Senin, 07 September 2026
Beranda / Pemerintahan / Kementan Dorong Peternakan Ayam Lebih Ramah Hewan, Cage-Free Mulai Dikembangkan

Kementan Dorong Peternakan Ayam Lebih Ramah Hewan, Cage-Free Mulai Dikembangkan

Senin, 07 September 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Gedung Kementerian Pertanian. [Foto: dok. Kementan]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong transformasi peternakan unggas nasional dengan mengedepankan kesejahteraan hewan (animal welfare), keamanan pangan, dan keberlanjutan usaha. Salah satunya melalui pengembangan sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar atau cage-free.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan I Ketut Wirata mengatakan kesejahteraan hewan menjadi bagian penting dalam membangun sistem peternakan berkelanjutan. Prinsip Five Freedoms atau Lima Kebebasan menjadi dasar untuk memastikan hewan terhindar dari penderitaan dan dapat memenuhi kebutuhan alaminya.

Prinsip tersebut mencakup kebebasan dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, rasa sakit, cedera dan penyakit, rasa takut serta stres, hingga kebebasan mengekspresikan perilaku alaminya.

Kementan juga mengaitkan penerapan animal welfare dengan upaya mencegah resistensi antimikroba (AMR). Penggunaan antibiotik secara tidak bijak dapat memicu munculnya mikroorganisme yang kebal terhadap pengobatan dan berdampak pada kesehatan hewan maupun manusia.

Sistem cage-free mulai berkembang di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat dan Bali. Namun, penerapannya perlu dilakukan bertahap karena membutuhkan ruang pemeliharaan lebih luas dan dapat meningkatkan biaya produksi.

Kementan menegaskan transformasi harus memperhatikan kemampuan peternak, terutama peternak rakyat dan UMKM, agar peningkatan standar kesejahteraan hewan berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi usaha. 

Pengembangan sistem ini juga perlu didukung penguatan biosekuriti, manajemen pemeliharaan, kompetensi sumber daya manusia, serta kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan secara berkelanjutan. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
kejati bsi