Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Terima Kasih, Ferry, untuk Perjalanan yang Membuat Sumatra Menangis

Terima Kasih, Ferry, untuk Perjalanan yang Membuat Sumatra Menangis

Minggu, 28 Desember 2025 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Zulfikar Akbar

DIALEKSIS.COM | Kolom - Ia sudah mengakhiri perjalanannya di Sumatra, dari pelosok Tapanuli hingga pelosok Aceh. Berakhir setelah sebulan mencurahkan pikiran, waktu, tenaga, dan biaya. Dia sudah bikin Sumatra menangis

Sumatra menangis karena memang tak banyak nama setotal anak muda ini. Masih berusia 34. Bahkan berulang tahun tanpa lilin dan pesta, tetapi di tengah lumpur, jalan-jalan tanpa lampu, dipenuhi debu. Kecuali pikiran dan hatinya, tetap terang, jernih, dan mampu berpikir cepat dan bekerja cepat. 

Ia menembus medan-medan berat hingga ulang tahunnya sendiri tak lagi ia ingat. 

Semestinya, dua pekan lalu ia berulang tahun, 16 Desember. Namun, dengan rambutnya yang berantakan itu, hari itu ia justru lebih sibuk menyusun rapi cara membantu korban banjir di Aceh Tengah. Hasil tani mereka bisa dibawa keluar Aceh, dijual, dan penyintas bisa tetap punya uang, hasil keringat mereka tak sia-sia. 

Ia membantu dengan cara agar korban-korban itu tetap merasa dihargai. Seolah ingin menegaskan sekaligus, "Lihat, orang Aceh, orang Gayo, bukan orang yang hanya menunggu bantuan. Mereka juga tetap mengusahakan bangkit dengan tangan dan kaki sendiri." 

Ketika hari ulang tahunnya, ia masih mencurahkan pikirannya agar beras-beras dari Karawang bisa datang ke dapur pengungsi Aceh Tengah dan Bener Meriah. Pulang sebentar ke Jakarta, lalu balik lagi ke sana dengan bantuan tidak kurang dari 10 ton. 

Tenaganya luar biasa besar meskipun sebenarnya ia punya masalah fisik serius. Penebalan dinding jantung atau "hypertrophy cardiovascular" yang bisa bikin dia meninggal dunia mendadak. Itulah masalah serius menderanya. Bukan karena gaya hidup tidak sehat, tapi karena genetik semata. 

Agaknya, kondisi fisiknya itu juga menjadi pelecut baginya. Daripada galau dengan urusan penyakit, ia justru memilih melarutkan diri memulihkan banyak orang. Ia memulihkan kesadaran banyak anak muda. Terkini, berperan penting memulihkan para korban bencana. 

Ia memulihkan kesadaran banyak orang, bahwa di tengah negeri penuh masalah, di situlah tantangan untuk menjadi bagian yang membantu menyelesaikan masalah. Di tengah pemerintah sibuk membela diri, ia tetap fokus membela korban-korban banjir dengan pikiran dan tangannya. 

Ketika ia dihantam pejabat hingga wakil rakyat bahwa bantuannya tidak ada apa-apanya, ia diremehkan, Ferry tetap memberikan senyumnya. Tak membela diri. Tidak membalas meremehkan. Bahkan ia mengakui bantuannya memang tak seberapa, meski sudah menggalang dana dan membagikannya kepada korban bencana hingga Rp 10 miliar, lebih. 

Persis seperti gambaran Steve Maraboli di buku "Life, the Truth, and Being Free" yang menggambarkan kekuatan sesungguhnya tentang manusia. "How would your life be different if…You stopped allowing other people to dilute or poison your day with their words or opinions? Let today be the day…You stand strong in the truth of your beauty and journey through your day without attachment to the validation of others." Ringkasnya, jangan berhenti hanya karena opini orang. Seseorang hanya kuat jika tidak berhenti melangkah cuma karena merisaukan validasi, atau tergantung opini orang. 

Agaknya ia pun mendalami sekali pesan tokoh dikaguminya sebagai seorang Stoikis, Marcus Aurelius. "Everything we hear is an opinion, not a fact. Everything we see is a perspective, not the truth." Apa pun yang terdengar, itu hanya opini, bukan fakta. Apa pun yang dilihat semua orang adalah sudut pandang, bukan kebenaran. Ia fokus membetulkan cara melihat dan mengisi hidup saja. 

Ferry tak menggubris opini buruk tentangnya. Hanya berusaha fokus saja dengan apa yang bisa dikerjakan. Bahkan kalaupun rambutnya tak pernah rapi, ia mampu menjaga pikiran dan kerja-kerjanya tetap rapi. 

Ia sama sekali tak membesarkan diri. Tidak berbesar kepala. Sama sekali tidak berlagak sebagai pesohor. Meski namanya kini dibicarakan di mana-mana. Ia menempuh jalanan berlumpur dan berdebu, dengan motor bebek, mobil pick up yang biasa digunakan warga untuk mengangkut sapi hingga hasil tani. Bahkan badan dan pakaiannya pun dibiarkan dekil, tak ada bedanya dengan korban banjir di sana. 

Begitulah ia mengisi hidupnya, ulang tahunnya, dan fakta bahwa dengan kelainan jantung bawaan, belum tentu ia bisa melanjutkan hidup hingga 34 tahun lagi. Tapi, saya sendiri masih berharap, di antara nama yang patut didoakan panjang umur di negeri ini adalah Ferry Irwandi. Jika tidak, sulit berharap negara ini panjang umur. Sebab, dari banyak nama yang berumur panjang selama ini, justru lebih sering mematikan harapan, semangat, hingga keyakinan.

Putri kecilnya, Kirana Kala Senja, patut bisa melihat ayahnya bisa hidup lebih lama. Seperti juga anak-anak lainnya, supaya bisa melihat bahwa orang yang mengabdi untuk rakyat itu memang ada. Meskipun ia bukan pejabat. Juga, menjadi contoh hidup, yang bisa dibincangkan anak-anak itu, dan bisa mereka contoh, hingga suatu hari nanti negeri ini tersisa anak-anak lebih baik. Bukan lagi orang-orang tua yang gagal menemukan alasan kenapa Tuhan memberinya umur panjang.*

Penulis: Zulfikar Akbar, Kolumnis. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI