Sabtu, 05 April 2025
Beranda / Pemerintahan / Rektor UTU: Tujuh Langkah Aceh Keluar dari Ketertinggalan

Rektor UTU: Tujuh Langkah Aceh Keluar dari Ketertinggalan

Minggu, 01 Desember 2024 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

 Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. Ishak M.Si. Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Provinsi Aceh masih menghadapi tantangan serius dalam upaya memulihkan diri pascakonfllik dan bencana tsunami. Selama dua dekade terakhir, wilayah ini belum sepenuhnya berhasil mengejar ketertinggalan dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Berdasarkan data terkini, Aceh masih tergolong dalam kategori daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi.

Berbagai persoalan mendasar terus menghantui provinsi ini. Mulai dari tingginya angka stunting, permasalahan pengangguran, hingga keterbatasan layanan kesehatan menjadi PR besar bagi pemerintah daerah. Kondisi ini mendorong berbagai pihak untuk segera melakukan terobosan komprehensif guna membangkitkan potensi yang dimiliki.

Dalam diskusi eksklusif dengan Dialeksis (Minggu,01/12/2024), Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. Ishak M.Si, mengungkapkan sejumlah strategi strategis untuk memutus mata rantai ketertinggalan Aceh. Berikut adalah poin-poin kunci yang disampaikannya:

Strategi Pemulihan dan Pengembangan Aceh

Pertama, stabilitas politik menjadi fondasi utama. Tanpa kondisi politik yang kondusif, upaya pembangunan akan sulit mencapai hasil optimal. Pemerintah perlu menciptakan ekosistem yang mendukung percepatan pembangunan dan investasi.

Fokus utama pembangunan harus diarahkan pada penguatan infrastruktur ekonomi. Hal ini mencakup:

  1. Perbaikan sistem irigasi
  2. Penguatan ketahanan pangan
  3. Pengembangan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan
  4. Hilirisasi komoditas agraris dan kelautan

Bidang pendidikan memerlukan perhatian khusus, terutama dalam hal akses dan pembiayaan. Perguruan tinggi tidak sekadar menjadi lembaga akademik, tetapi harus menjadi mitra aktif dalam perencanaan pembangunan daerah.

Sektor pariwisata berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru. Penguatan budaya dan infrastruktur wisata dapat membuka peluang ekonomi yang selama ini belum tergarap maksimal.

Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah mutlak diperlukan. Harmonisasi program dan sinergi kebijakan akan mempercepat proses pemulihan dan pengembangan wilayah.

Terakhir, penciptaan magnet ekonomi baru di bidang bisnis, khususnya sektor agro-marine, menjadi kunci kebangkitan ekonomi Aceh. Inovasi dan kreativitas pelaku usaha lokal perlu terus didorong dan difasilitasi.

Upaya ini bukan sekadar tantangan, melainkan kesempatan emas bagi Aceh untuk bangkit, membuktikan resiliensi dan potensi luar biasa yang dimilikinya. Dengan strategi tepat dan komitmen bersama, Aceh dapat segera melepaskan diri dari belenggu ketertinggalan.[arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI