Rabu, 23 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / BMKG: Musim Hujan di 529 Zona Indonesia Bakal Datang Lebih Lambat

BMKG: Musim Hujan di 529 Zona Indonesia Bakal Datang Lebih Lambat

Selasa, 22 September 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Jajaran BMKG dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026). [Foto: dok. BMKG]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dari normal. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.

"Pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83. Sementara itu, indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) tercatat +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat," kata Faisal dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan diperkirakan masih berada pada fase positif hingga akhir 2026. BMKG menyebut kombinasi El Nino dan IOD positif dapat memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan musim hujan tidak akan datang secara serentak. Sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara 266 ZOM atau 17,31 persen diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Meski awal musim hujan terlambat, sifat hujan pada musim 2026/2027 secara umum diprediksi normal. Kondisi tersebut mencakup 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 147 ZOM diprediksi lebih basah dari normal dan 42 ZOM lebih kering dari normal.

BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Namun, durasi musim hujan diperkirakan lebih pendek dari normal pada 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia.

Kekeringan Masih Mengancam

Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mengatakan dampak El Nino masih terlihat dari kondisi kekeringan di sejumlah wilayah. Saat ini, sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

Sejumlah titik pengamatan bahkan mencatat hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi. HTH terpanjang tercatat di Bantul, mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.

"El Nino 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun," ujar Fachri.

BMKG meminta pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta masyarakat melakukan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan sektor pangan. Penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas berumur pendek, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu dilakukan.

Masyarakat juga diminta menghemat air dan meningkatkan kapasitas tampung air. Pemerintah daerah diimbau mengoptimalkan pengelolaan drainase serta konservasi air untuk menghadapi kondisi kering dan potensi dampak saat musim hujan tiba.

BMKG juga mengingatkan potensi karhutla pada September-Oktober. Saat memasuki awal hingga puncak musim hujan, masyarakat diminta mewaspadai potensi banjir dan longsor serta memastikan sistem drainase dan evakuasi siap digunakan. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI