Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Warkah Masa Lalu untuk Penjaga Marwah Banda Aceh

Warkah Masa Lalu untuk Penjaga Marwah Banda Aceh

Rabu, 22 April 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nurdin Hasan

DIALEKSIS.COM | Kolom - Ini adalah surat imajiner dari tinta emas Sultan Alaidin Johansyah untuk Bunda Walikota Illiza Sa'aduddin Djamal dan seluruh warga Banda Aceh, yang merayakan milad kota ke-821.

Ke hadapan kalian, cucu-cucuku yang kini memegang tampuk kekuasaan di Kutaraja.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Aku menulis risalah ini dari balik kabut waktu yang tebal. Dari lorong waktu yang sunyi dan deburan ombak yang mengiringi layar-layar armada pada awal Ramadhan tahun enam ratus satu Hijriyah. 

Goresan ini tersurat saat tapak kaki kuda pertamaku menyentuh bumi ini. Kala itu, aku bersumpah di bawah langit Allāh Subḥānahū wa Ta‘ālā untuk mendirikan sebuah bandar. Sebuah kota yang aku harapkan selalu menjadi rumah bagi kalimat tauhid.

Delapan ratus dua puluh satu tahun telah berlalu. Angka yang panjang bagi napas manusia. Namun, terasa singkat bagi sebuah peradaban. Hari ini, kalian merayakan hari lahir kota ini. 22 April. Hari di mana aku meletakkan tonggak pertama fondasi sebuah martabat.

Waktu memang telah lama berlalu, namun tak pernah benar-benar pergi. Aku adalah suara yang pernah hidup di nadi kota ini. Suara yang dahulu menjaga, menguatkan, dan menegakkan marwahnya.

Banda Aceh bukan sekadar tumpukan batu dan semen. Ia adalah bait-bait doa yang dipanjatkan. Lalu, menjelma menjadi jalanan dan lorong-lorong penuh makna dan semangat. 

Ia adalah benteng pertahanan Islam di Timur. Ia juga saksi bagaimana iman dan keberanian berpadu menjadi satu. Banda Aceh adalah gerbang di mana matahari iman terbit lebih dulu sebelum menyinari kepulauan ini.

Para ulama berjalan, berdampingan dengan para panglima. Para saudagar membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga cahaya peradaban.

Dahulu, dunia memandang kita dengan penuh hormat. Bukan karena megahnya istana, tapi lebih kepada teguhnya iman dan akhlak warganya.

Aku melihat Banda Aceh hari ini dengan perasaan bercampur. Ada bangga dan juga harapan. Namun, semilir angin turut membawa kabar yang menggetarkan dan membuat hatiku sesak. Ada kegelisahan yang tak bisa aku sembunyikan.

Di jalanan yang dulu dipenuhi semangat juang, aku melihat anak-anak mudaku berjalan dengan langkah asing. Mereka seolah lupa pada tanah yang dipijak.

Kota ini adalah tanah para syuhada. Setiap jengkalnya telah disiram darah dan air mata para penjaga agama. Mengapa mereka kini berani tampil di muka umum seakan telah kehilangan rasa malu?

Aku melihat pemuda-pemudanya bangga dengan celana pendek di keramaian. Di mana harga diri mereka sebagai lelaki penjaga kehormatan Aceh?

Aku melihat pula gadis-gadis kita, dengan perih. Mereka menutup kepala, namun membalut tubuh dengan pakaian sempit dan ketat. Jilbab mereka seolah hanya hiasan, tanpa makna. Pakaian mereka bercerita tentang keinginan untuk dilihat, bukan hasrat untuk dijaga kehormatannya.

Anak-anakku, identitasmu bukan pada seberapa mirip engkau dengan mereka di seberang samudera sana. Identitasmu ada pada garis wajahmu yang menyimpan sejarah panjang perlawanan dan kesantunan.

Mengapa kalian seolah malu menjadi orang Aceh? Mengapa kalian tega tanggalkan kemuliaan demi mengikuti arus yang dangkal?

Wahai Bunda Walikota, ada apa dengan dirimu? Dulu, engkau begitu bangga di bawah panji “Model Kota Madani”. Engkau rajin mengajak pemuda dan pemudi menjaga marwah iman dan Islam.

Kenapa sekarang semangatmu menjadi pudar dan terkesan hilang arah sejak semboyan “Kota Kolaborasi” engkau gaungkan. Ingatlah wahai Bunda Walikota, setiap kebijakan, pasti kelak akan engkau pertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Banda Aceh adalah kota tua. Kota yang dibangun dengan bijak dalam untaian zikir dan doa. Ia telah kenyang akan perjalanan panjang sejarah. Ia mampu bertahan dari badai, peperangan, hingga tsunami yang dahsyat.

Namun, ingatlah wahai cucu-cucuku sekalian. Musuh yang paling berbahaya bukanlah pedang atau ombak besar. Musuh yang paling mematikan adalah kelalaian. Lupa akan jati diri. Lupa akan asal-usul.

Jika generasi masa hadapan Aceh sudah kehilangan urat malu, maka runtuhlah benteng itu. Jika anak-anak gadisnya sudah kehilangan kesederhanaan dan mengumbar lekuk tubuhnya sambil terbahak, maka rapuhlah tiang agama itu.

Jangan biarkan 821 tahun hanya menjadi seremoni yang kering, tanpa makna. Jangan biarkan hanya lilin-lilin perayaan menyala, sementara hati kalian redup dari cahaya iman dan taqwa. 

Perbaiki cara kalian berpakaian. Perbaiki cara kalian bersikap di ruang publik. Itulah caramu menghormati nenek moyang yang telah mempertaruhkan segalanya, demi mewujudkan kota ini. Itulah caramu menjaga marwah Aceh.

Aku ingin Banda Aceh tetap menjadi "Bandar". Sebuah pelabuhan tempat orang-orang akan terus berlabuh mencari kedamaian Islam. Aku ingin Kutaraja tetap menjadi "Kuta". Benteng pertahanan bagi iman yang kokoh.

Wahai Bunda Walikota Banda Aceh, Ingatkan mereka, seperti dulu pernah engkau lakukan. Bukan dengan amarah yang membakar, tapi lewat belaian kasih sayang yang menuntun. Kembalikan mereka ke meunasah-meunasah dan masjid-masjid. Jangan biarkan mereka lalai di cafe-cafe, sambil scroll HP, saat azan berkumandang.

Kenalkan kembali generasi masa hadapan pada "peuneutoh" orang tua-tua dahulu. Jadikan kota ini cermin bagi kemuliaan Islam di Nusantara.

Duniaku dan duniamu memang berbeda zaman. Tapi Tuhan kita tetap satu. Marwah kita tetap satu. Jangan gadaikan identitas Aceh-mu hanya untuk sejumput pujian manusia yang fana.

Semoga coretan ini sampai ke relung hatimu. Jadikan ia bahan renungan. Sebelum malam menjadi semakin larut dan identitas Aceh benar-benar hilang ditelan akhir zaman ini.

Banda Aceh harus tetap menjadi kota suci, Serambi Makkah. Kota yang megah karena zikir dan sujudnya. Kota yang indah karena adabnya.

Selamat milad ke-821, kotaku tercinta. Kembalilah pada jati dirimu sendiri yang mulia.

Akhirul kalam, wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sultan Alaidin Johansyah

[22 April 1205 “ 22 April 2026]

Penulis: Nurdin Hasan | Jurnalis Freelance

Keyword:


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    riset-JSI