DIALEKSIS.COM | Aceh Besat - Peristiwa memilukan terjadi di Desa Lampeudaya, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Ibu Nurlaila, seorang petani sekaligus mitra Rumoh Pangan Aceh (RPA), menjadi korban pembacokan saat sedang beraktivitas di kebunnya sendiri.
Direktur Eksekutif Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut menjadi pukulan berat, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi komunitas petani dampingan RPA.
“Pada hari Rabu, 25 Februari 2026, sekitar pukul 10 pagi, sebuah peristiwa memilukan terjadi di sebuah kebun sederhana. Ibu Nurlaila, petani sekaligus mitra RPA di Desa Lampeudaya, yang pagi itu menjalankan aktivitasnya seperti biasa, harus mengalami musibah yang sama sekali tak pernah ia bayangkan,” ujar Rivan menjelaskan kepada Dialeksis, 26/02/2026.
Menurutnya, korban diserang oleh seorang pria berinisial SL (51), yang diketahui merupakan tetangganya sendiri. Serangan itu mengakibatkan dua luka bacokan besar dan dalam di bagian leher serta punggung korban.
“Ironisnya, peristiwa itu terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang petani”kebunnya sendiri. Ibu Nurlaila adalah sosok pekerja keras, tekun, dan selama ini aktif dalam penguatan pangan keluarga serta pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas,” kata Rivan.
Saat ini, korban dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin dan masih menunggu tindakan operasi akibat luka serius yang dideritanya.
Rivan menambahkan, pihaknya mengecam keras tindakan kekerasan tersebut dan mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus ini secara tuntas dan transparan.
“Kami meminta aparat bergerak cepat dan memastikan proses hukum berjalan adil. Kekerasan terhadap perempuan, terlebih terhadap petani kecil yang sedang bekerja mencari nafkah, tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap perempuan di sektor pertanian, yang kerap bekerja di ruang terbuka dengan risiko keamanan yang tinggi.
“Perempuan petani adalah tulang punggung pangan keluarga dan komunitas. Negara dan masyarakat harus hadir memberi rasa aman. Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan tidak boleh diabaikan,” ujar Rivan.
Sebagai bentuk solidaritas, Rumoh Pangan Aceh menyatakan akan mendampingi korban dan keluarga, baik dalam proses pemulihan maupun aspek hukum yang diperlukan.
“Kami tidak akan membiarkan Ibu Nurlaila menghadapi ini sendirian. Solidaritas adalah kekuatan kami. Kami berharap beliau segera pulih dan mendapatkan keadilan yang seutuhnya,” pungkas Rivan.