kita harus mundur dan mencari lokasi yang sedikit lebar untuk menepi, agar mobil lainnya bisa lewat. Apabila hujan turun, maka jalanan itu menjadi tergenang air.

Begitulah kondisi jalan untuk menuju ke Makan Bate Balee itu, selain kondisi makamnya yang sangat memprihatinkan, maka kondisi jalannya juga tidak kalah memprihatinkan pula dan terabaikan begitu saja tanpa ada yang memperbaikinya.

Peneliti Sejarah Aceh Husaini Usman menyebutkan, maka tersebut menyimpan Peradaban Islam yang cukup tinggi. Makam tersebut sudah ada sejak abad ke 15, dimana generasinya merupakan periode ketiga dari kerajaan Samudera Pasai.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dari setiap nama sultan yang tertera pada mata uang atau dirham dikeluarkan oleh Kerajaan Samudera Pasai, maka makam sultan tersebut di komplek makam Batee Balee itu.

Dari ratusan batu nisan tersebut, maka sebagian nama-nama sultan yang dimakamkan di komplek Makam Bate Balee tersebut yaitu, Sultan Shalahuddin, Abu Zaid Ahmad, Mu’izzuddunya Waddin Ahmad, Muhammad Syah, Al Kamil bin manshur, Abdullah bin Manshur, Muhammad Syah III, Abdullah bin Mahmud dan Sultan Zainal Abidin IV.

Bukan hanya itu saja, penasehat Kolonial Belanda Christiaan Snouck Hurgronje, juga pernah berkunjung ke makam tersebut dan sempat lama melakukan penelitian, sehingga hasil penelitianya itu digunakan oleh penjajahan Belanda, untuk menghilangkan jejak sejarah.

Namun kini kondisi makam tersebut mulai rusak dan bahkan tulisan-tulisan di batu nisannya banyak yang mulai pudar, serta tidak terlihat dengan jelas. Apabila tidak diperhatikan sama sekali, maka jejak sejarah itu akan sirna.

“Makam ini merupakan peninggalan peradaban Islam di masa lalu, namun saya kalau tidak ada yang memperdulikannya, maka ini akan sirna begitu saja. Kalau saja tulisan di nisan nya itu sudah tidak bisa dibaca lagi, maka ini merupakan pukulan berat bagi kita semua,” ujar Husaini.

Dirinya berharap kepada Pemerintah Aceh agar lebih memperdulikan tentang situs sejarah, karena sangat banyak sekali situs sejarah yang terbengkalai. Sejarah ini merupakan identitas, apabila identitas itu hilang, maka suatu daerah tersebut tidak lagi memiliki jati diri. (agm)


Editor :
Indri

Komentar Anda