Beranda / Kolom / Ulama Aceh ke Israel

Ulama Aceh ke Israel

Senin, 16 Oktober 2023 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bisma Yadhi Putra

Ali Hasjmy (pegang tongkat) sempat bercengkerama dengan Menteri Agama Uzbekistan (tengah) yang juga menerima penghargaan dari Presiden Mesir. [Foto: Catatan Perjalanan Mengunjungi Israel: Shalat Idul Fithri di Masjidil Aqsa Yerussalem (Koleksi Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh)]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Pada bulan puasa tahun 1993, Ali Hasjmy, cendekiawan Muslim Aceh, diundang langsung oleh Presiden Mesir untuk menerima penghargaan “Bintang Istimewa Republik Arab Mesir Kelas I”. Hasjmy berangkat ke Mesir dengan anak keduanya, Mulya Ali Hasjmy. Acara penganugerahan berlangsung tanggal 21 Maret, empat hari sebelum Lebaran Idulfitri 1413 Hijriyah. 

“Selain saya, ada empat belas orang ulama, pemikir, atau pemimpin Islam dari seluruh dunia Islam yang menerima bintang bergengsi tersebut,” tulis Hasjmy dalam sebuah catatan perjalanan tidak diterbitkan, berjudul Mengunjungi Israel: Shalat Idul Fithri di Masjidil Aqsa Yerussalem (Koleksi Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh)

Sebagai ulama yang senang dengan fotografi, Hasjmy tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengambil sejumlah foto. Ia juga sempat berfoto dengan tokoh-tokoh Muslim yang hadir, salah satunya Menteri Agama Uzbekistan.

Keesokan harinya, Hasjmy bertolak ke Amman, Yordania, dengan pesawat milik maskapai EgyptAir. Di Amman, Hasjmy disambut ramah oleh Duta Besar Indonesia untuk Yordania, Muhammad Hasan Adamy. Keduanya sudah berteman lama. Sewaktu Hasjmy menjadi Gubernur Aceh (1957-1964), Adamy bertugas sebagai seorang patih di Kota Sigli dan Lhokseumawe.

Kepada Adamy, Hasjmy mengutarakan keinginannya untuk berwisata ke wilayah Israel. Adamy kemudian menghubungi kantor The Guilding Star Agency for Tours and Travel, sebuah biro perjalanan ternama setempat. Perusahaan ini punya reputasi baik dalam mengurus perizinan untuk para wisatawan mancanegara yang ingin mengunjungi Israel.

Setelah Hasjmy membayar ongkos sebesar US$500, The Guilding Star Agency segera menyelesaikan izin yang diperlukan. Uang ini sudah termasuk biaya transportasi, sewa hotel, dan makan selama 2 hari 1 malam.

“Tanggal 29 Ramadhan 1413, dengan bus yang disediakan The Guilding Star Agency, bersama-sama 27 orang wisatawan mancadunia, kami berangkat ke perbatasan Yordania-Israel, dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 30 menit,” sebut Hasjmy.

Pemeriksaan di perbatasan sangat cermat. Menurut Hasjmy, Pemerintah Israel tidak memudahkan orang asing masuk ke wilayahnya, kecuali untuk kepentingan berwisata. Pariwisata sengaja dipermudah demi mendatangkan keuntungan nasional yang melimpah.

Setelah memperoleh “Surat Izin Masuk Israel” dari otoritas keimigrasian, Hasjmy dan rombongan menuju pemeriksaan bea cukai. Yang sedang bertugas hari itu adalah seorang gadis Israel “yang manis dan peramah”. 

“Waktu tustel saya terarah kepada nona Israel itu, segera dia meminta dengan manis agar saya jangan memfotonya. Kemudian muncung tustel saya tujukan ke atas,” kata Hasjmy.

Petugas perempuan itu kemudian menanyakan kepada para wisatawan apakah ada buah-buahan yang mereka bawa dari negara asalnya atau Yordania. Kalau ada, semuanya akan disita. Buah-buahan dari luar dilarang masuk Israel. “Takut tidak laku buah-buahan hasil pertanian mereka sendiri,” ejek Hasjmy.

Lolos dari pemeriksaan petugas, Hasjmy dan Mulya berangkat ke Kota Yerussalem dengan sebuah mobil mewah. Sang sopir adalah Mahmod Bahalwan, seorang pemuda Palestina yang bekerja sebagai pemandu wisata sekaligus penerjemah. Mahmod fasih berbahasa Arab, Ibrani/Israel, Inggris, dan Prancis.

Di Yerussalem, Hasjmy menginap di The American Colony Hotel Jerussalem. Hotel mewah ini sudah dahulunya dibangun oleh Keluarga Spafford, sebuah keluarga Kristen taat “yang meninggalkan kota asal mereka di Chicago pada tahun 1881 untuk menemukan kedamaian di Kota Suci Yerusalem”.

Pada hari terakhir puasa, Hasjmy ingin berbuka sekaligus merayakan malam Lebaran dengan masakan-masakan sedap. Bersama Mahmod, Hasjmy dan Mulya berbuka puasa di sebuah restoran mewah milik seorang Muslim Palestina. Restorannya berada di lantai empat sebuah gedung. Cuma dengan membayar US$37, Hasjmy, Mulya, dan Mahmod bisa menikmati beraneka macam juadah khas Arab yang kebanyakan berasa manis.

“Kopi susu arabika, nasi baguli campur daging kambing Arab, dan macam-macam lainnya. Sungguh puas sekali. Hatta timbul keinginan untuk berbuka lagi di restoran tersebut bila Allah memberi kesempatan,” harap Hasjmy.

Jam lima pagi, Hasjmy, Mulya, dan Mahmod berangkat ke Masjidil al-Aqsa dengan niat melaksanakan Salat Idulfitri. Biarpun datang pagi-pagi sekali, sayangnya mereka tetap tak kebagian tempat di dalam masjid. Ada ribuan orang datang lebih awal. Mau tak mau mereka bersembahyang di luar masjid, di depan pintu masuk utama. 

Dari kejauhan di luar masjid, Hasjmy bisa melihat sosok khatib yang berapi-api di sepanjang khotbahnya. Sang khatib berseru, semua umat Islam wajib memerangi penjajahan terhadap bumi Palestina. “Tentara Israel yang berjaga-jaga di sudut-sudut tertentu ketawa-ketawa saja mendengar khutbah yang hebat itu,” catat Hasjmy. [**]

Penulis:  

Bisma Yadhi Putra adalah peneliti sejarah asal Kota Lhokseumawe, Aceh. Selama ini rajin menulis artikel sejarah di beberapa media lokal. Menyimpan banyak arsip baik yang sudah maupun belum pernah terungkap ke publik. Memiliki minat yang tinggi dalam menulis ulasan-ulasan sejarah yang belum diketahui banyak orang, dengan memanfaatkan arsip atau dokumen langka yang belum terekspose di artikel, jurnal, atau buku sejarah yang telah terbit.

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda