Logo Dialeksis
Beranda / Opini / Mencari PNS yang Melayani Masyarakat

Mencari PNS yang Melayani Masyarakat

Jum`at, 19 Oktober 2018 16:52 WIB

Font: Ukuran: - +


Andi Ahmad Yani

Kandidat PhD di Universiteit Leiden, Belanda dan

Tim Ahli Jaringan Survei Inisiatif (JSI)


Suatu siang setelah shalat Jumat di salah satu masjid di Utrecht, saya berbincang dengan seorang sahabat dari Indonesia yang sudah tinggal puluhan tahun di Belanda. Pak Eka, demikian kami biasa memanggilnya, bercerita tentang anak sulungnya yang sebentar lagi akan melanjutkan studinya ke universitas. Sang anak cemerlang dalam prestasi sekolahnya selama ini dan sangat menyenangi pelajaran-pelajaran terkait matematika, fisikan dan ilmu pengetahuan alam. Pak Eka awalnya sangat berharap anaknya ini bisa melanjutkan studinya di fakultas kedokteran. Sebuah jurusan yang sangat kompetitif dan menjanjikan harapan masa depan cemerlang. Selain itu, Pak Eka pernah ingin melanjutkan sekolah di kedokteran namun nasib berkata lain.

Untuk memastikan jalan masa depan sang anak, Pak Eka dan istri serta anaknya kemudian mengunjungi sebuah kegiatan open day yang dilakukan salah satu universitas di Belanda. Open day ini rutin dilakukan setiap kampus di Belanda untuk memberikan informasi ke calon mahasiswa dan orang tua mengenai jurusan-jurusan apa saja yang sesuai dengan minat dan bakat dengan mereka atau anaknya. Pak Eka kemudian mendatangi fakultas kedokteran dan menceritakan anaknya yang cemerlang dan senang dengan ilmu pengetahuan alam. Menurut Pak Eka, anaknya ini sangat pas untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Pak Eka ingin mengetahui hal apa saja yang sebaiknya bisa dilakukan untuk mendukung anaknya menghadapi proses seleksi masuk fakultas kedokteran.

Merespon antusiasme Pak Eka, salah seorang dosen kemudian mengajaknya berdiskusi. Sang dosen menyampaikan bahwa untuk menjadi seorang dokter, kepintaran akal bukanlah satu-satunya modal utama. Hal yang lebih utama adalah sikap atau sisi emosional. Jika sang anak memiliki sikap yang senang bersosialisasi dan selalu ingin menolong orang lain, maka anak itu mempunyai bakat menjadi dokter untuk selalu senang melayani orang lain. Jika tidak maka anak tersebut justru akan merasa terbebani dan menjadi stress dengan pekerjaan sebagai dokter. Meskipun memiliki kecemerlangan otak dengan IQ tinggi.

Mendengar saran sang dosen tersebut, Pak Eka kemudian berdiskusi dengan istrinya dan memperhatikan sikap anaknya selama ini. Pak Eka kemudian menyadari bahwa anaknya selama ini lebih banyak bekerja sendiri. Sang anak kurang aktif dalam kegiatan organisasi serta kurang menikmati kegiatan relawanan. Akhirnya Pak Eka dan istrinya sepakat untuk tidak mendorong anaknya menjadi dokter. Namun dengan kecemerlangan anaknya, bakat dan kepintarannya lebih sesuai dengan bidang lain yang tentu tak kalah keren dari kedokteran. Misalnya data scientist yang menurut Harvard University akan menjadi profesi paling bergengsi di kemudian hari.

Memperhatikan bakat dan sisi emosional sangat penting dalam menyeleksi orang-orang yang akan menjadi bagian dalam organisasi. Dalam kajian administrasi publik, pendekatan ini dikenal dengan konsep Public Service Motivation (PSM) atau motivasi dalam melayani publik. Pendekatan ini dilakukan dalam proses seleksi pegawai pemerintah, khususnya di negara-negara maju. Proses seleksi tidak semata menilai faktor pengetahuan atau keterampilan utama yang dibutuhkan dari calon pegawai, namun yang lebih penting sisi emosional atau motivasi mereka. Apakah mereka ini memiliki motivasi sebagai pelayan publik atau hanya sekedar untuk mencari prestise semata sebagai pegawai negeri.

Seorang pegawai yang memiliki motivasi melayani masyarakat yang tinggi tidak akan mempermasalahkan akan ditempatkan di lokasi manapun. Mereka juga akan selalu memaksimalkan diri untuk fokus melayani masyarakat dengan sumber daya yang dimiliki tanpa harus selalu komplain mengenai keterbatasan dana operasional dan berbagai alasan lain.

Sebagai contoh, Andi Rabiah, sosok suster yang bertugas di pulau-pulau kecil di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai suster apung. Suster Rabiah melayani warga di pulau-pulau kecil hanya dengan perahu kecil dengan menantang gelombang laut. Tidak ada keluhan yang ada hanya semangat untuk melayani kesehatan warganya.

Contoh yang lain adalah Bu Guru Karyati Vederubun yang bertugas di pedalaman Maluku. Bu Guru Karyati  harus menempuh perjalanan 9 jam setiap pekan untuk menemui murid-muridnya di pinggiran hutan dan pegunungan. Kadangkala harus memakan dedauanan atau minum air sungai jika bekalnya sudah habis dalam perjalanan demi untuk mengajarkan ilmu untuk anak-anak di pedalaman.

Kedua contoh ini adalah segelintir model PNS yang memiliki motivasi pelayanan publik yang tinggi. Saya yakin banyak PNS seperti Suster Rabiah dan Bu Guru Karyati di negeri ini. Mereka bekerja semata untuk melayani masyarakat sesuai tanggungjawab profesinya serta berharap mendapat ridha dari Allah SWT.

Kita tentu berharap sistem seleksi CPNS yang berdasarkan pada nilai motivasi pelayanan publik yang tinggi lah yang seharusnya menjadi pegawai di negeri ini. Dibutuhkan orang-orang berkualitas dalam pengetahuan, keterampilan dan emosional untuk melayani masyarakat. Suatu saat, mereka kelak akan memimpin menjadikan bangsa ini semakin maju dan berintegritas. 

Kembali ke kisah Pak Eka dan anaknya yang cemerlang.  Pak Eka membagikan inspirasi bagi kita semua tentang bagaimana sebuah bangsa membangun peradabannya. Sebuah bangsa dengan masyarakat dan pemerintah yang memiliki komitmen untuk melayani masyarakatnya dengan sebaik-baiknya.


Editor :
AMPONDEK

riset-JSI
Komentar Anda