Kamis, 03 September 2026
Beranda / Opini / Presiden ke Vladivostok: Aceh dan Pertanyaan tentang Ekonomi di Ujung Peta

Presiden ke Vladivostok: Aceh dan Pertanyaan tentang Ekonomi di Ujung Peta

Kamis, 03 September 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Muhammad Ammar

Ir. Muhammad Ammar, S.Pt., M.Si., IPM, Dosen Dept. Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. [Foto: dokpri]


DIALEKSIS.COM | Opini - Ada kota-kota yang lahir di tengah peradaban. Ada pula kota yang justru lahir di tepiannya. Vladivostok termasuk yang kedua.

Kota itu berdiri di ujung timur Rusia, jauh dari Moskwa, menghadapa Laut Jepang. Pada 1860, ia didirikan sebagai pos Rusia di pesisir Pasifik. Namanya sendiri mengandung ambisi geografis: Vladivostok, yang lazim diterjemahkan sebagai “menguasai Timur”.

Namun lebih dari satu setengah abad kemudian, Vladivostok tidak lagi sekadar menjadi kota di ujung Rusia.

Ia menjadi pintu.

Pintu Rusia menuju Asia.

Di kota inilah Trans-Siberian Railway akhirnya bertemu dengan Pasifik. Pelabuhan, perdagangan, industri, militer, pendidikan, dan kemudian forum ekonomi internasional bertemu dalam satu ruang geografis. 

Pada Rabu, 2 September 2026, ketika Eastern Economic Forum (EFF) ke 11 kembali diselenggarakan di Vladivostok, Rusia dan Presiden Republik Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan, kota itu seperti sedang mengulang pesan yang telah dibangunnya sejak abad ke-19: bahwa sebuah tempat di ujung peta tidak harus menjadi tempat di pinggir ekonomi.

Kalimat itu seharusnya membuat kita menoleh ke Indonesia.

Lebih khusus lagi, ke Aceh.

Sebab jika Vladivostok adalah ujung timur Rusia, maka Aceh adalah salah satu ujung terpenting Indonesia di sebelah barat.

Dan keduanya memiliki kesamaan yang menarik.

Keduanya berada jauh dari pusat kekuasaan nasional.

Keduanya memiliki posisi maritim yang strategis.

Keduanya berhadapan langsung dengan kawasan ekonomi yang lebih luas daripada batas negaranya.

Dan keduanya memiliki sejarah panjang sebagai ruang pertemuan manusia, komoditas dan kepentingan geopolitik.

Tetapi ada satu perbedaan penting.

Vladivostok dibangun untuk menjadi pintu

Pertanyaannya kemudian: apakah Aceh sedang dibangun untuk menjadi pintu?

Pertanyaan ini kembali relevan ketika Indonesia dan India mendorong penguatan konektivitas Sabang“Andaman-Nicobar. Ujung Aceh bahkan hanya sekitar 150 kilometer dari titik selatan Nicobar. Namun dalam ekonomi, jarak bukan sekadar soal kilometer. Yang lebih penting adalah apakah jarak itu mampu diubah menjadi arus kapal, barang, investasi, manusia, pengetahuan, dan akhirnya nilai tambah.

Di sinilah Vladivostok relevan bagi Aceh. Kota itu tidak menjadi penting hanya karena letaknya dekat dengan Asia, tetapi karena Rusia membangun pelabuhan, jalur transportasi, industri, dan konektivitasnya sebagai bagian dari strategi nasional.

Geografi adalah modal, tetapi tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi.

Aceh memiliki modal yang serupa. Di utara dan timur terbentang Selat Malaka, di barat Samudra Hindia, dan di hadapannya Kepulauan Andaman-Nicobar. Posisi ini memberi Aceh kedekatan dengan jaringan ekonomi Asia Tenggara, India, hingga kawasan Samudra Hindia. Bahkan Bea Cukai Aceh telah mendorong gagasan Aceh sebagai transhipment hub dan gerbang perdagangan Indonesia bagian barat.

Namun posisi strategis saja tidak cukup. Pelabuhan membutuhkan logistik, perdagangan membutuhkan konektivitas, investasi membutuhkan kepastian, industri membutuhkan energi, dan semuanya membutuhkan sumber daya manusia.

Karena itu, pertanyaan Aceh bukan lagi “Apakah Aceh strategis?” Jawabannya sudah jelas.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang telah kita bangun dari posisi strategis tersebut?”

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika Presiden Indonesia berada di Vladivostok sebagai tamu kehormatan forum ekonomi yang membicarakan masa depan Rusia di Timur.

Rusia sedang berusaha mengubah Timur Jauhnya dari wilayah yang jauh dari Moskwa menjadi pintu menuju Asia. Indonesia pun memiliki wilayah-wilayah yang jauh dari pusat nasional, tetapi justru dekat dengan pusat-pusat ekonomi dunia.

Aceh adalah salah satunya.

Mungkin sudah waktunya cara pandang kita dibalik: bukan bagaimana menghubungkan Aceh dengan pusat, tetapi bagaimana menjadikan Aceh sebagai salah satu pintu Indonesia menuju dunia.

Bagaimana jika daerah di tepi dibangun sebagai “pintu”?

Aceh tidak harus selalu diposisikan sebagai wilayah paling barat Indonesia yang perlu dihubungkan dengan pusat.

Aceh dapat dipandang sebagai pintu Indonesia menuju Samudra Hindia.

Sabang tidak harus sekadar menjadi pulau paling barat Indonesia.

Ia dapat menjadi simpul.

Pelabuhan bukan hanya tempat kapal berhenti.

Ia dapat menjadi tempat nilai ekonomi mulai bergerak.

Yang diperlukan sekarang adalah keluar dari siklus wacana.

Karena pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa potensi yang terlalu lama disebut sebagai potensi akhirnya berubah menjadi sekadar slogan.

Aceh tidak kekurangan slogan tentang posisi strategis.

Yang dibutuhkan adalah arus nyata.

Kapal yang benar-benar datang.

Barang yang benar-benar keluar.

Investasi yang benar-benar masuk.

Industri yang benar-benar tumbuh.

Dan masyarakat lokal yang benar-benar memperoleh nilai ekonomi dari semua itu.

Di titik inilah saya melihat makna lain dari kunjungan Presiden Prabowo ke Vladivostok.

Kita mungkin terlalu sibuk melihat siapa yang bertemu siapa, kesepakatan apa yang ditandatangani, atau bagaimana posisi Indonesia dalam hubungan Rusia dan negara-negara lain. Padahal ada sebuah pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita: Apa yang dapat dipelajari Indonesia dari sebuah kota yang berhasil mengubah “ujung” menjadi “pintu”?

Dan jika pertanyaan itu dibawa pulang dari Vladivostok ke Indonesia, ia akan menjadi lebih tajam ketika sampai di Aceh.

Sebab Aceh juga berada di ujung.

Tetapi ujung tidak selalu berarti akhir.

Dalam geografi perdagangan, ujung dapat menjadi awal.

Sabang dapat menjadi awal.

Samudra Hindia dapat menjadi awal.

Yang menentukan adalah apakah kita memiliki visi untuk menjadikan tepi tersebut sebagai gerbang. Vladivostok mungkin sedang mengingatkan Rusia bahwa masa depan ekonominya berada di Timur. Bagi Indonesia, mungkin Vladivostok sedang mengingatkan sesuatu bahwa masa depan ekonomi tidak selalu harus dicari di pusat. Kadang-kadang ia justru berada di tepi”jika kita tahu bagaimana membuka pintunya.

Dan bagi Aceh, pertanyaannya kini sederhana tetapi tidak mudah:

Apakah kita hanya akan terus mengatakan bahwa Aceh berada di posisi strategis, atau akhirnya membangun sesuatu yang membuat dunia benar-benar membutuhkan posisi tersebut? [**]

Penulis: Ir. Muhammad Ammar, S.Pt., M.Si., IPM (Dosen Dept. Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub