Rabu, 28 Oktober 2026
Beranda / Berita / Nasional / Kemenhut Catat 93 Hotspot Karhutla, Sumsel Dapat Bantuan Presiden Rp200 Miliar

Kemenhut Catat 93 Hotspot Karhutla, Sumsel Dapat Bantuan Presiden Rp200 Miliar

Selasa, 27 Oktober 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Hotspot karhutla turun menjadi 93 titik hingga 26 Oktober 2026. Kemenhut mengingatkan sejumlah api masih aktif, terutama di lahan gambut Sumsel dan Jambi. [Foto: dok. Kemenhut]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) kembali menurun. Namun, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengingatkan penurunan tersebut belum berarti seluruh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah teratasi.

Berdasarkan pemantauan SiPongi Kemenhut hingga Senin (26/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 93 hotspot secara nasional. Angka ini turun 54 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 147 hotspot.

Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, hotspot juga turun dari 26 menjadi 10 titik. Rinciannya, Kalimantan Barat lima titik, Kalimantan Tengah tiga titik, dan Sumatera Selatan dua titik. Sementara Kalimantan Selatan, Jambi, dan Riau tidak terdeteksi hotspot *high confidence*.

Kemenhut menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui *groundcheck* dan kondisi aktual di lapangan.

Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut pada 26 Oktober menunjukkan operasi pemadaman masih berlangsung di sejumlah daerah.

Di Jambi, tim BKO Manggala Agni masih melakukan pemadaman di Simpang Datuk, Kecamatan Nipah Panjang, Tanjung Jabung Timur. Lokasi berada di lahan gambut dan kawasan pelestarian alam, dengan api belum sepenuhnya padam.

Di Sumatera Selatan, kondisi di sejumlah lokasi masih beragam. Kebakaran di Muara Baru, Ogan Ilir, telah berhasil dipadamkan. Namun, di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Banyuasin, masih ditemukan beberapa titik api yang sulit dijangkau.

Tim juga masih melakukan penyisiran dan mopping up di Desa Putak, Muara Enim, setelah ditemukan asap. Sementara kebakaran di Suaka Margasatwa Dangku, Musi Banyuasin, telah dinyatakan padam.

Di Talang Rimba, Kecamatan Cengal, Ogan Komering Ilir, hujan sempat turun sebelum pengecekan dilakukan. Namun, hasil pemantauan drone dan pengamatan darat masih menemukan titik api aktif.

Operasi juga berlanjut di Tanjung Batu, Tulung Selapan, untuk menangani kebakaran permukaan dan bawah permukaan pada lahan gambut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan hotspot dan turunnya hujan belum dapat menjadi satu-satunya indikator berakhirnya karhutla. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga proses pembasahan, pendinginan, penyisiran, dan mopping up tetap diperlukan.

Sumsel Dapat Bantuan Presiden Rp200 Miliar

Penguatan penanganan karhutla di Sumatera Selatan turut menjadi perhatian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Pada Senin (26/10/2026), Menhut menggelar rapat terbatas bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang untuk memastikan dukungan pusat dan daerah berjalan optimal.

Dalam pertemuan tersebut, Menhut menyampaikan Presiden Prabowo Subianto telah menyalurkan Bantuan Presiden sebesar Rp200 miliar untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatera Selatan.

Bantuan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp100 miliar disalurkan kepada Pemprov Sumsel, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Ilir.

Tahap kedua sebesar Rp100 miliar diberikan kepada 10 kabupaten/kota lainnya di Sumatera Selatan.

Menhut meminta bantuan tersebut digunakan secara transparan dan akuntabel serta difokuskan untuk kebutuhan penanganan karhutla.

Dukungan itu melengkapi sumber daya BNPB, operasi modifikasi cuaca, *water bombing*, dukungan Kemenhut, dan anggaran pemerintah daerah.

Untuk operasi udara, per 25 Oktober 2026 sebanyak 61 armada dikerahkan. Terdiri dari 24 pesawat untuk patroli/CASA dan operasi modifikasi cuaca serta 37 helikopter untuk water bombing.

Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan unsur terkait masih melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.

Kemenhut menegaskan keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya dilihat dari penurunan jumlah hotspot. Api dan bara harus benar-benar padam, kebakaran tidak kembali muncul, dampak asap berkurang, masyarakat terlindungi, serta hutan dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Masyarakat dan pelaku usaha juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar dapat ditangani sejak dini. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI