Minggu, 08 November 2026
Beranda / Pemerintahan / Bendera Aceh Belum Final, Dek Fadh Sampaikan Pesan Menyejukkan

Bendera Aceh Belum Final, Dek Fadh Sampaikan Pesan Menyejukkan

Minggu, 08 November 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh. Foto: Humas.


DIALEKSIS.COM | Aceh - Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, meminta semua pihak menahan diri, menjaga persaudaraan, dan mengedepankan dialog dalam menyikapi polemik bendera Bulan Bintang. Seruan itu disampaikan seusai insiden di Tiro, Kabupaten Pidie, di tengah pembahasan bendera Aceh yang masih berlangsung antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat.

Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi mengatakan pembahasan tersebut belum menghasilkan keputusan akhir hingga Sabtu (7/11/2026). Ia meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya serta memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya.

Bendera Aceh menjadi salah satu agenda yang dibawa Gubernur Muzakir Manaf dan Dek Fadh dalam rapat koordinasi dengan pemerintah pusat di Jakarta, Senin (2/11/2026). Dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyatakan pemerintah akan mengutamakan dialog dengan Pemerintah Aceh untuk mencari jalan keluar.

Sebelumnya, dalam rapat paripurna DPR Aceh pada 27 Agustus 2026, Dek Fadh juga pernah meminta masyarakat menyikapi proses pembahasan bendera dengan sabar dan tenang. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan mengedepankan semangat perdamaian.

Bagi Dek Fadh, keselamatan masyarakat dan terpeliharanya perdamaian merupakan kepentingan yang harus didahulukan. Perbedaan pandangan mengenai bendera Aceh hendaknya disikapi dengan kepala dingin, tanpa mengorbankan persaudaraan yang telah lama dibangun.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa memperjuangkan aspirasi dan menjaga perdamaian bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui komunikasi yang terbuka, sikap saling menghormati, dan kesediaan mencari titik temu.

Insiden di Tiro terjadi saat penertiban bendera dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Keunari, Rabu (4/11/2026). Dek Fadh menyampaikan belasungkawa kepada keluarga warga yang meninggal dalam peristiwa tersebut.

“Yang paling utama adalah keselamatan rakyat. Kita tidak ingin ada lagi masyarakat yang terluka, apalagi kehilangan nyawa,” kata Dek Fadh dalam keterangannya kepada media di Banda Aceh.

Pada hari yang sama, Dek Fadh bersama Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan menjenguk warga yang menjalani perawatan di RSUD Teungku Abdullah Syafi’i, Beureunuen. Keduanya mendengarkan keluhan dan harapan para korban beserta keluarga mereka.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya mengedepankan pendekatan yang bijaksana dalam menghadapi persoalan sensitif di Aceh. Setiap langkah penyelesaian perlu mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat, menghormati aspirasi yang berkembang, sekaligus memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga.

Dalam konteks itu, ajakan Dek Fadh untuk menahan diri memiliki makna lebih luas. Perdamaian Aceh bukan sekadar warisan sejarah yang patut dikenang, melainkan tanggung jawab bersama yang harus terus dirawat. Perbedaan sikap politik tidak semestinya menghilangkan rasa saling percaya di antara sesama masyarakat Aceh.

“Aceh sudah terlalu banyak melewati masa-masa sulit. Jangan biarkan persaudaraan yang kita bangun dengan susah payah kembali terluka,” tulis Dek Fadh saat Dialeksis, Minggu (8/11/2026).

Di tengah proses pembahasan yang belum mencapai keputusan akhir, pesan tersebut menjadi ajakan agar seluruh elemen masyarakat memberi ruang bagi penyelesaian melalui dialog. Harapannya, persoalan bendera Aceh dapat menemukan jalan keluar yang bermartabat, menghormati aspirasi masyarakat, dan tetap menjaga perdamaian sebagai kepentingan bersama.

"Semua sedang berproses pemerintah Aceh dan pusat terus membahas mencari titik keputusan bersama dalam menyelesaikan polemik Bendera. Saya berharap tetap menjaga stabilitas perdamaian Aceh" pungkasnya. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI