Rabu, 07 Oktober 2026
Beranda / Parlemen Kita / Rizki Ramadhan: Anak Muda Harus Kritis dan Kawal Pelayanan Publik

Rizki Ramadhan: Anak Muda Harus Kritis dan Kawal Pelayanan Publik

Rabu, 07 Oktober 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Ketua DPRK Nagan Raya, Mohd. Rizki Ramadhan. Foto doc Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Nagan Raya - Ketua DPRK Nagan Raya, Mohd. Rizki Ramadhan, menekankan pentingnya pendidikan politik bagi generasi muda untuk membangun kesadaran kritis, memperkuat kepedulian sosial, dan mendorong keterlibatan aktif dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Menurut Rizki, pendidikan politik perlu membekali anak muda dengan pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, proses pengambilan kebijakan, serta cara mengawasi pelaksanaan pembangunan. Pemahaman itu menjadi bekal untuk menilai apakah keputusan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Anak muda perlu memahami hubungan antara keputusan politik dengan kehidupan sehari-hari. Kualitas sekolah, pelayanan kesehatan, kondisi jalan, hingga kesempatan kerja berkaitan dengan kebijakan dan prioritas pembangunan. Di situlah pentingnya kesadaran untuk ikut mengawal,” ujarnya kepada Dialeksis saat dihubungi, 7 Oktober 2026. 

Ia menilai kemajuan Nagan Raya sangat bergantung pada tumbuhnya generasi muda yang berpengetahuan, berintegritas, serta memiliki keberanian menyuarakan persoalan di lingkungannya. Kepedulian tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Anak muda adalah jantung keberlanjutan masa depan daerah dan negara. Masa depan Nagan Raya sedang dibentuk oleh kepedulian dan tindakan mereka hari ini. Karena itu, peran anak muda harus mendapat tempat dalam menentukan arah pembangunan,” katanya bercerita saat bertemu Dialeksis di Sada Coffee

Rizki mendorong generasi muda terlibat sejak tahap perencanaan, mengikuti pembahasan kebutuhan masyarakat, hingga mengawasi hasil pelaksanaan program. Keterlibatan dapat dimulai dari forum musyawarah gampong, organisasi kepemudaan, komunitas sosial, maupun penyampaian aspirasi kepada pemerintah dan DPRK.

Ia mencontohkan, anak muda dapat membantu mendata persoalan layanan di lingkungannya, mendampingi warga menyampaikan pengaduan, serta memantau tindak lanjutnya. Persoalan akses pendidikan, pelayanan kesehatan, administrasi kependudukan, dan ketepatan sasaran bantuan sosial dapat menjadi perhatian bersama.

“Mulailah dari persoalan yang paling dekat. Dengarkan keluhan warga, periksa faktanya, sampaikan melalui saluran yang tersedia, lalu kawal penyelesaiannya. Partisipasi menjadi berarti ketika ada perbaikan yang dirasakan masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, keberanian mengkritik perlu didukung kemampuan memeriksa informasi dan memahami persoalan secara utuh. Pendidikan politik juga harus memperkuat kecakapan membedakan fakta, pendapat, serta informasi yang belum terverifikasi, terutama di ruang digital.

“Kritik yang kuat bertumpu pada fakta dan kepentingan publik. Anak muda perlu berani bertanya, menguji alasan sebuah kebijakan, dan menawarkan gagasan. Perbedaan pandangan harus tetap memberi ruang untuk saling mendengar,” ujarnya.

Rizki juga menekankan bahwa tanggung jawab membangun partisipasi berada pada pemerintah, lembaga legislatif, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat. Institusi publik perlu menyediakan informasi yang mudah dipahami, membuka ruang dialog, serta memberikan jawaban yang jelas atas aspirasi warga.

Ia menilai pelibatan pemuda harus memiliki pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan. Usulan mereka perlu dicatat, dibahas, dan diberi penjelasan mengenai tindak lanjutnya. Kesempatan itu juga harus menjangkau pemuda di gampong, perempuan muda, dan penyandang disabilitas.

“Pemerintah dan DPRK harus bersedia mendengar serta menerima kritik. Kepercayaan anak muda akan tumbuh ketika mereka melihat bahwa pendapatnya dipertimbangkan dan pengaduannya ditangani dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Lebih jauh, Rizki mengingatkan pentingnya menghubungkan pendidikan politik dengan kepekaan terhadap masalah sosial. Pengalaman mendampingi warga, membantu kegiatan pendidikan, menjaga lingkungan, dan bekerja bersama masyarakat dapat memperkaya pemahaman anak muda mengenai kebutuhan daerahnya.

Ia berharap pendidikan politik berlangsung secara berkelanjutan melalui diskusi terbuka, pembelajaran kewargaan, dan kegiatan sosial yang memberi pengalaman langsung. Dengan demikian, generasi muda memiliki bekal untuk berpartisipasi secara mandiri, bertanggung jawab, serta konsisten membela kepentingan publik.

“Nagan Raya maju ketika anak mudanya mengambil peran dan pemerintahnya membuka ruang. Ukuran keberhasilannya adalah semakin mudah masyarakat memperoleh pelayanan, semakin cepat keluhan ditangani, dan semakin luas manfaat pembangunan dirasakan,” tutup Ketua PPP Nagan Raya ini. 



Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI