DIALEKSIS.COM | Bireuen - Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara peserta didik memperoleh informasi dan belajar. Di tengah kemudahan teknologi tersebut, guru madrasah menghadapi tantangan yang tidak sederhana: memastikan siswa tetap mampu berpikir kritis, berkarakter, dan memegang nilai-nilai akhlak.
Bagi guru, perkembangan teknologi tidak cukup dijawab dengan kemampuan mengoperasikan berbagai perangkat digital. Peran guru justru dituntut semakin kuat sebagai pendamping dan pembimbing peserta didik agar mampu menyaring informasi serta menggunakan teknologi secara bijak.
Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam Seminar Nasional “Guru Mendidik dengan Cinta” yang digelar dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-18 Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia di Aula Setdakab Lama Bireuen, Sabtu (8/8/2026).
Seminar tersebut diikuti 600 peserta. Sebanyak 350 guru hadir secara langsung, sedangkan 250 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Bupati Bireuen Mukhlis saat membuka seminar mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap kesejahteraan guru. Pemerintah Kabupaten Bireuen, kata dia, berkomitmen meningkatkan kesejahteraan guru honorer dan guru madrasah sekaligus memperkuat pendidikan berbasis nilai agama dan budaya Aceh.
“Kami sadar, tanpa guru yang sejahtera dan dihargai, mustahil kita bicara pendidikan berkualitas. Ke depan, kita akan terus mengupayakan peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan dan seminar,” kata Mukhlis.
Menurut Mukhlis, kondisi guru turut menentukan kualitas pembelajaran. Guru yang merasa dihargai dan bahagia dinilai lebih mampu menjalankan proses pendidikan dengan penuh perhatian kepada peserta didik.
“Tidak akan lahir generasi yang hebat, cerdas, dan berakhlak jika ruang kelas tidak diisi oleh guru yang bahagia dan mendidik dengan penuh cinta,” ujarnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Bireuen Zulkifli mengatakan, perkembangan teknologi digital dan AI membuat tantangan guru semakin kompleks.
Guru, menurut dia, tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk membimbing peserta didik menghadapi derasnya arus informasi digital.
“Mendidik dengan penuh cinta bukan berarti tanpa aturan, melainkan hadir dengan hati sepenuhnya untuk anak didik,” kata Zulkifli.
Ia menegaskan, kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan mengambil alih peran guru dalam membentuk kepribadian peserta didik.
Sementara itu, Ketua PGM Bireuen Mudasar, S.Ag., M.Pd., berharap peringatan Harlah ke-18 PGM menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat komitmen guru madrasah untuk terus mengabdi.
Ia juga mendorong guru madrasah bersama-sama membangun madrasah yang mandiri dan berprestasi.
Ketua PGM Indonesia Provinsi Aceh Abdul Jalil turut mengajak guru madrasah dari berbagai organisasi memperkuat kolaborasi. Perbedaan organisasi, kata dia, tidak boleh menghambat tujuan bersama dalam mencerdaskan generasi muda.
“Semua organisasi guru memiliki satu tujuan yang sama, yaitu membantu bangsa dan negara dalam mencerdaskan generasi muda,” ujarnya.
Seminar tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta mengurangi pentingnya kehadiran guru. Justru di tengah perkembangan AI, guru dituntut semakin mampu membangun nalar kritis, karakter, dan akhlak peserta didik.
Teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran. Namun, nilai kemanusiaan dan pendidikan karakter tetap menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan. [m]