DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Derasnya arus informasi di era digital dinilai menjadi tantangan baru bagi generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Tanpa fondasi yang kuat, generasi muda dikhawatirkan mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang beredar di ruang digital, termasuk informasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar anggota MPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Muslim Ayub, di Gedung UCC Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung atas kerja sama dengan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Aceh tersebut diikuti sekitar 300 pemuda dan pelajar dari Banda Aceh dan Aceh Besar.
Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi yang membahas pentingnya memperkuat wawasan kebangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Dalam pemaparannya, Muslim Ayub menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi membuat arus berita, opini, hingga propaganda dapat menyebar sangat cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi pegangan utama bagi generasi muda dalam menyaring berbagai informasi yang mereka terima setiap hari.
“Di tengah derasnya arus informasi, pemuda harus memiliki pegangan nilai yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat memecah persatuan,” kata Muslim Ayub di hadapan peserta.
Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keutuhan negara dalam jangka panjang.
Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga masa depan bangsa, sehingga pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat.
“Kalau generasi muda memiliki pemahaman yang kuat terhadap empat pilar kebangsaan, maka mereka akan mampu menjadi benteng terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di ruang digital,” ujarnya.
Muslim Ayub juga mengajak para peserta untuk aktif menyebarkan pesan-pesan positif tentang persatuan, toleransi, dan kebangsaan melalui media sosial.
Menurutnya, ruang digital seharusnya tidak hanya dipenuhi oleh informasi yang memicu konflik, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang memperkuat semangat kebangsaan.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Aceh, Zul Hafiyan, menilai sinergi antara lembaga negara dan organisasi kepemudaan sangat penting untuk menjangkau generasi muda secara lebih luas.
Ia mengatakan kegiatan sosialisasi seperti ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis mengenai nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga membuka ruang diskusi kritis bagi pemuda untuk memahami berbagai tantangan kebangsaan yang muncul di era digital.
Menurutnya, pemuda harus mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai persatuan ke tengah masyarakat.
“Kegiatan seperti ini penting agar pemuda tidak hanya memahami konsep kebangsaan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Zul Hafiyan.
Ia berharap para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi motor penggerak dalam menyebarkan semangat kebangsaan di lingkungan masing-masing, baik di kampus, sekolah, maupun komunitas.
“Pemuda memiliki posisi strategis dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat persatuan bangsa, terutama di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks,” katanya.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, para peserta juga diajak berdialog mengenai berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari maraknya disinformasi di media sosial, polarisasi politik, hingga pentingnya menjaga nilai toleransi di tengah keberagaman.
“Jika generasi muda memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, maka Indonesia akan tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman,” pungkasnya.[nh]