Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Nasional / Hasto PDIP: Pancasila Bertentangan dengan Kapitalisme - Marxisme

Hasto PDIP: Pancasila Bertentangan dengan Kapitalisme - Marxisme

Senin, 01 Juni 2020 11:12 WIB

Font: Ukuran: - +

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Foto: Suara Pembaharuan/Joanito De Saojoao

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku bangga karena gotong royong yang merupakan nilai Pancasila di Indonesia diakui menjadi yang nomor satu di dunia. Hal ini, kata dia, mencerminkan keteguhan Pancasila yang dipegang sebagai dasar negara.

“Ini modal kita untuk percaya diri dan hadir sebagai bangsa yang berdaulat, berdikari dan bangga dengan kebudayaan kita sendiri,” ujar Megawati, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, Senin, 1 Juni 2020.

Hasto mengatakan bagi PDI Perjuangan, sejak 2010, Juni disebut sebagai bulan Bung Karno. Karena kelahiran Pancasila terjadi pada 1 Juni, 6 Juni 1901 Bung Karno lahir, dan pada 21 Juni 1970 Bung Karno wafat.

Hasto mengatakan sebagai ideologi dunia, Pancasila berbeda dan bahkan bertentangan dengan kapitalisme-liberalisme ataupun dengan marxisme-leninisme.

Hasto mengatakan keduanya mengandung benih-benih imperialisme kolonialisme. Sementara Pancasila bercita-cita membangun persaudaraan dunia. Atas dasar itu, Pancasila pernah ditawarkan sebagai ideologi dunia oleh Bung Karno dalam Pidato di PBB pada tanggal 30 September 1960.

"Berbagai bentuk radikalisme juga tidak sesuai dengan Pancasila. Sebab Indonesia adalah negara kebangsaan yang berdiri kokoh di atas semua paham individu atau golongan. Radikalisme berdasar ideologi yang tidak sesuai dengan sila ketuhanan dan anti kemanusiaan," kata Hasto.

Hasto meyakini bahwa pemuda Indonesia dapat memahami api Pancasila yang membawa semangat pembebasan tersebut. Termasuk di saat pandemi Covid-19 tengah menyerang Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia.

"Dalam tantangan kekinian, maka membumikan Pancasila difokuskan pada upaya mewujudkan keadilan sosial. Keadilan yang harus diperjuangkan secara progresif, dan penuh dengan nilai kemanusiaan yang menolak segala bentuk penindasan," kata Hasto. (Im/Tempo)



Editor :
Im Dalisah

riset-JSI
Komentar Anda