Minggu, 30 Agustus 2026
Beranda / Pemerintahan / Azanuddin Kurnia Kembali Raih Penghargaan, Konsisten Pulihkan Pertanian Aceh Pascabencana

Azanuddin Kurnia Kembali Raih Penghargaan, Konsisten Pulihkan Pertanian Aceh Pascabencana

Minggu, 30 Agustus 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

 Plt Kadis Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng, kembali menorehkan prestasi. Belum genap sebulan, birokrat tersebut menerima dua penghargaan atas kontribusi dan pengabdiannya bagi pembangunan Aceh.

Penghargaan terbaru diterima Azanuddin dalam ajang Serambi Award 2026 bertema “Gebrakan Sang Pemimpin” yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu malam (29/8/2026).


Ajang tersebut menjadi panggung apresiasi bagi para tokoh, pemimpin daerah, birokrat, dan lembaga yang dinilai memiliki dedikasi, terobosan, serta kontribusi nyata dalam pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Dua pekan sebelumnya, tepatnya pada peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Balai Meuseuraya Aceh, Sabtu (15/8/2026), Azanuddin juga menerima penghargaan dari Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Penghargaan itu diserahkan melalui Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Jamaluddin, SH, MKn, dalam kegiatan bertema “Dignity, Justice, and Hope”.

Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M. Nur, mengatakan Serambi Award bukan sekadar penghargaan simbolis. Apresiasi tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap ketangguhan Aceh dalam menghadapi bencana hidrometeorologi sekaligus upaya menata kembali kehidupan masyarakat di tengah tantangan ekonomi dan politik global.

“Kami percaya kepemimpinan sejati lahir dari keberanian mengambil langkah, ketulusan mengabdi, dan kebersamaan membangun harapan. Tema ‘Gebrakan Sang Pemimpin’ dipilih untuk menegaskan bahwa para penerima penghargaan telah menunjukkan langkah nyata, baik melalui kebijakan, aksi lapangan, maupun solidaritas sosial,” ujar Zainal.

Dalam ajang tersebut, Pemerintah Aceh menerima penghargaan kategori “Kolaborator Strategis dalam Penanganan Bencana di Aceh”. Penghargaan diterima Plt Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, ST, MSi, yang hadir mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Muzakir Manaf juga menerima penghargaan kategori “Pemimpin untuk Aceh Bangkit”, sedangkan Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Muzakir, dianugerahi penghargaan kategori “Srikandi Pemulihan Aceh”.

Dari sekitar 75 individu dan lembaga penerima penghargaan, Distanbun Aceh tercatat sebagai satu-satunya Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) yang memperoleh apresiasi dalam ajang tersebut.

Sejumlah pejabat dan tokoh lainnya turut menerima penghargaan, antara lain Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Safrizal ZA, Ketua DPRA Zulfadhli, Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh Teuku Rahmatsyah, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, serta sejumlah bupati, wali kota, tokoh, dan lembaga.

Taufik, saat membacakan sambutan Gubernur Aceh, menyampaikan apresiasi Pemerintah Aceh kepada Serambi Indonesia atas penyelenggaraan Serambi Award 2026. Menurutnya, momentum tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai kerja dan pengabdian sekaligus menghargai pihak-pihak yang telah memberikan arti bagi masyarakat.

Sementara itu, Safrizal ZA menilai media memiliki posisi penting dalam membangun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, terutama ketika daerah sedang menghadapi dan memulihkan diri dari bencana.

Penghargaan, menurut Safrizal, tidak semata-mata menjadi pengakuan terhadap individu atau lembaga, tetapi juga harus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.


Fokus Pulihkan 40.852 Hektare Sawah

Penghargaan kepada Azanuddin tidak terlepas dari perannya dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian dan perkebunan Aceh pascabencana. Salah satu pekerjaan besar yang sedang dijalankan ialah penanganan sawah terdampak bencana, mulai dari kategori rusak ringan, sedang, hingga berat.

Azanuddin menyebutkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang ditargetkan dapat ditangani pada 2026. Luas lahan yang masuk dalam sasaran penanganan mencapai sekitar 40.852 hektare.

“Insyaallah, sawah rusak ringan dan sedang ditangani langsung tahun ini. Kami berharap seluruh prosesnya dapat diselesaikan hingga akhir tahun. Saya berusaha menjalankan tugas sesuai arahan pimpinan, khususnya untuk mempercepat pemulihan Aceh pascabencana pada sektor pertanian dan perkebunan,” kata Azanuddin.

Ia mengaku bersyukur karena menerima dua penghargaan dalam waktu yang berdekatan. Namun, menurutnya, pencapaian tersebut bukan hasil kerja pribadi, melainkan buah dari kolaborasi banyak pihak.

Azanuddin menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekda Aceh, jajaran Distanbun Aceh, Kementerian Pertanian, pemerintah kabupaten dan kota, serta para petani dan pekebun di seluruh Aceh.

“Saya tidak menyangka akan menerima penghargaan ini. Ini merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Tugas kita adalah menerjemahkannya dalam bentuk rasa syukur, sekaligus tetap sabar dan bekerja ketika ditimpa musibah,” ujarnya.

Ia menegaskan penghargaan tidak boleh membuat jajaran Distanbun Aceh cepat berpuas diri. Sebaliknya, apresiasi tersebut harus menjadi tambahan energi untuk menuntaskan pemulihan lahan pertanian dan mengembalikan sumber penghidupan masyarakat terdampak bencana.


Empat Strategi Penanganan Sawah Rusak Berat

Dalam menangani sawah rusak berat, Azanuddin sebelumnya mengusulkan empat skema yang dapat dijalankan secara kolaboratif.

Pertama, lumpur dan material yang menumpuk di areal persawahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan galian untuk mendukung berbagai proyek pemerintah maupun kebutuhan pembangunan lainnya. Pemanfaatan itu harus tetap memperhatikan ketentuan lingkungan dan peraturan yang berlaku.

Kedua, lahan terdampak dapat dimanfaatkan sementara untuk menanam komoditas berumur pendek yang sesuai dengan kondisi tanah, seperti bawang merah, cabai merah, jagung, ubi kayu, dan sayuran. Strategi serupa telah dilakukan masyarakat di Pidie Jaya, Aceh Tamiang, dan sejumlah daerah lainnya.

Pemanfaatan tersebut bersifat sementara sembari menunggu rehabilitasi dilakukan agar fungsi lahan dapat dikembalikan menjadi areal persawahan.

Ketiga, material lumpur dapat dikaji dan dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan bata merah maupun bata ringan. Untuk menjalankan gagasan tersebut, kolaborasi yang telah dibangun bersama Forum Zakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nurul Hayat, dan Universitas Syiah Kuala perlu diperluas.

Keempat, pemerintah tetap harus melakukan rehabilitasi menyeluruh terhadap sawah rusak berat agar fungsi lahan, jaringan pengairan, serta produktivitas pertanian dapat kembali seperti sebelum bencana.


Jejak Inovasi Gula Sawit

Azanuddin dikenal sebagai birokrat karier yang memiliki perhatian pada pengembangan inovasi di sektor pertanian dan perkebunan. Salah satu gagasannya ialah pemanfaatan batang kelapa sawit yang telah diremajakan menjadi bahan baku gula sawit.

Inovasi tersebut dikembangkan bersama tim yang melibatkan Sumarno, Abdul Muis, dan Sandi pada periode 2018 - 2020. Pengembangan gula sawit kemudian mengantarkan Distanbun Aceh memperoleh penghargaan dari Kementerian Pertanian pada 2019 dan 2023.

Penghargaan terkait inovasi itu juga pernah diberikan kepada Sumarno, Dinas Pertanian Aceh Tamiang, Bupati Aceh Tamiang, dan Gubernur Aceh pada masa tersebut.

Bagi Azanuddin, keterbatasan sumber daya tidak boleh mematikan lahirnya gagasan. Setiap ide, katanya, dapat diwujudkan melalui pembagian peran dan kerja sama dengan pihak yang memiliki kemampuan serta sumber daya yang dibutuhkan.

“Setiap ide dan gagasan yang kita keluarkan tidak harus kita sendiri yang mengerjakannya karena kita memiliki keterbatasan. Di situlah pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak,” pungkasnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub