DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti seriusnya tantangan kekurangan tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis, di tengah perubahan struktur demografi dan epidemiologi Indonesia.
Menkes menegaskan perlunya perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang berbasis data dan prediksi ilmiah agar ketimpangan tidak semakin melebar.
Budi mengungkapkan bahwa pergeseran populasi menuju masyarakat yang semakin menua akan berdampak langsung pada pola penyakit yang harus ditangani tenaga medis.
“Di DKI Jakarta, jumlah lansia sudah melampaui balita. Ini otomatis mengubah kebutuhan tenaga kesehatan yang harus disiapkan,” kata Budi dalam keterangan resmi yang diterima pada Minggu (30/11/2025).
Krisis Dokter Spesialis
Menkes mengungkapkan bahwa Indonesia kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, sementara produksi dokter spesialis baru hanya 2.700-3.000 per tahun. Jumlah tersebut dinilai jauh dari cukup untuk menjawab meningkatnya kasus penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, kanker, dan gangguan ginjal.
“Tanpa perencanaan yang tepat, ketidakseimbangan ini akan terus terjadi,” tegasnya.
Perencanaan Berbasis Prediksi IHME
Untuk pertama kalinya, Kemenkes menyusun proyeksi kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang dengan memanfaatkan model prediksi dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), yang disesuaikan dengan data nasional.
“Hampir 80 tahun Indonesia merdeka, kita belum punya perencanaan tenaga kesehatan yang komprehensif. Ini pertama kalinya dilakukan secara saintifik, berbasis data, dan mempertimbangkan dinamika epidemiologi,” ujarnya.
Kemenkes juga merilis buku perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang (versi 1) yang dapat diakses publik dan akan diperbarui setiap dua tahun.
“Perhitungan satu dokter per rumah sakit sudah tidak relevan. Minimal harus ada dua dokter untuk memastikan layanan tetap berjalan,” kata Budi.
Budi menegaskan bahwa investasi pada perencanaan tenaga kesehatan menjadi kunci untuk memastikan generasi Indonesia masa depan mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
“Ketika Indonesia berusia 100 tahun, kita ingin anak cucu hidup lebih sehat. Itu hanya bisa dicapai kalau kita menyiapkan tenaga kesehatan dari sekarang.” pungkasnya. [red]